Beranda Berita Ledakan di SMAN 72, Setara Soroti Melemahnya Program Anti-Ekstremisme Era Prabowo

Ledakan di SMAN 72, Setara Soroti Melemahnya Program Anti-Ekstremisme Era Prabowo

0
87

Kritik terhadap Pelemahan Program Pencegahan Ekstremisme di Bawah Pemerintahan Prabowo Subianto

Setara Institute mengkritik pelemahan program pencegahan dalam menghadapi kasus intoleran aktif hingga ekstremisme berbasis kekerasan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, menyusul peristiwa ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta. Setara menilai bahwa peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta merupakan peringatan bahwa permasalahan ekstremisme di usia dini masih besar dalam tata kebhinekaan Indonesia.

Direktur Eksekutif SETARA Institute Halili Hasan menyebut bahwa situasi zero terrorist attack dalam tiga tahun terakhir justru membuat kewaspadaan pemerintah terhadap bahaya ekstremisme melonggar. “Sejauh ini agenda dan program pencegahan yang dilakukan untuk mengatasi tantangan percepatan intoleran aktif dan remaja terpapar belum efektif dan cenderung melemah dalam pemerintahan Prabowo Subianto,” ujar Halili dalam keterangan tertulis, Ahad, 9 November 2025.

Setara Institute mencatat bahwa jumlah remaja dengan kategori intoleran aktif melonjak dari 2,4 persen pada 2016 menjadi 5,0 persen pada tahun 2023. Pada tahun yang sama, jumlah remaja yang terpapar ideologi ekstremisme juga meningkat dua kali lipat dari 0,3 persen menjadi 0,6 persen. Meski persentasenya kecil, Setara Institute menyebut dampaknya bisa sangat masif.

“Kejadian di SMA 72 Jakarta merupakan peringatan keras bahwa pencegahan ekstremisme kekerasan harus selalu ditempatkan sebagai program prioritas,” tutur dia.

Langkah yang Diperlukan untuk Membangun Toleransi yang Kuat

Atas tragedi ini, Setara Institute mendesak penguatan Tiga Pilar Kepemimpinan, yaitu politik, birokratik, dan kemasyarakatan. Kolaborasi ketiganya dinilai krusial dalam membangun ekosistem toleransi yang tahan guncangan.

Setara meminta Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN-PE) dan Rencana Aksi Daerah Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAD-PE) harus segera diaktivasi dan dioptimalkan. Menurut mereka, tanpa koordinasi lintas sektor yang solid, upaya pencegahan ekstremisme hanya akan menjadi program yang berjalan di tempat.

Peristiwa Ledakan di SMA 72 Jakarta

Insiden ledakan SMA 72 Jakarta terjadi ketika siswa dan guru menjalankan salat Jumat pada 7 November 2025. Ledakan terjadi dua kali. Ledakan pertama di dalam musala lantai ketiga. Lalu, menyusul ledakan kedua beberapa menit dari area belakang kantin.

Pada saat mendatangi tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan senjata api mainan. Senjata itu bertuliskan tiga nama pelaku penembakan dalam masjid di berbagai negara, yakni Brenton Tarrant, Alexandre Bissonnette, dan Luca Traini.

Insiden ini diduga dirancang oleh seorang pelajar dari sekolah tersebut. Terduga pelaku yang dimaksud juga terluka parah dan masih dirawat di rumah sakit meski sudah sadarkan diri.

Penyelidikan Motif oleh Polri

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan Polri masih menyelidiki motif di balik tindakan nekat ini. “Kami mendalami motif bagaimana yang bersangkutan kemudian merakit dan kemudian melaksanakan aksinya, semuanya akan kita jelaskan setelah semua informasi-informasi, temuan-temuan di lapangan, hasil penyelidikan, dan penyidikan lebih lanjut lengkap,” kata Listyo di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 7 November 2025.

Dede Leni berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini