Beranda Berita Milenial dan Gen Z Bersaing di Job Fair

Milenial dan Gen Z Bersaing di Job Fair

0
111

Perjuangan Generasi Muda dalam Mencari Pekerjaan di Jakarta

Jakarta Job Fest 2025 menjadi ajang yang penuh harapan bagi para pencari kerja. Bagi mereka, deretan meja perusahaan bukan sekadar stand pameran, tetapi tempat menaruh asa agar hidup kembali bergerak dan terhindar dari jeratan pengangguran. Dari generasi Z yang baru saja lulus hingga pekerja milenial yang dikejar batas umur, setiap orang memiliki cerita unik tentang kesulitan mencari pekerjaan.

Sultan, seorang pria berusia 26 tahun, mengunjungi acara ini dengan penuh semangat. Diantar oleh sang Ibu, dia membawa dokumen rapi di dalam tas selempangnya sebagai modal bertarung di arena yang akrab disebut job fair. Riuh suara panggilan tawaran kerja dari setiap stand membawanya terus menyusuri bilik-bilik yang disesaki oleh ratusan pencari kerja. Sultan berhenti di stand yang membuka lowongan sesuai keinginannya, menanyakan syarat dan mendaftar dengan harapan bisa menjadi salah satu karyawan perusahaan tersebut.

Bermodalkan ijazah S1 Teknik Lingkungan dari Universitas Andalas, Padang, Sultan tetap optimis bahwa perusahaan yang diinginkan akan memanggil untuk sesi wawancara. Namun, bekal itu masih sulit bagi dirinya untuk terserap di lapangan pekerjaan. Dua tahun menganggur, Sultan telah mencicipi pahitnya mencari kerja. Dia sering dihadapkan dengan syarat yang tidak masuk akal, seperti membutuhkan karyawan lulusan baru atau fresh graduate tapi wajib memiliki pengalaman dua tahun.

Sebagai anak pertama dari dua bersaudara, Sultan merasakan beban moral karena belum mendapatkan pekerjaan. Pikiran dan batinnya terus diuji untuk melewati fase-fase ini. Satu tahun setelah kelulusan, sempat terbesit di pikirannya: “Akan kah nasib ini dialami hingga waktu yang panjang?”

Perjuangan serupa juga dilakukan oleh Agung Putra, seorang pria berusia 43 tahun. Meski usianya sudah tidak muda lagi, Agung tetap semangat mencari kerja layaknya seorang pemuda. Berbeda dengan Sultan, Agung telah lebih dulu mencicipi pahit-getir kehidupan dunia kerja. Dia mempunyai pengalaman tujuh tahun sebagai pegawai inventory. Pada Agustus tahun ini, dirinya mengundurkan diri karena hendak menjalankan ibadah Umrah. Ironisnya, perjalanan ke Tanah Suci batal terlaksana, sehingga Agung harus kembali meniti karir di usia lebih dari empat dekade.

Agung berkelana ke setiap stand yang ada di dalam Balai Kartini, berbincang dengan perwakilan perusahaan, mendaftarkan diri melalui tautan barcode, dan menyimpan berbagai brosur. Salah satunya dia mendaftar sebagai anggota Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD). Saat ini, Agung bertahan hidup dengan cara Mantab atau ‘makan tabungan’ yang dia miliki. Agung berupaya keras mendapatkan pekerjaan agar tidak bergantung dari tabungan yang dalam jangka waktu tertentu akan habis.

Di umur yang tidak lagi muda, Agung mengimbau kepada kawula muda untuk memperluas relasi baik di dalam negeri maupun luar negeri. Anak-anak muda diminta melakukan kegiatan positif serta mengikuti pelatihan kerja agar tidak menyia-nyiakan saat di usia produktif. Apalagi, saat ini kemajuan teknologi mempermudah anak-anak muda mendapatkan pekerjaan, dibanding generasi-generasi sebelumnya.

Semangat dari generasi muda mencari pekerjaan nyata dilakukan oleh Rania, seorang perempuan berumur 18 tahun yang baru saja lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jurusan Desain Grafis di daerah Bogor. Bersama teman seperjuangan, dia berkeliling menghampiri setiap stand yang membuka lowongan pekerjaan di bidang itu. Dia datang membawa sejumlah CV untuk ditebar ke berbagai perusahaan. Pertama kalinya Rania menjejakkan kaki di acara job fair setelah diberitahu oleh guru pelatihan kerjanya semasa SMK.

Rania merasa informasi acara job fair masih minim diinformasikan. “Bikin berat terutama itu, lulusan harus S1 [dan] D3 itu lumayan berat juga. Terus biasanya yang berat sih nyari-nyari informasinya ya karena nyari informasinya agak lumayan susah juga kayak gini-gini,” ujarnya.

330.000 Pengangguran Jakarta

Perjuangan Sultan, Agung, hingga Rania demi mendapat pekerjaan merupakan potret miris generasi muda di Indonesia saat ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), komposisi angkatan kerja di Jakarta pada Agustus 2025 terdiri dari 5,13 juta orang penduduk yang bekerja. Adapun, BPS mencacat sebanyak 330.000 orang berstatus pengangguran atau tak punya pekerjaan.

Jika dibandingkan Agustus 2024 (year on year/yoy), jumlah angkatan kerja meningkat sebanyak 13.000 orang, penduduk bekerja bertambah sebanyak 21.000 orang, sementara pengangguran berkurang 766.000 orang. BPS mencatat penduduk usia kerja (PUK) di Jakarta pada Agustus 2025 mencapai 8,43 juta orang, naik 66.000 orang dibanding kondisi Agustus 2024 yang lalu. Sebagian besar penduduk usia kerja merupakan angkatan kerja, yaitu sebesar 5,46 juta orang, sisanya bukan angkatan kerja sebanyak 2,97 juta orang.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengatakan upaya menurunkan angka pengangguran di Jakarta adalah melalui gelaran job fair seperti Jakarta Job Fest 2025. Dia menargetkan 10 ribu tenaga kerja terserap melalui acara ini. “Target ini sekaligus menekan angka pengangguran di Jakarta yang mencapai 330.000 orang,” ujarnya.

Job Fair Bukan Satu-satunya Solusi

Menanggapi fenomena tersebut, Nailul Huda selaku Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai gelaran job fair bukan solusi utama menekan angka pengangguran di DKI Jakarta. Menurutnya, penyelenggara kerja perlu ditingkat untuk menyerap tenaga kerja serta kompetisi pencari kerja turut disokong melalui program pelatihan.

Nailul menjelaskan DKI Jakarta masih menjadi pusat ekonomi di Indonesia karena perputaran uang tergolong cepat. Baginya hal tersebut merupakan kesempatan bagi pemerintah DKI Jakarta menciptakan lapangan pekerjaan terutama di sektor jasa. “Jika kita lihat, jasa perusahaan ataupun jasa lainnya mampu menjadi penyerap tenaga kerja. Selain itu, ada jasa kesehatan dan kegiatan sosial. Jakarta memang sudah menjadi kota jasa yang tidak bergantung pada industri. Dengan begitu, pekerjaan sektor jasa menjadi incaran pekerja di Jakarta,” katanya.

Sementara itu, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto menilai job fair merupakan salah satu cara cepat untuk setiap industri mendapat karyawan dan juga peluang bagi pekerja aktif yang ingin meningkatkan keterampilan atau penghasilan. Dengan catatan, tata kelola job fair berjalan baik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini