Semarang menjadi pusat perhatian dalam dunia bisnis internasional setelah beberapa pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) asal kota ini berhasil menempati posisi strategis di lembaga yang diakui secara global. Salah satu contohnya adalah Syanas Nadya Winanto Putri, pemilik merek fesyen Roro Kenes, yang terpilih sebagai Local Chairman Committee United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) untuk Indonesia periode 2025-2026.
Dalam jabatan tersebut, Syanas memiliki tanggung jawab besar untuk memperkuat literasi dan ekosistem perempuan dalam UMKM yang dipimpin oleh perempuan di Indonesia. Ia menyatakan bahwa tugas utama dari posisi ini bukan hanya tentang pengembangan literasi digital, tetapi juga memperkenalkan bahwa digital harus menjadi fondasi kuat bagi usaha. Tanpa transformasi ke digital, bisnis akan tertinggal dalam perdagangan global.
“Kami tidak hanya fokus pada pengembangan literasi digital, tetapi juga membuka wawasan bahwa digital adalah penguat fundamental usaha. Tanpa bertransformasi ke digital, kita akan ketinggalan dalam perdagangan global,” ujarnya saat berbicara kepada wartawan di Semarang, Jumat (28/11/2025).
Keterlibatan Syanas dalam UNCTAD sudah dimulai sejak 2020 ketika ia terpilih sebagai bagian dari kohort Indonesia dalam program inkubasi digital UNCTAD. Selain Syanas, ada empat perwakilan Indonesia lainnya yang juga terpilih untuk mengikuti program inkubasi selama sebulan penuh.
Program tersebut memberikan dampak signifikan terhadap pengembangan bisnis Syanas. “Materi yang diberikan sangat memperkuat dasar usaha kami, termasuk brand yang saya kelola. Program ini benar-benar membuka cara berpikir tentang bisnis digital global,” jelasnya.
Pada tahun ini, UNCTAD kembali mengundang perwakilan dari pelaku UMKM Indonesia. Selain Syanas dengan Roro Kenes, ada Mayang Adelia Puspita dengan merek Fragrande dan Rini Mayasari dengan Fellas.id yang ikut serta dalam program Digital Master Class for Women di Manila, Filipina.
Program ini diikuti oleh 40 peserta dari 14 negara di kawasan Asia Tenggara, Asia Pasifik, hingga Eropa. Semuanya adalah pengusaha perempuan. Syanas menilai partisipasi pelaku UMKM lokal dalam acara tersebut telah membuka pengetahuan baru dan menjalin jejaring internasional.
Contohnya, peluang kerja sama dengan lokapasar asal Tiongkok, Alibaba, terbuka untuk pelaku UMKM termasuk dari Jawa Tengah. Pelaku UMKM asal Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang, diharapkan bisa ikut berpartisipasi dalam program-program yang diselenggarakan UNCTAD.
Syanas menyebut, program tersebut tidak hanya membuka potensi pasar baru bagi pelaku UMKM, tetapi juga membekali peserta dengan pondasi bisnis yang kuat untuk bersaing di pasar global. “Besok tanggal 8 juga akan ada jejaring baru dari Manila yang berkunjung ke Kota Semarang. Harapannya, bisa lahir program-program baru untuk teman-teman UMKM,” tambahnya.



