Dinamika Atmosfer yang Memicu Cuaca Ekstrem di Indonesia
Pada hari Minggu, 30 November 2025, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya dinamika atmosfer signifikan yang berpotensi memicu cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia. Dalam siaran prakiraan cuaca harian Info BMKG, dua sistem tekanan rendah yakni Siklon Tropis KOTO dan TD (Tropical Depression) Ex-TC SENYAR bersama sirkulasi siklonik di Samudra Pasifik teridentifikasi sebagai pemicu utama peningkatan pertumbuhan awan hujan.
Sistem Teakan Rendah yang Berkontribusi pada Perubahan Cuaca
BMKG menjelaskan bahwa pola angin konvergen, konfluensi angin, serta labilitas atmosfer yang dipengaruhi ketiga sistem tersebut berperan besar terhadap intensifikasi awan konvektif dan potensi hujan lebat di sejumlah daerah barat dan timur Indonesia.
Siklon Tropis KOTO Picu Konvergensi di Laut Cina Selatan
Siklon Tropis KOTO terpantau berada di Laut Cina Selatan bagian timur Vietnam. Sistem ini bergerak ke arah barat daya hingga barat, membentuk jalur konvergensi-konfluensi angin dari Laut Sulu menuju Laut Cina Selatan sampai pesisir timur Vietnam. Pola ini menjadi salah satu pemicu penguatan pertumbuhan awan hujan di wilayah sekitar pusat sirkulasi dan kawasan perairan yang dilalui jalur angin.
BMKG menjelaskan keberadaan KOTO turut meningkatkan instabilitas atmosfer di kawasan barat Indonesia, termasuk wilayah yang berbatasan langsung dengan Laut Natuna dan jalur perairan lainnya.
TD Ex–TC SENYAR Masih Berpengaruh Meski Melemah
Selain KOTO, BMKG juga mengidentifikasi TD (Tropical Depression) Ex–TC SENYAR di daratan Laut Cina Selatan bagian selatan Vietnam. Sistem ini bergerak ke arah timur laut dan diperkirakan terus melemah dalam 48 jam mendatang. Meski demikian, sistem depresi tropis ini tetap membentuk pola konvergensi–konfluensi angin dari perairan timur Malaysia hingga Laut Natuna Utara, serta dari Selat Karimata menuju Laut Natuna.
Kombinasi pola angin dari KOTO dan TD Ex–TC SENYAR memicu peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah-wilayah sekitar Natuna, Laut Cina Selatan, dan Selat Karimata. Kondisi ini juga meningkatkan risiko gelombang tinggi dan cuaca buruk yang perlu diwaspadai para pelaku pelayaran dan perikanan.
Sirkulasi Siklonik di Samudra Pasifik Perluas Area Risiko
Sistem ketiga berupa sirkulasi siklonik terpantau berada di Samudra Pasifik utara Papua Barat. Sirkulasi ini menciptakan jalur konvergensi-konfluensi luas di sejumlah area, antara lain:
- Samudra Pasifik utara Halmahera hingga utara Papua
- Samudra Pasifik timur Filipina
- Selat Karimata hingga Laut Natuna
- Laut Jawa bagian timur hingga Selat Makassar bagian selatan
- Laut Sulawesi hingga Laut Maluku
- Pegunungan Papua hingga Papua Selatan
Banyak Wilayah Mengalami Peningkatan Pertumbuhan Awan Hujan
BMKG mencatat peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah, termasuk:
- Sumatra Barat
- Riau
- Kepulauan Riau
- Laut Natuna Utara
- Laut Cina Selatan
- Laut Sulawesi bagian utara
- Laut Seram
- Maluku Utara
- Papua Barat dan Papua Barat Daya
- Pesisir utara Papua
BMKG menyebut beberapa wilayah memiliki peluang hujan lebat hingga sangat lebat, antara lain:
- Nusa Tenggara Barat
- Nusa Tenggara Timur
- Kalimantan Barat
- Kalimantan Utara
- Sulawesi Barat
BMKG mengingatkan hujan lebat dapat berpotensi menimbulkan genangan, banjir, banjir bandang, tanah longsor, serta gangguan aktivitas transportasi. Sektor kelautan juga perlu meningkatkan kewaspadaan seiring potensi gelombang tinggi yang dipicu konvergensi angin.
BMKG meminta masyarakat terus memantau perkembangan prakiraan cuaca harian mengingat dinamika atmosfer bersifat cepat berubah. Informasi resmi dapat diperoleh melalui situs BMKG, aplikasi Info BMKG, dan kanal media sosial lembaga tersebut.



