Pandangan Keluarga Gus Dur Mengenai Gelar Pahlawan Nasional
Alissa Qotrunnada Wahid, aktivis kemanusiaan dan Direktur Nasional Jaringan Gusdurian, memberikan pandangan yang dalam mengenai gelar Pahlawan Nasional yang diberikan kepada ayahnya, Presiden keempat Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. Bagi Alissa dan keluarga besar Gus Dur, gelar tersebut bukanlah hal utama, melainkan sebuah penghargaan yang diberikan oleh negara sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan seseorang.
“Sebetulnya begini. Kalau bagi kami, Gelar Pahlawan Nasional itu urusan negara, bukan urusan keluarga,” ujar Alissa saat sesi wawancara khusus dengan Tribunnews. Ia menjelaskan bahwa gelar formal tersebut tidak mengubah cara keluarga memandang mendiang ayahnya. Bagi mereka, yang paling penting adalah bagaimana Gus Dur berada di hati rakyat Indonesia.
Bagi Alissa dan keluarga, gelar yang sesungguhnya justru datang dari cinta dan penghargaan rakyat Indonesia sendiri. Keberadaan Gus Dur sebagai pahlawan di hati sanubari rakyat dinilai sebagai tujuan dan pencapaian yang paling utama.
“Pahlawan di hati rakyat itulah yang menjadi tujuan utama kami, karena itu menunjukkan fithrah-nya beliau itu memang dirasakan oleh rakyat,” tuturnya.
Alissa juga menekankan bahwa keluarga sama sekali tidak pernah membebankan ekspektasi atau meminta gelar tersebut. Keluarga melihatnya sebagai bentuk apresiasi yang menjadi wewenang negara untuk diberikan kepada putra-putri terbaik bangsa.
“Jadi, kami tidak pernah berekspektasi, tidak pernah mendandarkan, tidak pernah berharap. Itu adalah ruang negara untuk mengapresiasi putra-putri terbaiknya. Jadi, kami melihatnya seperti itu. Jadi, ya sudah,” tambah Alissa.
Perjuangan Gus Dur dalam Berbagai Bidang
Perjuangan Gus Dur sebetulnya bukan hanya politik. Atau lebih tepatnya, politiknya Gus Dur adalah politik kerakyatan, bukan politik kekuasaan. Di satu sisi, ia memiliki peran penting dalam mengangkat kehidupan pesantren dan pendidikan Islam. Karena beliau adalah salah satu yang dianggap paling terdepan untuk membawa dunia pesantren menjadi lebih terbuka terhadap dunia luar, dan dunia luar juga lebih mengenal pesantren.
Ini merupakan kelanjutan dari perjuangan kakek dan ayahnya, yaitu Hadratusyekh Hasyim Asy’ari dan Kyai Wahid Hasyim. Dengan demikian, spektrum perjuangan Gus Dur atau fithrah-nya sangat luas.
Keteladanan Gus Dur dalam Toleransi
Gus Dur dikenal sebagai bapak toleransi. Menurut Alissa, keteladanan langsung yang paling kuat adalah bagaimana Gus Dur tidak pernah membedakan orang dari derajat sosialnya, latar belakang agamanya, atau latar belakang sukunya. Beliau selalu mengedepankan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.
Ia menceritakan suatu contoh, di mana Gus Dur pernah memperjuangkan nasib putra-putri dari keluarga Pangeran Jati dari Sunda Wiwitan. Hal-hal kecil seperti ini, menurut Alissa, sangat penting bagi Gus Dur karena ia selalu berusaha membawa nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan ke mana pun ia pergi.
Politik Kerakyatan dan Pengaruh pada Keluarga
Politik kerakyatan, bukan politik kekuasaan, adalah prinsip yang dipegang oleh Gus Dur. Bagi Alissa, hal ini juga terlihat dalam cara Gus Dur memperkenalkan keragaman kepada keluarga. Setiap hari, Gus Dur menemui tamu-tamunya tanpa membedakan siapa pun. Bahkan, dalam acara pernikahan atau walimah, beliau menyampaikan bahwa semua tamu adalah VIP.
Keluarga Gus Dur juga memiliki persahabatan yang sangat dalam dengan tokoh-tokoh seperti NU dan Muhammadiyah. Ini menunjukkan bahwa Gus Dur tidak pernah membatasi lingkaran pertemanannya.
Membentuk Karakter Anak-anak Gus Dur
Anak-anak Gus Dur dikenal vokal dan aktif dalam menyampaikan pendapat. Menurut Alissa, hal ini dipengaruhi oleh cara Gus Dur mengajarkan keberanian untuk berbicara dan menyampaikan pendapat sejak kecil. Beliau selalu mendengarkan pendapat anak-anaknya dan tidak pernah menyebutnya salah.
Gelar Pahlawan Nasional: Urusan Negara, Bukan Ekspektasi Keluarga
Meskipun gelar Pahlawan Nasional sempat diajukan beberapa kali, Alissa menegaskan bahwa bagi keluarga, gelar tersebut bukanlah hal yang menjadi permasalahan. “Bagi kami, bapak itu, Gus Dur, sudah menjadi pahlawan bagi rakyat, ya, itu sudah cukup,” ujarnya.
Gus Dur sejak awal tidak pernah mengejar gelar pahlawan. Ia bukan orang yang butuh panggung atau lampu sorot untuk dirinya sendiri. Banyak orang tidak setuju dengan pandangan-pandangan Gus Dur, tetapi tidak ada yang bisa menuduhnya menggunakan posisi-posisinya untuk kepentingan pribadi.


