Beranda Berita Banjir Kota Malang Disebabkan Sampah yang Tumpat

Banjir Kota Malang Disebabkan Sampah yang Tumpat

0
188



Banjir yang terjadi di Kota Malang pada Kamis (4/12) lalu menimbulkan kekhawatiran besar bagi warga setempat. Ternyata, penyebab utama banjir tersebut adalah sampah yang menyumbat saluran air. Akibatnya, air hujan tidak dapat mengalir dengan lancar, sehingga memicu genangan di berbagai titik.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyampaikan bahwa sebanyak 73 rumah di 39 titik terendam banjir. Beberapa lokasi yang terdampak antara lain Jalan Sidomulyo Gang III Kelurahan Purwodadi, Blimbing, serta Jalan Kedawung, Kelurahan Tulusrejo, Lowokwaru. Ia menjelaskan bahwa area Sidomulyo Gang III memiliki bentuk cekungan, sehingga air dari Jalan Ahmad Yani mengalir ke sana. Namun, saluran air dan resapan tidak berfungsi dengan baik, karena bak kontrol sudah tertutup bangunan warga.

“Air terus mendesak mencari jalannya, akhirnya menjebol rumah warga. Menggenangi 19 rumah di sini (Sidomulyo),” ujar Wahyu saat mengecek kondisi di Sidomulyo, Jumat (5/12). Ia berjanji untuk berkomunikasi dengan Pemprov Jawa Timur agar drainase di Jalan A Yani diperbaiki. Sementara itu, kawasan Sidomulyo akan dibuatkan kembali bak kontrol untuk memantau saluran air.

Untuk sementara, pihak pemkot akan memasang kantong pasir sebagai tanggul dan melakukan normalisasi sungai. Karena lokasi tersebut merupakan gang kecil, kerja bakti bersama warga juga dilakukan.

Berkurangnya fungsi saluran air tidak hanya terjadi di Sidomulyo. Di Jalan Kedawung, misalnya, bangunan liar membuat saluran air menyempit. Sampah rumah tangga juga menyumbat saluran yang sudah sempit itu. “Kami membutuhkan kesadaran warga juga. Saat ini sedang kami normalisasi, diharapkan tidak membuang sampah sembarangan lagi,” ucap Wahyu.

Selain itu, faktor lain penyebab banjir adalah bozem di Kelurahan Tunggulwulung yang tidak mampu menampung luapan air, serta pengerjaan drainase di Jalan Soekarno-Hatta (Soehat) yang belum tuntas. Jika pembangunan drainase Soehat rampung, Wahyu optimistis genangan bisa berkurang. Tak hanya di Jalan Kedawung, tetapi juga di Jalan Sudimoro.

Di Jalan Letjen Sutoyo juga akan teratasi. Pembangunan drainase telah direncanakan dan saat ini dalam tahap lelang.

Rutin Keruk Saluran, Tapi Masih Banjir

Koordinator Satgas Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang Hari Widodo juga menyebut banjir disebabkan oleh saluran air yang tidak berfungsi maksimal. Contohnya, aliran sungai dekat RW 4 Purwantoro yang rutin dinormalisasi, namun sedimen cepat menumpuk. Sehingga di sekitar lokasi rutin dikeruk untuk menghilangkan sedimen, sampah, maupun material lain yang menyumbat aliran air.

Selain penumpukan material, ada juga saluran yang kondisinya semakin menyempit dan tertutup oleh bangunan-bangunan di sekitarnya. Salah satunya ada di wilayah RW 1 Kelurahan Tulusrejo, Lowokwaru. “Kami mendapati beberapa pelanggaran bangunan yang berdampak terhadap tertutupnya saluran,” terang Heri.

Sebagai penanganan sementara, pemkot menerjunkan sejumlah personel. Di antaranya 10 personel dibantu 1 alat berat dari DPUPRPKP Kota Malang. Mereka melakukan normalisasi di aliran sungai di Purwantoro. Untuk kecamatan lain, pihaknya masih menunggu hasil koordinasi. Sebab pasca-banjir, diketahui cukup banyak kawasan yang terdampak.

“Seperti di sekitar Jalan Letjen Sutoyo dan lainnya juga urgent untuk segera ditangani,” sambung Hari.

Agus Setiabudi, salah seorang warga, menyampaikan bahwa jika dihitung sejak November lalu, ini kali ketiga kawasan rumahnya di Purwantoro dilanda banjir. Yang paling parah memang Kamis sore lalu. “Biasanya hanya setinggi lutut orang dewasa. Kamis lalu (4/12) sampai setinggi leher,” ungkap lelaki yang tinggal di sana selama 30 tahun itu.

Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang Prayitno menjelaskan, wilayah terdampak banjir paling parah Kamis lalu (4/12) adalah Kecamatan Blimbing. Ada dua kelurahan yang terendam banjir cukup parah, yakni Purwodadi dan Sidomulyo. “Di Purwodadi 43 rumah terendam banjir dan Sidomulyo ada 19 rumah. Tak hanya terendam, di Sidomulyo juga ada dua rumah yang temboknya jebol,” tuturnya.

Sedangkan satu kelurahan lain yang juga terendam banjir adalah Tulusrejo, tepatnya di Jalan Kedawung. Di wilayah itu ada 11 rumah yang terendam dengan satu rumah paling parah, di mana ketinggian air mencapai 160 cm. BPBD pun mengirim personel dan perahu karet untuk mengevakuasi penghuni rumah tersebut ke lokasi yang lebih aman.

“Di Sukun juga ada yang terdampak banjir. Dari pemantauan di kawasan Jalan Bukit Barisan dan Jalan Terusan Sigura-gura,” papar Prayitno. Ditanya mengenai kerugian material, BPBD masih melakukan pendataan. Nantinya pendataan dilakukan secara detail tentang barang apa saja yang hanyut terbawa air.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini