Kisah Awal Transjakarta yang Dianggap Remeh, Kini Jadi Solusi Jutaan Warga

0
326

Sejarah Transjakarta: Dari Penolakan Hingga Jadi Solusi Transportasi Jakarta

Transjakarta kini menjadi salah satu moda transportasi publik yang paling diminati oleh warga Jakarta dan sekitarnya. Setiap hari, ratusan ribu orang mempercayai layanan bus cepat berjalur khusus ini untuk bepergian dengan lebih efisien dan nyaman. Namun, perjalanan panjang dari awal hingga keberhasilan saat ini tidaklah mudah.

Pada awal 2000-an, kondisi transportasi di Jakarta jauh dari ideal. Kendaraan umum tidak teratur, polusi udara tinggi, dan kemacetan semakin parah. Sutiyoso, mantan Gubernur DKI Jakarta periode 1997–2007, mengungkapkan bahwa ia mulai berpikir untuk membenahi sistem transportasi Jakarta secara menyeluruh. Ia ingin menciptakan solusi jangka panjang yang bisa mengurangi dampak buruk dari pertumbuhan kendaraan bermotor.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Sutiyoso mengundang para pakar transportasi dari berbagai perguruan tinggi. Selain itu, ia juga melakukan studi banding ke beberapa kota dunia, termasuk Bogota, Kolombia, yang telah berhasil membangun sistem transportasi berbasis bus. Pengalaman tersebut memberinya banyak inspirasi dalam merancang sistem transportasi modern di Jakarta.

Dari Konsep Hingga Koridor Pertama

Hasil survei dan studi banding menunjukkan bahwa pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta tidak seimbang dengan kapasitas jalan. Oleh karena itu, diperlukan sistem transportasi publik terpadu yang mencakup MRT, busway, hingga jalur air. Namun, kendala besar muncul akibat minimnya investor.

Sutiyoso memilih Busway sebagai solusi karena dapat dijalankan dengan infrastruktur jalan yang sudah ada. Koridor pertama diputuskan di jalur Blok M–Kota, yang merupakan rute terpadat di Jakarta. Setelah melalui koordinasi dengan wali kota, akhirnya 15 Januari 2004, Transjakarta resmi beroperasi.

Dari Penolakan Jadi Kepercayaan

Proses pengembangan Busway ini tidak selalu mulus. Banyak penolakan dan desakan untuk membatalkan proyek muncul. Namun, Sutiyoso tetap bersikeras untuk melanjutkan. “Alhamdulillah, koridor 1 terbentuk. Ternyata masyarakat sangat antusias,” ujarnya.

Dalam sisa masa jabatannya hingga 2007, ia berhasil memperluas sistem menjadi tujuh koridor. Saat itu, jumlah bus dan pengemudi ditambah, serta jalur diperluas untuk melayani lebih banyak penumpang.

Manfaat dan Perkembangan

Menurut Sutiyoso, pembangunan Transjakarta bertujuan untuk mengatasi dua masalah sekaligus, yakni kemacetan dan polusi udara. Data saat itu menunjukkan bahwa 80 persen polusi udara Jakarta berasal dari kendaraan bermotor.

Kini, Transjakarta tidak hanya bertahan, tetapi berkembang pesat. Panjang rutenya bahkan tercatat sebagai yang terpanjang di dunia untuk sistem bus rapid transit. “Saya terharu. Dulu Transjakarta ditolak, sekarang malah jadi primadona. Bogotá saja kalah,” tuturnya.

Masa Depan Transjakarta

Sutiyoso menilai bahwa Transjakarta, MRT, dan LRT harus terus diperluas hingga ke wilayah penyangga seperti Depok dan Bogor. Ia juga menekankan pentingnya subsidi tiket untuk meningkatkan minat masyarakat beralih ke transportasi publik.

“Kalau orang banyak yang naik kendaraan umum modern, ribuan mobil bisa tinggal di rumah, jutaan liter BBM bisa dihemat, dan masyarakat bisa lebih produktif. Subsidi itu akan kembali secara tidak langsung,” tegas Sutiyoso.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini