Beranda News Kinerja PMI Manufaktur China Menurun Lagi, 6 Bulan Beruntun

Kinerja PMI Manufaktur China Menurun Lagi, 6 Bulan Beruntun

0
122

Penurunan Aktivitas Pabrik China Berlanjut Hingga Bulan Keenam

Aktivitas pabrik di Tiongkok terus menunjukkan penurunan hingga bulan keenam, dengan indeks manajer pembelian (PMI) sektor manufaktur tetap berada di level kontraksi. Angka ini menjadi yang terendah sejak 2019, mengindikasikan perlambatan ekonomi setelah pertumbuhan yang signifikan pada awal tahun.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional, PMI manufaktur berada di angka 49,8, meningkat sedikit dari 49,4 pada bulan sebelumnya. Meskipun demikian, angka tersebut masih berada di bawah ambang batas 50 yang menandai zona kontraksi. Sementara itu, indeks aktivitas non-manufaktur di sektor konstruksi dan jasa turun menjadi 50 dari 50,3 pada bulan sebelumnya.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa pelemahan ekonomi terus berlangsung hingga akhir kuartal III/2025. Dua bulan terburuk dalam tahun ini adalah Juli dan Agustus, yang mencerminkan tekanan terhadap sektor manufaktur.

Permintaan domestik yang lemah memberikan dampak negatif terhadap prospek pabrik-pabrik Tiongkok. Di sisi lain, ketidakpastian terkait tarif impor dari Amerika Serikat (AS) menciptakan risiko bagi eksportir. Lonjakan ekspor yang sebelumnya terjadi mulai mereda setelah perusahaan-perusahaan bergegas mengirimkan produk untuk menghindari tarif yang diberlakukan oleh mantan Presiden AS Donald Trump.

Banyak analis dan investor memperkirakan bahwa perlambatan ekonomi Tiongkok akan terus berlanjut pada bulan-bulan terakhir tahun 2025. Setelah mencatat pertumbuhan sebesar 5,3% pada paruh pertama tahun ini, kini tumbuh lebih lambat.

Pertanyaan utama saat ini adalah apakah pemerintah akan segera mengambil langkah-langkah stimulus untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Hal ini semakin penting karena Partai Komunis Tiongkok akan mengadakan pertemuan tertutup pada Oktober untuk meninjau rencana pembangunan lima tahun ke depan.

Meskipun hubungan antara Tiongkok dan AS tampak stabil setelah komunikasi antara kedua pemimpin negara tersebut, gencatan senjata tarif selama 90 hari antara kedua negara akan berakhir pada awal November. Presiden AS Donald Trump telah menyatakan rencananya untuk bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping selama KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik di Korea Selatan.

Selain itu, upaya Beijing untuk mengurangi surplus kapasitas dan persaingan yang berlebihan antar perusahaan juga memberikan tekanan pada perekonomian. Tekanan ini meningkat pada awal Juli dan mungkin telah berkontribusi pada penurunan produksi di berbagai sektor, termasuk baja. Ini menunjukkan bahwa tantangan ekonomi Tiongkok tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam sistem industri yang kompleks.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini