Perang Rusia-Ukraina Memasuki Hari ke-1.515
Perang Rusia-Ukraina memasuki hari ke-1.515 pada Sabtu (18/4/2026). Sejak invasi besar-besaran yang dimulai pada 24 Februari 2022 atas perintah Presiden Vladimir Putin, konflik ini telah berdampak luas baik secara politik maupun ekonomi. Tensi antara kedua negara terus meningkat sejak aneksasi Krimea pada 2014 dan konflik di Donbas. Situasi semakin kompleks ketika Ukraina memperkuat hubungan dengan Barat, termasuk NATO dan Uni Eropa, yang dianggap oleh Rusia sebagai ancaman strategis.
Negara-negara Barat seperti Amerika Serikat terus memberikan dukungan militer kepada Ukraina sambil menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Rusia. Namun, hingga kini, perang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir karena sengketa wilayah dan kepentingan geopolitik masih buntu.
Rusia Kembali Libatkan Belarus dalam Konflik?
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuduh Rusia kembali mencoba melibatkan Belarus dalam perang. Pernyataan tersebut disampaikan melalui unggahan di Telegram pada Jumat (17/4/2026), merujuk pada laporan intelijen dari panglima tertinggi Ukraina, Oleksandr Syrskyi. Ia mengungkap bahwa pembangunan jalan menuju Ukraina dan posisi artileri terdeteksi di perbatasan Belarus menunjukkan indikasi eskalasi baru.
Zelensky menyatakan bahwa Ukraina percaya Rusia akan kembali menyeret Belarus ke konflik. Kyiv juga telah memperingatkan kepemimpinan Belarus terkait kesiapan Ukraina mempertahankan kedaulatan. Selain itu, ia menilai peningkatan aktivitas militer di Belarus menjadi semakin jelas. Meski begitu, Zelensky tidak memberikan bukti tambahan atas klaim tersebut. Belarus sebelumnya memang menjadi basis invasi Rusia pada Februari 2022, dengan Presiden Alexander Lukashenko mengizinkan wilayahnya digunakan Moskow.
Zelensky Tawarkan Pengalaman Militer untuk Keamanan Selat Hormuz
Zelensky menawarkan pengalaman militernya untuk menjaga keamanan Selat Hormuz. Ia menilai keputusan terkait selat strategis ini akan berdampak global. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi virtual yang dihadiri 50 negara, dipimpin oleh Prancis dan Inggris. Zelensky memperingatkan ancaman dari aktor agresif di jalur laut internasional dan meminta kejelasan langkah agar krisis tidak berlarut seperti di Gaza.
Menurutnya, Ukraina memiliki pengalaman relevan di Laut Hitam. Selama perang, Rusia disebut mencoba memblokade jalur laut Ukraina. Kyiv mengklaim berhasil mengawal kapal dagang dan membersihkan ranjau. Ukraina juga berpengalaman menghadapi serangan udara dan koordinasi operasi laut. Zelensky mengatakan pihaknya telah mengirim spesialis ke Timur Tengah untuk membantu menghadapi ancaman drone yang banyak terkait Iran. Ia menegaskan bahwa Ukraina siap berkontribusi pada keamanan maritim global. Kyiv juga telah menjalin kerja sama dengan Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab, serta sedang berdiskusi dengan Oman, Kuwait, dan Bahrain.
Terminal Minyak Rusia Terbakar, Operasi Besar Dikerahkan
Kebakaran besar terjadi di terminal minyak di wilayah Krasnodar, Rusia selatan. Insiden ini dilaporkan pada Sabtu (18/4/2026) pagi oleh otoritas darurat setempat. Sebanyak 224 petugas pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi, beserta 56 kendaraan. Kebakaran terjadi di terminal Tikhoretsk, timur laut Krasnodar. Belum ada laporan korban jiwa dalam insiden ini, dan penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.
Di sisi lain, Ukraina mengklaim terus menekan kemampuan militer Rusia. Oleksandr Syrskyi menyebut serangan difokuskan pada fasilitas strategis, termasuk industri pertahanan dan fasilitas militer. Pada Maret, Ukraina disebut menyerang 76 target, dengan 15 di antaranya merupakan fasilitas pengolahan minyak.
AS Longgarkan Sanksi, NIS Serbia Dapat Nafas Baru
Perusahaan minyak Serbia, NIS, mendapat pengecualian sanksi dari Amerika Serikat. Pengecualian diberikan selama 60 hari, memungkinkan NIS tetap mengimpor minyak mentah. Kebijakan ini berlaku hingga penjualan saham mayoritas Rusia rampung, dengan rencana alihkan ke MOL Hungaria. Pengecualian sebelumnya hanya berlaku satu bulan dan telah berakhir. AS sebelumnya menjatuhkan sanksi pada Oktober tahun lalu, menargetkan sektor energi Rusia terkait perang Ukraina. Washington juga menuntut divestasi dari Gazprom Neft dan Gazprom, yang merupakan pemegang saham mayoritas Rusia di NIS.
Menteri Energi Serbia, Dubravka Djedovic Handanovic, menyambut keputusan tersebut, menyebutnya sebagai kemajuan dalam negosiasi kepemilikan.



