Beranda Kriminal Prada Lucky Tewas Diduga Dianiaya Senior, Begini Kronologinya

Prada Lucky Tewas Diduga Dianiaya Senior, Begini Kronologinya

0
475

Nagekeo, Reformasi.co.id – Seorang prajurit TNI Angkatan Darat, Prada Lucky Chepril Saputra Namo, meninggal dunia setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Keluarga menduga kematian prajurit yang baru dua bulan berdinas ini disebabkan oleh kekerasan fisik yang dilakukan oleh seniornya saat bertugas di Batalion Teritorial Pembangunan (TP) 834 Waka Nga Mere, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

Ayah korban, Sersan Mayor Christian Namo, mengungkapkan kekecewaannya atas kematian anaknya. Ia juga menyayangkan penolakan dua rumah sakit di Kota Kupang — RS Tentara dan RS Polri — untuk melakukan autopsi jenazah.

“Saya ingin negara hadir dan mengungkap siapa pelaku yang menyebabkan kematian anak saya,” ujar Christian sebagaimana dikutip dari Antara, Jumat (8/8/2025).

Lucky sempat menjalani perawatan di RSUD Aeramo, Nagekeo, sebelum dinyatakan meninggal dunia pada Rabu (6/8/2025). Menurut keterangan keluarga, jenazah Prada Lucky menunjukkan banyak luka memar, lebam, luka tusuk di kaki dan punggung, serta bekas luka bakar diduga akibat sundutan rokok.

Kodam IX/Udayana memastikan kasus kematian Prada Lucky tengah ditangani secara serius. Kepala Penerangan Kodam IX/Udayana, Kolonel Infanteri Candra, menyampaikan bahwa sejumlah personel yang diduga terlibat telah ditahan dan sedang diperiksa oleh Sub-Detasemen Polisi Militer Kupang.

“Saat ini penyelidikan dan pemeriksaan sedang berlangsung. Peristiwa ini menjadi perhatian serius bagi kami di Kodam IX/Udayana,” ujarnya.

Prada Lucky diketahui baru lulus pendidikan militer pada awal 2025 dan langsung ditempatkan di Batalion TP 834. Satuan ini baru sekitar satu bulan bertugas di Kabupaten Nagekeo dalam rangka program pembangunan wilayah.

Kematian Prada Lucky menambah daftar kasus kekerasan dalam lingkungan militer yang berujung fatal. Sebelumnya, pada 2023, Prada MZR tewas setelah diduga dianiaya oleh enam seniornya di Batalion Zeni Tempur 4/TK. Investigasi oleh Pomdam IV/Diponegoro kala itu mengungkap bahwa aksi kekerasan dilakukan dalam rangka “pendisiplinan fisik”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini