Beranda Ekonomi Inilah Bedanya Saham Syariah dan Konvensional, Kenali Juga Daftar Saham Syariah Terbaik...

Inilah Bedanya Saham Syariah dan Konvensional, Kenali Juga Daftar Saham Syariah Terbaik 2025

0
380

Jakarta, Reformasi.co.id – Pasar modal Indonesia terus bergerak dinamis. Dari hari ke hari, semakin banyak masyarakat yang mulai tertarik menanamkan uangnya di bursa. Jika dulu saham dianggap hanya untuk kalangan tertentu, kini siapapun bisa memiliki saham hanya dengan bermodal ponsel pintar dan aplikasi trading.

Menariknya, tren yang paling menonjol dalam beberapa tahun terakhir adalah meningkatnya minat terhadap saham syariah. Bukan hanya investor yang mengedepankan prinsip agama, tetapi juga mereka yang merasa saham syariah lebih aman, lebih bersih, dan lebih transparan.

Lalu apa sebenarnya saham syariah itu? Apa bedanya dengan saham konvensional? Dan saham syariah mana saja yang layak diperhatikan di tahun 2025? Mari kita bahas bersama.

Mengenal Saham Syariah

Secara sederhana, saham syariah adalah saham dari perusahaan yang menjalankan bisnis sesuai dengan prinsip syariah Islam. Artinya, perusahaan tersebut tidak boleh bergerak di bidang yang dilarang, seperti perjudian, produksi minuman keras, pornografi, hingga usaha berbasis riba.

Selain itu, perusahaan yang masuk kategori syariah juga dibatasi dalam hal struktur keuangannya. Misalnya, total utang berbasis bunga tidak boleh terlalu besar dibandingkan total aset. Bahkan, jika perusahaan memiliki pendapatan dari hal-hal non-halal, porsinya harus kecil dan tidak boleh mendominasi.

Di Indonesia, saham syariah sudah difasilitasi secara resmi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Daftar Efek Syariah (DES). Dua kali dalam setahun, saham-saham yang masuk DES diperbarui. Artinya, ada proses seleksi ketat agar saham yang disebut syariah benar-benar memenuhi kriteria.

Perbedaan Saham Syariah dengan Konvensional

Bagi investor pemula, mungkin muncul pertanyaan: apakah saham syariah berbeda jauh dengan saham konvensional?

Jawabannya: iya, tetapi perbedaannya lebih kepada kriteria dan pengawasan.

  • Dari sisi bisnis, saham konvensional bebas memilih sektor apapun, sementara saham syariah hanya terbatas pada sektor halal.
  • Dari sisi keuangan, saham konvensional bisa memiliki utang besar, sementara saham syariah dibatasi agar tidak terlalu bergantung pada pinjaman berbunga.
  • Dari sisi regulasi, saham konvensional hanya mengikuti aturan bursa, sementara saham syariah juga diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah.

Dengan begitu, investor saham syariah tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga mencari ketenangan karena investasinya dianggap lebih sesuai dengan nilai-nilai etis.

Indeks Saham Syariah di BEI

Untuk memudahkan investor, BEI menyediakan beberapa indeks khusus saham syariah.

  • ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia), berisi seluruh saham yang masuk Daftar Efek Syariah.
  • JII (Jakarta Islamic Index), hanya berisi 30 saham syariah paling likuid.
  • JII70, memperluas cakupan dengan 70 saham syariah paling aktif diperdagangkan.
  • IDX-MES BUMN 17, kumpulan saham syariah dari BUMN yang memiliki fundamental kuat.
  • IDX Sharia Growth, fokus pada saham syariah yang mencatat pertumbuhan keuangan positif.

Melalui indeks-indeks ini, investor lebih mudah memantau pergerakan saham syariah sekaligus menjadikannya acuan dalam berinvestasi.

Saham Syariah yang Menjadi Sorotan di 2025

Tahun 2025 menjadi momen penting karena saham syariah semakin mendominasi perdagangan di bursa. Hingga Agustus 2025, kapitalisasi pasar saham syariah di ISSI sudah mencapai lebih dari Rp8.900 triliun, menyumbang hampir 80% dari total nilai perdagangan.

Dari sekian banyak pilihan, ada beberapa saham syariah yang menonjol karena kapitalisasi besar, likuiditas tinggi, serta konsistensi kinerja. Di antaranya:

  • DCI Indonesia (DCII), perusahaan data center yang kapitalisasinya sangat besar dan menjadi andalan di indeks syariah.
  • Chandra Asri Petrochemical (TPIA), salah satu emiten petrokimia terbesar dengan aktivitas perdagangan tinggi.
  • DSSA (Dian Swastatika Sentosa), perusahaan energi dengan bobot besar di indeks syariah.
  • Amman Mineral (AMMN), emiten tambang tembaga dan emas yang menjadi salah satu kontributor utama kapitalisasi syariah.
  • Bayan Resources (BYAN), perusahaan batu bara dengan performa solid di bursa.
  • Telkom Indonesia (TLKM), perusahaan telekomunikasi milik negara yang juga masuk kategori syariah.
  • Astra International (ASII), konglomerasi besar yang bergerak di berbagai sektor, mulai dari otomotif hingga agribisnis.

Selain nama-nama besar tersebut, ada juga saham-saham syariah berkapitalisasi menengah seperti BRMS, KPIG, CUAN, PANI, TOBA, yang sering menarik perhatian trader karena pergerakan harganya cukup agresif.

Tips Memilih Saham Syariah untuk Pemula

Memilih saham syariah terbaik bukan sekadar mengikuti popularitas. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan pegangan bagi pemula:

  1. Pilih saham yang likuid – Saham yang ramai diperdagangkan lebih mudah dijual kembali.
  2. Perhatikan fundamental – Cari perusahaan yang laba bersihnya stabil atau meningkat.
  3. Pahami sektornya – Sektor telekomunikasi, barang konsumsi, dan energi biasanya lebih stabil.
  4. Cek konsistensi di indeks – Saham yang selalu masuk ISSI atau JII cenderung lebih terjaga kualitasnya.
  5. Hindari euforia – Jangan asal ikut-ikutan pada saham syariah yang harganya melonjak cepat tanpa dasar kuat.

Penutup

Saham syariah kini bukan lagi sekadar “alternatif”, melainkan sudah menjadi arus utama pasar modal Indonesia. Dengan kapitalisasi yang besar, likuiditas tinggi, serta pengawasan yang ketat, saham syariah semakin dipercaya investor.

Perbedaan dengan saham konvensional terletak pada prinsip dan kriteria, namun pada praktiknya investor bisa mendapatkan pengalaman yang sama: membeli saham, memantau harga, hingga menikmati dividen.

Bagi pemula, memulai investasi lewat saham syariah bisa menjadi langkah bijak. Selain mengejar keuntungan, ada rasa aman karena dana ditempatkan pada perusahaan yang sesuai nilai syariah.

Dan pada akhirnya, baik syariah maupun konvensional, kunci sukses tetaplah sama: memahami bisnis perusahaan, bersabar, dan konsisten berinvestasi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini