Beranda Berita Komandan Prancis Akui Keunggulan Udara Pakistan vs India

Komandan Prancis Akui Keunggulan Udara Pakistan vs India

0
86

Peran dan Pengalaman Kapten Jacques Launay dalam Konferensi Indo-Pasifik



Di tengah perdebatan mengenai kejadian pertempuran udara antara India dan Pakistan pada Mei 2025, seorang Komandan Angkatan Laut Prancis, Kapten Jacques Launay, memberikan penjelasan mendetail tentang bagaimana jet tempur Rafale Angkatan Udara India (IAF) ditembak jatuh. Menurutnya, kekalahan tersebut bukan disebabkan oleh keunggulan teknologi pesawat J-10CE China, melainkan karena penanganan yang lebih baik dari pihak Pakistan.

Kapten Launay menjelaskan bahwa situasi di udara sangat rumit, dengan lebih dari 140 jet tempur saling berhadapan pada malam 6-7 Mei 2025. “Situasinya sangat rumit, melibatkan lebih dari 140 jet tempur. Sangat mudah untuk menembak jatuh pesawat karena banyaknya target yang tersedia bagi kedua belah pihak. Pakistan menangani situasi rumit itu lebih baik daripada musuhnya,” ujar Launay dalam sebuah pengarahan di pangkalan miliknya.

Dalam konferensi Indo-Pasifik yang dihadiri oleh 55 delegasi dari 32 negara, Launay menyampaikan pandangannya mengenai kinerja sistem radar Rafale selama pertempuran. Menurutnya, masalah tidak terletak pada teknologi, melainkan pada operasional. “Tidak ada yang salah dengan mesin perangnya, tetapi mesinnya tidak digunakan dengan benar,” katanya. Ia juga menegaskan bahwa Rafale mampu bersaing dan mengalahkan J-10C China dalam situasi pertempuran apa pun.

Ketimpangan Representasi Regional di Konferensi

Konferensi Indo-Pasifik ini menunjukkan ketimpangan yang mencolok dalam representasi regional. India mengirimkan beberapa delegasi, sementara Pakistan hanya diwakili oleh seorang jurnalis senior. Hal ini menjadi sorotan mengingat pertempuran udara antara dua negara tersebut menjadi topik utama analisis militer dalam konferensi tersebut.

Seorang delegasi India sempat menyampaikan pendapat bahwa laporan tersebut adalah “disinformasi Chinak” dan tidak ada Rafale yang ditembak jatuh. Namun, Launay mengabaikan pernyataan tersebut dan melanjutkan analisisnya. Dengan pengalaman menerbangkan Rafale selama 25 tahun, Launay memiliki wewenang untuk memberikan penjelasan yang mendalam.

Kehadiran Rafale di Pangkalan Militer Prancis

Pangkalan Udara Angkatan Laut Landivisiau, tempat Launay bertugas, memiliki lebih dari 40 Rafale berkemampuan nuklir. Selain itu, pangkalan ini juga dilengkapi dengan 94 kapal perang angkatan laut, 10 kapal selam nuklir, dan 190 pesawat. Launay telah berpartisipasi dalam berbagai operasi dari Timur Tengah hingga Afrika dan Eropa, serta baru-baru ini menjadi bagian dari uji coba rudal nuklir.

Angkatan bersenjata di seluruh dunia telah melakukan studi tentang pertempuran udara India-Pakistan untuk memperoleh wawasan tentang konflik di masa depan. Mereka melihat pertempuran ini sebagai kesempatan langka untuk mengkaji kinerja pilot, jet tempur, dan rudal udara-ke-udara dalam pertempuran aktif.

Minat India Terhadap Rafale AL

Meskipun pemerintah India belum pernah mengakui bahwa jet tempurnya ditembak jatuh oleh Pakistan, konfirmasi terus bermunculan dari berbagai belahan dunia. Saat ini, India tertarik untuk membeli versi Rafale AL (Angkatan Laut) yang mampu mendarat di kapal induk. Yang terpenting, Rafale AL dapat membawa rudal nuklir, dengan AL Prancis menjadi satu-satunya kekuatan di dunia yang dapat mengerahkan rudal nuklir dari kapal induk.

Para pilot India diperkirakan akan menerima pelatihan di Pangkalan Udara Angkatan Laut Landivisiau milik Kapten Launay. Fasilitas ini juga menjadi pusat pelatihan utama Prancis untuk penerbangan angkatan laut berkemampuan nuklir. Di sini, terdapat satu skuadron yang terdiri dari lebih dari 40 Rafale yang dipersenjatai dengan rudal nuklir.

Penekanan pada Keunggulan Rafale

Launay menekankan bahwa Rafale tetap menjadi salah satu pesawat tempur terbaik di dunia. Ia juga menyampaikan bahwa Prancis sedang mengembangkan versi F-4 yang lebih canggih. Selain itu, ia mengapresiasi kepemimpinan India dan Pakistan karena berhasil menghindari perang skala penuh dalam situasi yang sulit.

Pernyataan Pemimpin Negara Terkait Pertempuran Udara

Sebelumnya, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengklaim bahwa PAF berhasil menembak jatuh enam jet tempur India dalam perang pada Mei lalu. Sementara itu, Presiden AS Donald John Trump menyebut bahwa Pakistan menembak jatuh lima jet tempur India, termasuk tiga Rafale buatan Prancis, satu Sukhoi Su-30, dan Mirage 2000 dalam pertempuran udara.

Namun, sorotan dunia tertuju kepada jatuhnya Rafale oleh rudal PL-15 produksi China yang ditembakkan dari jet tempur Chengdu J-10C milik Pakistan. Ini menjadi pertama kalinya jet tempur Rafale jatuh dan kalah melawan jet produksi China, sehingga membuat saham Dassault Aviation anjlok.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini