Korban Tewas di Ponpes Sidoarjo, Santri Surabaya Terluka

0
153

Musala di Asrama Putra Ponpes Al Khoziny Buduran Jatuh, 25 Santri Terluka

Pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.00 WIB, sebuah musala yang terletak di asrama putra Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, mengalami ambruk. Kejadian ini terjadi saat sejumlah santri sedang melaksanakan salat asar berjemaah di bangunan tiga lantai yang masih dalam proses pembangunan. Akibatnya, puluhan santri terjebak di bawah reruntuhan bangunan tersebut.

Dari data yang diperoleh, sebanyak 25 santri asal Surabaya menjadi korban dari kejadian tragis ini. Beberapa di antaranya mengalami cedera ringan hingga berat, sementara satu orang meninggal dunia.

Korban Meninggal Dunia dan Pengungkapan Informasi

Ketua Tim Kerja BPBD Surabaya, Arif Sunandar, menjelaskan bahwa sembilan santri asal Surabaya dibawa ke Rumah Sakit Islam Siti Hajar Sidoarjo. Salah satu dari mereka, Maulana Affan Ibrahimafic (15), warga Kalianyar Kulon, Kelurahan Pabean, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya, meninggal dunia akibat luka yang sangat parah.

Ibrahim telah dievakuasi dari rumah sakit dan dibawa kembali ke kediamannya. Menurut Arif, delapan korban lainnya yang mengalami luka ringan sudah dapat dipulangkan setelah keluarganya memberi izin.

Penanganan Korban Luka Berat dan Ringan

Sementara itu, 16 korban lainnya dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) R.T. Notopuro Sidoarjo. Dari jumlah tersebut, 14 di antaranya hanya mengalami luka ringan, sedangkan dua lainnya mengalami luka berat dan membutuhkan perawatan intensif.

Tim medis dan petugas evakuasi bekerja keras untuk memastikan semua korban mendapatkan perawatan yang layak. Selain itu, para santri yang terluka juga menerima dukungan psikologis agar bisa segera pulih secara fisik maupun mental.

Proses Investigasi dan Tindakan Lanjutan

Pihak berwenang sedang melakukan investigasi menyeluruh untuk mengetahui penyebab pasti runtuhnya musala tersebut. Beberapa faktor yang diduga berkontribusi termasuk kondisi struktur bangunan yang belum sepenuhnya stabil, serta kemungkinan kesalahan dalam proses konstruksi.

Selain itu, pihak ponpes juga akan mengevaluasi seluruh sistem pengawasan dan keamanan di lingkungan pesantren guna mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.

Respons Masyarakat dan Doa Bersama

Kejadian ini menimbulkan rasa prihatin di kalangan masyarakat, khususnya para pengurus dan pengasuh pondok pesantren. Banyak pihak memberikan dukungan moral dan material kepada keluarga korban serta santri yang terluka.

Doa-doa dari berbagai kalangan juga dilakukan untuk kesembuhan para korban dan keberhasilan proses penyelidikan. Semoga dengan adanya evaluasi dan langkah-langkah pencegahan, kejadian serupa tidak terulang lagi di masa depan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini