Kehidupan Mawarni, Janda dengan Empat Anak Yatim di Aceh Singkil
Mawarni adalah seorang ibu tunggal yang tinggal di gubuk reyot berukuran 4×4 meter di Desa Tanah Bara, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil. Sejak suaminya meninggal dua tahun lalu, ia harus mengurus dan membesarkan empat anaknya sendirian. Kondisi kehidupan mereka sangat sulit, namun semangat Mawarni untuk memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya terus bertahan.
Rumah kecil tersebut memiliki fungsi ganda. Ruangan sempit itu digunakan sebagai tempat tidur, ruang keluarga, dan bahkan dapur. Tidak ada ruang khusus untuk memasak atau menyimpan bahan makanan. Meskipun begitu, Mawarni tetap berusaha menjaga kebersihan dan kenyamanan rumah agar anak-anaknya merasa aman dan nyaman.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya, Mawarni bekerja serabutan. Ia melakukan berbagai pekerjaan sambilan seperti mencuci pakaian, menjual makanan ringan, atau membantu warga sekitar dalam pekerjaan rumah tangga. Setiap hari, ia berjuang keras demi satu tujuan: memberi makan anak-anaknya.
Kondisi kehidupan Mawarni menarik perhatian banyak orang. Salah satunya adalah Gerakan Relawan Rumah Dhuafa (Garda) Indonesia. Mereka menyatakan komitmennya untuk membangun rumah layak huni bagi Mawarni dan empat anak yatimnya. Pembangunan rumah ini menjadi prioritas utama bagi Garda Indonesia.
Surat Hibah Tanah dari Keluarga Mendiang Suami
Pembangunan rumah Mawarni tidak bisa dilakukan tanpa adanya surat hibah tanah. Pihak keluarga mendiang suami Mawarni telah menyiapkan surat hibah sebidang tanah untuk keperluan pembangunan rumah. Surat hibah tersebut diserahkan oleh Tianna, ibu dari mendiang suami Mawarni.
“Kami berharap Garda Indonesia bersedia membangun rumah layak huni untuk Mawarni dan anak-anaknya, kami sudah siapkan surat hibah sebidang tanah untuk keperluan tersebut,” ujar Tianna kepada relawan Garda Indonesia saat peninjauan lokasi.
Surat hibah ini menjadi langkah penting dalam proses pembangunan rumah. Dengan adanya tanah yang dapat digunakan, Garda Indonesia dapat melanjutkan rencana pembangunan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi Mawarni serta anak-anaknya.
Prioritas Utama Garda Indonesia
Darwis, ST, penggerak utama Garda Indonesia Kabupaten Aceh Singkil, menyatakan bahwa pembangunan rumah Mawarni telah ditetapkan sebagai prioritas utama. “Pembangunan rumah Mawarni sudah ditetapkan menjadi prioritas Garda Indonesia,” ujarnya pada Kamis (25/12/2025).
Menurut Darwis, keputusan ini diambil setelah melihat kondisi yang sangat memprihatinkan dari Mawarni dan anak-anaknya. “Kami ingin memberikan dukungan nyata kepada dhuafa dan anak yatim yang membutuhkan bantuan,” tambahnya.
Program Donasi Rp 10.000 Per Bulan
Inisiator Garda Indonesia, Aduwina Pakeh, menyambut baik usulan dari tim lapangan. Ia mengaku tersentuh melihat bagaimana empat orang anak harus tumbuh besar dalam kondisi hunian yang sangat jauh dari standar kelayakan.
“Sangat sedih melihat kondisi Ibu Mawarni dan empat anaknya,” ujar Aduwina Pakeh.
Terkait hal tersebut, pihaknya bersepakat untuk membangunkan rumah melalui program donasi sebesar Rp 10.000 per bulan. “Kami menetapkan rumah tersebut sebagai #R007 atau rumah ketujuh yang dibangun oleh komunitas ini,” jelas Aduwina.
Pembangunan rumah #R007 ini akan didanai oleh kekuatan kolektif gerakan berbagi. Aduwina mengajak penggerak dan donatur tetap, khususnya di wilayah Aceh Singkil dan Kota Subulussalam, untuk kembali aktif mensosialisasikan program ini agar lebih banyak masyarakat yang terlibat.
“Semakin banyak yang bergabung, semakin banyak duafa dan anak yatim yang bisa kita bantu memiliki hunian layak,” demikian harapan Aduwina Pakeh.



