Beranda Berita Hari Pohon Sedunia, Puluhan Pohon Rindang di Taman Kota Sumenep Ditebang

Hari Pohon Sedunia, Puluhan Pohon Rindang di Taman Kota Sumenep Ditebang

0
73



SUMENEP, Reformasi.co.id

Pada peringatan Hari Pohon Sedunia yang jatuh pada 21 November 2025, terjadi momen yang sangat menyedihkan. Sejumlah pohon besar dan rindang di area Taman Kota Sumenep, Jawa Timur, ditumbangkan. Peristiwa ini berlangsung di sisi selatan taman, tepat di depan Komando Distrik Militer (Kodim) 0827/Sumenep.

Berdasarkan pantauan, penebangan dilakukan dengan cara yang tidak terencana. Batang pohon yang sudah berusia sekitar 40 tahun tampak berserakan dan sebagian menutupi badan jalan. Akibatnya, kawasan taman yang sebelumnya teduh dan nyaman kini terlihat gundul serta kehilangan kesan asri yang dulu menjadi daya tarik utamanya.

Tidak hanya di area taman, penebangan juga terjadi sepanjang sisi selatan Jalan Diponegoro. Di lokasi tersebut, area yang ditebang tampak gundul, sementara di sekitar sisa batang pohon terlihat tumpukan batu, tanah, dan kolong semen. Hal ini menunjukkan bahwa proses penebangan dilakukan secara mendadak dan tanpa perencanaan yang matang.

Seorang pegiat lingkungan, Fadel Abu Aufa, menyampaikan kekecewaannya terhadap tindakan tersebut. Ia mengatakan bahwa melihat kondisi di lapangan, sangat menyedihkan. Menurutnya, pohon-pohon yang ditebang adalah jenis angsanah atau sonokeling. Banyak warga yang ia temui juga menyatakan kekecewaan mereka terhadap penebangan ini.

Fadel menjelaskan bahwa pohon-pohon besar tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh hingga mencapai ukuran saat ini. Ia menilai, penebangan ini tidak sejalan dengan urgensi perubahan iklim. “Sekarang kan terjadi pemanasan global, harus banyak menanam pohon. Kenapa pohon yang sudah rindang malah ditebang,” keluhnya.

Menurut informasi yang diperolehnya, pohon-pohon yang ditebang akan diganti dengan pohon tabebuya. Namun, Fadel mempertanyakan pilihan lokasi penanaman penggantinya. Ia menanyakan mengapa penebangan dilakukan di taman kota, bukan di area lain yang khusus diperuntukkan untuk pohon tabebuya.

Berdasarkan hasil penelusuran melalui citra satelit, puluhan pohon angsanah yang ditebang itu sudah ada sejak 1984 dan diperkirakan berusia lebih dari 40 tahun. Fadel menilai, hilangnya pepohonan tersebut akan berdampak pada kenyamanan warga. “Keluarga yang biasa berwisata dan menikmati rindangnya pohon tidak akan bisa lagi,” ujar dia.

Ia juga menyampaikan bahwa pohon tabebuya belum terbukti memberikan keteduhan. Hingga kini belum ada tabebuya di pinggir jalan di Sumenep yang sudah rindang dan menyejukkan. Selain itu, setahu Fadel, beberapa jenis tabebuya rentan terhadap rayap, sehingga berisiko tumbang ketika besar.

Meski tabebuya dikenal indah saat berbunga, Fadel menilai nilai ekologisnya masih belum sebanding. “Mungkin Sumenep latah seperti kota-kota lain, seperti di Surabaya. Jika memang ingin membuat momen indahnya pohon tabebuya, kenapa kok di taman kota,” keluhnya.

Reformasi.co.id telah berusaha menghubungi Kepala Pelaksana Harian (PLH) Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumenep untuk meminta penjelasan terkait penebangan pohon tersebut. Namun hingga berita ini ditayangkan, Kepala PLH Dinas Lingkungan Hidup maupun koordinator taman kota belum memberikan respons.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini