Beranda Berita Anak Politisi PKS Cilegon Tewas, Ahli Forensik Sebut Dia Kelompok Rentan

Anak Politisi PKS Cilegon Tewas, Ahli Forensik Sebut Dia Kelompok Rentan

0
40

Dugaan Pelaku Tidak Menargetkan Anak Korban

Seorang pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, menyampaikan dugaan bahwa MAHM (9), anak dari Dewan Pakar PKS Kota Cilegon, Banten, bukanlah target utama dalam kejadian pembunuhan yang menimpanya. Ia mengungkapkan bahwa korban diduga hanya menjadi pengganti atau substitusi dari pelaku yang sebenarnya ingin menyerang pihak lain.

Reza menjelaskan bahwa kemungkinan besar pelaku ingin menargetkan orang tua korban. Namun, karena alasan tertentu, seperti ketidakmungkinan untuk menyerang secara langsung, pelaku memilih MAHM sebagai sasaran. Hal ini membuat korban menjadi objek pengganti dalam aksi kekerasan tersebut.

“Boleh jadi pelaku mengincar pihak lain yang punya keterkaitan dengan korban, misal orang tua korban,” ujar Reza, dikutip dari sebuah video YouTube KompasTV. Ia juga menilai bahwa motif dan perilaku pelaku mungkin tidak sejalan. “Boleh jadi orang yang menghabisi korban, tidak sungguh-sungguh menjadikan korban sebagai target aslinya.”

Alasan Korban Dianggap Sasaran Empuk

Menurut Reza, status korban sebagai anak-anak menjadi faktor utama dalam dugaan ini. Anak-anak dianggap sebagai kelompok rentan yang lemah dalam berbagai aspek, termasuk fisik, psikis, dan sosial. Hal ini membuat mereka lebih mudah menjadi sasaran kejahatan.

“Kenapa korban yang saat ini dijadikan sebagai substitusi? Karena hitung-hitungan di atas kertas, anak-anak memang termasuk dalam kelompok yang rentan menjadi korban kejahatan,” jelas Reza. Ia menambahkan bahwa korban mungkin sedang sendirian di rumah, sehingga pelaku bisa dengan mudah masuk dan melakukan aksinya.

Reza juga meyakini bahwa pelaku mungkin memiliki akses masuk ke dalam rumah korban. “Tentu harus (diketahui dari) pemeriksaan oleh pihak kepolisian (apakah pelaku orang dekat)” katanya. Ia membayangkan bahwa pelaku sudah mengenal kondisi rumah dan keluarga pemilik rumah tersebut.

Luka yang Mengakibatkan Kematian

Kasi Humas Polres Cilegon, AKP Sigit Darmawan, mengungkapkan bahwa MAHM tewas akibat 22 luka yang terdapat di tubuhnya. Luka-luka tersebut terdiri dari 19 luka tusukan dan tiga luka memar. Luka-luka ini ditemukan setelah dilakukan pemeriksaan di rumah sakit.

Akibat banyaknya luka tersebut, MAHM mengalami pendarahan hebat yang menyebabkan kematian. Hingga saat ini, polisi masih mencari alat yang digunakan untuk menghabisi nyawa korban. “Untuk benda-benda tersebut belum ada, itu masih dicari, belum ditemukan,” kata Sigit.

Selain itu, ia menyatakan bahwa tidak ada barang berharga yang hilang dari kediaman Haji Maman di kawasan Ciwaduk, Kota Cilegon. Hal ini bertentangan dengan narasi yang beredar bahwa kasus ini merupakan perampokan disertai pembunuhan.

Pemeriksaan Saksi dan Penanganan TKP

Hingga saat ini, polisi telah memeriksa delapan saksi dalam kasus tewasnya MAHM. Saksi-saksi tersebut terdiri dari pihak keluarga dan warga setempat. “Untuk jumlah saksi sementara yang sudah kita lakukan pemeriksaan itu ada delapan orang,” ujar Kasat Reskrim Polres Cilegon, AKP Yoga Tama.

Selain memeriksa saksi, polisi juga telah mengamankan tempat kejadian perkara (TKP) dan melakukan penanganan awal, termasuk visum terhadap korban.

Kronologi Penemuan Korban

Maman Suherman pertama kali mengetahui MAHM terluka ketika mendapat telepon dari anak keduanya, D (8), pada Selasa (16/12/2025). D menelepon sembari berteriak meminta bantuan. Saat kejadian, Haji Maman sedang bekerja dan langsung pulang ke rumah.

Setelah tiba di rumah, Haji Maman menemukan MAHM dalam kondisi bersimbah darah di dalam kamarnya. Meski korban sempat dibawa ke rumah sakit untuk diberi pertolongan medis, nyawa MAHM tidak selamat.

“Korban langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis,” bunyi keterangan dari Polsek Cilegon, Polres Cilegon.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini