Beranda Internasional Pangeran Hisahito Resmi Jadi Anggota Dewasa Kekaisaran Jepang

Pangeran Hisahito Resmi Jadi Anggota Dewasa Kekaisaran Jepang

0
354

Tokyo, Reformasi.co.id – Jepang menggelar upacara kedewasaan bagi Pangeran Hisahito di Istana Kekaisaran Tokyo pada Sabtu (6/9/2025) kemarin, yang menandai awal perannya sebagai anggota dewasa dalam keluarga kekaisaran. Upacara ini juga kembali menyoroti perdebatan panjang mengenai suksesi takhta di negara tersebut.

Dalam prosesi yang berlangsung khidmat, keponakan Kaisar Naruhito itu menerima mahkota sutra hitam dan pernis sebagai simbol kedewasaannya.

“Terima kasih atas anugerah mahkota pada upacara kedewasaan ini. Saya akan menjalankan tugas dengan penuh kesadaran atas tanggung jawab sebagai anggota dewasa keluarga kekaisaran,” ujar Hisahito dalam sambutannya.

Pangeran Hisahito, yang kini berusia 19 tahun, merupakan pewaris kedua takhta setelah ayahnya, Pangeran Akishino. Pada upacara tersebut, ia juga berziarah untuk menghormati leluhur dan para dewa di dalam kompleks istana.

Tradisi dan Polemik Suksesi

Meski Kaisar Naruhito memiliki seorang putri, Putri Aiko yang kini berusia 23 tahun, aturan tradisional keluarga kekaisaran hanya mengizinkan laki-laki untuk mewarisi takhta. Aturan ini terus menuai perdebatan di masyarakat Jepang.

Sejumlah jajak pendapat menunjukkan dukungan publik yang cukup tinggi bagi perempuan untuk bisa naik takhta. Pada 2005, sebuah panel pemerintah bahkan sempat merekomendasikan agar suksesi diberikan kepada anak tertua tanpa memandang jenis kelamin. Namun, lahirnya Pangeran Hisahito pada 2006 meredam wacana tersebut.

Kaum tradisionalis menegaskan bahwa garis keturunan laki-laki yang tidak terputus selama lebih dari 2.600 tahun merupakan fondasi negara Jepang. Menurut mereka, perubahan besar terhadap tradisi ini justru dapat memicu perpecahan.

Tantangan bagi Perempuan Kekaisaran

Sistem saat ini juga mengharuskan putri kekaisaran untuk keluar dari keluarga kerajaan setelah menikah. Sebagian pihak mendorong modernisasi dengan membiarkan mereka tetap menjalankan tugas publik pasca pernikahan. Sementara kalangan konservatif ingin mengembalikan kerabat jauh ke dalam lingkaran keluarga kekaisaran untuk memperkuat garis keturunan laki-laki.

Pangeran Hisahito sendiri mengaku belum memikirkan secara serius mengenai pernikahan. Sejarah menunjukkan bahwa perempuan yang menikah dengan anggota kekaisaran kerap menghadapi tekanan besar, khususnya terkait tuntutan untuk melahirkan pewaris laki-laki.

Kaisar Permaisuri Masako, misalnya, pernah mengalami gangguan kesehatan akibat tekanan tersebut. Begitu pula dengan Permaisuri Emerita Michiko, ibu Kaisar Naruhito, yang mengalami gangguan kesehatan terkait stres.

Sementara itu, kakak Pangeran Hisahito, Mako, memilih menikah dengan kekasihnya semasa kuliah, Kei Komuro. Pernikahan mereka sempat menuai kontroversi karena isu finansial keluarga Komuro, yang memicu tekanan besar bagi Mako hingga didiagnosis mengalami gangguan stres pascatrauma kompleks. Pasangan itu kemudian pindah ke Amerika Serikat dan baru-baru ini dikaruniai seorang anak.

Dukungan Publik vs Fokus Sosial

Kendati dukungan publik terhadap kaisar perempuan terbilang tinggi, menurut sejarawan kekaisaran Hideya Kawanishi, isu ini tidak menjadi prioritas utama masyarakat. “Jika suara dukungan untuk kaisar perempuan semakin keras, politisi mungkin akan lebih serius menanggapinya. Namun, setelah prosesi usai, perhatian publik dan media biasanya kembali mereda,” ujarnya.

Upacara kedewasaan yang digelar bertepatan dengan ulang tahun ke-19 Pangeran Hisahito itu sekaligus meneguhkan posisinya sebagai pewaris kedua Takhta Krisan, simbol tertinggi monarki Jepang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini