Pentingnya Pengarusutamaan Pemuda dalam Pembangunan Nasional
Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah, menekankan pentingnya pengarusutamaan pemuda dalam berbagai aspek pembangunan nasional. Hal ini disampaikan dalam Rapat Kerja perdana Komisi X DPR RI bersama Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir di Kompleks Parlemen, Senayan.
Ledia menyatakan bahwa selama ini masyarakat hanya membicarakan generasi emas 2045, tetapi belum ada desain yang jelas mengenai bagaimana wujudnya. Anggaran yang dialokasikan juga masih tergolong kecil. Oleh karena itu, ia menyarankan agar pengarusutamaan pemuda menjadi bagian dari kebijakan pemerintah yang terinternalisasi dalam semua sektor pembangunan.
Selain isu kepemudaan, Ledia juga menyoroti pentingnya membangun budaya olahraga di tengah masyarakat. Ia mengusulkan adanya partisipasi pemerintah dalam menyediakan fasilitas kebugaran yang mudah diakses oleh masyarakat di ruang terbuka publik. Menurutnya, seperti di negara-negara lain, masyarakat harus bisa berolahraga kapan saja dan di mana saja dengan fasilitas yang memadai.
Ia juga memberikan apresiasi atas optimalisasi Rumah Sakit Olahraga Nasional di Cibubur. Menurut Ledia, fasilitas tersebut memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan ilmu olahraga nasional, yang dapat mendukung kemajuan prestasi atlet, termasuk atlet disabilitas.
Namun, ia juga menyampaikan kekhawatiran terkait keterbelakangan Indonesia dalam teknologi olahraga bagi penyandang disabilitas. Ia menjelaskan bahwa di ajang Paralimpik, kaki palsu atlet disabilitas dari luar negeri sudah sangat ringan dan memungkinkan mereka bergerak cepat. Di sana, alat tersebut dirancang secara khusus. Sementara itu, di Indonesia, pengembangan teknologi semacam ini belum mencapai tingkat tersebut. Meski demikian, ia yakin hal ini bisa dikembangkan dan perlu mendapat perhatian serius.
Kesempatan untuk Menunjukkan Dukungan Kepada Atlet Disabilitas
Sebagai tambahan, Ledia juga menyoroti keputusan World Amputee Football Federation yang menjadikan Jakarta sebagai tuan rumah Babak Kualifikasi Piala Dunia Sepak Bola Amputasi 2026 zona Asia A dan B pada November mendatang. Sebelumnya, kegiatan kualifikasi ini dilaksanakan di Banglades. Kini, permintaan diarahkan ke Jakarta, yang merupakan kesempatan baik untuk menunjukkan dukungan pemerintah kepada atlet disabilitas.
Ledia menilai bahwa Timnas amputasi Indonesia pernah tampil di Piala Dunia 2022 di Turki, dan diharapkan kali ini mereka bisa membawa prestasi yang lebih baik. Ia berharap keikutsertaan Indonesia dalam kompetisi internasional ini dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas olahraga bagi para atlet disabilitas di Tanah Air.
Dengan penekanan pada pengarusutamaan pemuda, pembudayaan olahraga, serta pengembangan teknologi olahraga disabilitas, Ledia berharap pemerintah dan lembaga terkait akan terus berkomitmen dalam memperkuat sektor olahraga dan pemuda di Indonesia. Ini tidak hanya akan memberikan manfaat bagi individu, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan nasional yang lebih inklusif dan berkelanjutan.



