ESDM Umumkan Strategi Capai 610.000 Barel pada 2026

0
62



Pemerintah Indonesia terus berupaya untuk meningkatkan produksi minyak nasional agar mencapai target yang telah ditetapkan. Salah satu langkah strategis yang diambil oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) adalah mempercepat peningkatan lifting minyak hingga mencapai 610.000 barel per hari (bph) pada tahun 2026. Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menyampaikan bahwa pihaknya optimis dapat mencapai target tersebut.

Menurut Yuliot, realisasi lifting minyak pada November 2025 sudah mencapai level 610.000 bph. Hal ini menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan sejak konsolidasi pada 2024 memberikan hasil signifikan. Pada tahun 2024, tingkat produksi minyak mencapai sekitar 580.000 bph, sehingga terjadi peningkatan sebesar 25.000 bph pada tahun 2025. Penambahan ini menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan energi nasional.

Namun, meskipun ada kemajuan, Yuliot mengatakan bahwa masih ada beberapa tantangan yang harus diatasi agar target lifting minyak pada 2026 bisa tercapai. Untuk itu, pihaknya bersama SKK Migas akan mengambil beberapa langkah strategis. Berikut beberapa strategi utama yang direncanakan:

  • Penyempurnaan regulasi

    Pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap regulasi yang berlaku dalam pemenuhan perizinan bagi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS). Yuliot menegaskan bahwa pihaknya akan bertanya langsung kepada KKKS terkait masalah-masalah yang mereka hadapi, baik dari sisi perizinan, pengadaan lahan, regulasi tingkat komponen dalam negeri (TKDN), maupun ekosistem yang ada di dalam negeri. Hasil diskusi ini akan menjadi rekomendasi bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan.

  • Pengembangan infrastruktur dasar

    Pemerintah akan menyediakan infrastruktur dasar yang dibutuhkan oleh KKKS dalam rangka produksi maupun eksplorasi minyak. Infrastruktur ini menjadi fondasi penting untuk mendukung operasional dan keberlanjutan produksi minyak.

  • Peningkatan ekosistem ketersediaan peralatan

    Yuliot menjelaskan bahwa saat ini TKDN di sektor migas hanya mencapai 40%. Pihaknya ingin meningkatkan capaian tersebut serta memudahkan investor untuk mengakses peralatan dalam negeri. Dengan demikian, industri migas akan semakin mandiri dan efisien.

Yuliot menekankan bahwa upaya-upaya ini tidak hanya bertujuan untuk mencapai target lifting minyak pada 2026, tetapi juga sebagai langkah jangka panjang untuk mencapai target lebih besar, yaitu 900.000 hingga 1 juta barel per hari pada tahun 2029. Untuk mencapai target tersebut, lifting minyak harus meningkat sebesar 100.000 bph setiap tahunnya.

Dia menambahkan bahwa pencapaian target ini tidak bisa dilakukan sendirian. Perlu adanya kolaborasi antara SKK Migas, pemerintah, dan seluruh stakeholder yang terlibat dalam sektor migas. Yuliot menegaskan bahwa tanggung jawab peningkatan produksi tidak bisa dilepaskan dari menteri ESDM, karena diperlukan konsolidasi dan koordinasi yang kuat.



Dengan strategi-strategi yang dirancang, pemerintah berharap dapat mencapai target lifting minyak yang lebih tinggi dalam beberapa tahun ke depan. Ini menjadi langkah penting dalam menjaga ketahanan energi nasional dan memastikan pasokan minyak yang stabil untuk kebutuhan masyarakat dan pembangunan negara.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini