Beranda News Polres Cimahi Ungkap Produksi Tembakau Sintetis, Pelajar SMA Edarkan dengan Sistem Tempel

Polres Cimahi Ungkap Produksi Tembakau Sintetis, Pelajar SMA Edarkan dengan Sistem Tempel

0
148

Penangkapan Tiga Pemuda Terkait Peredaran Tembakau Sintetis di Cimahi

Beberapa waktu lalu, tiga pemuda ditangkap oleh Satuan Reserse Narkoba Polres Cimahi karena terlibat dalam produksi dan peredaran tembakau sintetis. Dari tangan mereka, polisi berhasil mengamankan ratusan gram tembakau sintetis yang siap diedarkan. Ketiga tersangka tersebut memiliki inisial ABS (19 tahun), MNF (18 tahun) yang masih berstatus pelajar, dan ALR (18 tahun).

Produksi tembakau sintetis dilakukan secara rumahan oleh ABS sejak Mei 2025. Awalnya, ABS hanya memproduksi sendiri, namun pada Juli, ia mulai mempekerjakan MNF untuk bertugas mengedarkan produknya. MNF yang saat itu masih duduk di bangku SMA di Kota Cimahi, diberi tugas untuk menempelkan 20 titik pengiriman. Setiap kali melakukan tugas tersebut, MNF mendapatkan upah sebesar Rp 200.000. Dalam empat kali tugas, ia telah menerima total upah sebesar Rp 800.000.

Selain itu, ABS belajar meracik tembakau sintetis melalui video-video yang ada di YouTube. Dengan bantuan ilmu dari sana, ia akhirnya mampu memproduksi sendiri. Setelah berhasil, ABS menugaskan MNF untuk mengirimkan produknya dengan sistem tempel. Selain MNF, tembakau sintetis juga disebarkan ke ALR yang kemudian menjualnya kepada konsumen dengan keuntungan antara Rp 25.000 hingga Rp 50.000 per transaksi.

Dari hasil perhitungan pihak kepolisian, setiap 50 gram bibit narkotika yang dibeli dengan harga Rp 5 juta bisa menghasilkan 100 gram tembakau sintetis yang siap edar. Dengan satu kali produksi, keuntungan yang diperoleh mencapai Rp 10 juta. Dalam enam bulan terakhir, ABS berhasil meraih keuntungan sekitar Rp 24 juta.

Kepala Polres Cimahi, Ajun Komisaris Besar Niko Nurallah Adi Putra, menyampaikan bahwa para tersangka sempat mencoba barang racikan tersebut sebagai tester sebelum dipasarkan. Hal ini menunjukkan betapa tidak sadarnya mereka terhadap bahaya yang dihadapi. Bahkan, orang tua dari para pelaku tidak mengetahui aktivitas ilegal yang mereka lakukan.

Peristiwa ini menjadi alarm serius bagi masyarakat Cimahi. Keterlibatan pelajar SMA dalam industri narkoba sintetis menunjukkan betapa rentannya generasi muda terhadap pengaruh negatif dari media sosial. Fenomena ini membuka mata akan pentingnya edukasi dan pengawasan lebih ketat terhadap anak-anak muda, khususnya di lingkungan sekolah dan keluarga.

Selain itu, kasus ini juga menjadi bukti bahwa peredaran narkoba tidak lagi bersifat formal seperti dulu. Kini, banyak pelaku menggunakan metode yang lebih sederhana dan mudah diakses, seperti produksi rumahan dan distribusi via media digital. Hal ini memperlihatkan betapa pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat dan koordinasi antara aparat keamanan serta institusi pendidikan.

Pemerintah dan lembaga terkait harus segera mengambil langkah-langkah efektif untuk mencegah semakin maraknya peredaran narkoba sintetis. Edukasi tentang bahaya narkoba harus ditingkatkan, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Selain itu, penegakan hukum terhadap pelaku peredaran narkoba harus tetap dilakukan agar dapat memberikan efek jera dan mencegah aksi serupa di masa depan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini