
Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) terus berupaya memperkenalkan pengembangan dan implementasi program wajib biodiesel sawit di berbagai kalangan masyarakat. Salah satu langkah strategisnya adalah mendorong Gerakan Pramuka untuk menjadi agen literasi energi terbarukan, khususnya terkait biodiesel dan industri sawit Indonesia. Program biodiesel sawit di Indonesia saat ini telah mencapai tingkat pencampuran (blending rate) 50% atau dikenal sebagai B50.
Wakil Ketua Umum Aprobi, Catra de Thouars, menekankan peran penting Pramuka sebagai agen literasi sawit. Tujuannya adalah untuk menjawab isu-isu negatif yang seringkali menyelimuti komoditas sawit dan menggantinya dengan informasi positif mengenai pengembangan energi terbarukan, terutama program biodiesel. “Kami ingin menyampaikan manfaat sawit yang sangat besar dalam kehidupan kita sehari-hari serta informasi bahwa sawit merupakan aset sumber daya alam penyumbang devisa terbesar untuk negara kita sehingga kita harus berbangga dan menjaganya dari berbagai informasi negatif,” ujar Catra.
Pernyataan tersebut disampaikan Catra saat kegiatan edukasi biodiesel sawit yang diselenggarakan di Jambore Nasional (Jamnas) XII Tahun 2026. Acara ini berlangsung di Balai Sahabat Biodiesel, Zona Teknologi Energi Terbarukan, Kampung Teknologi Seni Budaya (TSB), Bumi Perkemahan (Buperta) Cibubur, Jakarta Timur, pada 15-20 Agustus 2026. Dalam kesempatan tersebut, Aprobi kembali berinteraksi dengan sekitar 5.000 anggota Pramuka yang hadir di Jamnas XII 2026 untuk memperkenalkan pengembangan dan implementasi program mandatory biodiesel di Indonesia. “Kegiatan mempromosikan biodiesel dan sawit telah menjadi agenda rutin Aprobi di Kegiatan Kepramukaan Nasional yang kali ini kembali berpartisipasi di Jamnas XII Tahun 2026,” tandasnya.
Catra menjelaskan bahwa sosialisasi dan edukasi yang dilakukan Aprobi membawa empat pesan utama yang ditujukan kepada generasi muda Pramuka di Jamnas XII 2026. Pertama, mengenai program mandatory biodiesel hingga B50, yang menunjukkan capaian Indonesia dalam pemanfaatan bahan bakar nabati berbasis minyak sawit. Kedua, menjelaskan peranan sawit sebagai bahan baku utama biodiesel di Indonesia. Ketiga, mengedukasi tentang pemanfaatan minyak sawit dalam 24 jam, agar generasi muda Pramuka menyadari bahwa penggunaan sawit tidak terbatas pada minyak goreng, melainkan terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari sepanjang hari. Keempat, menyoroti kontribusi strategis sawit sebagai penyelamat ekonomi dan penyumbang devisa terbesar bagi negara.
Dalam rangkaian sosialisasi tersebut, Aprobi memperkenalkan pemanfaatan energi terbarukan atau bahan bakar nabati, di mana Indonesia saat ini telah mengimplementasikan program mandatory biodiesel hingga B50. Kegiatan ini mendapat dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan melibatkan Pramuka Kwarda DKI Jakarta sebagai tutor serta narasumber pendamping. Selain Aprobi, acara ini juga turut mengikutsertakan asosiasi sawit lainnya seperti Gapki dan Apolin. Aprobi sendiri telah aktif berpartisipasi dalam kegiatan kepramukaan nasional sejak Jamnas X Tahun 2016, dilanjutkan di Raimuna Nasional XI 2017, dan menjadikannya agenda rutin di setiap kegiatan kepramukaan nasional berikutnya.
Ahmad Ramasaputra, seorang Pramuka Penggalang dari Kwarcab Indragiri Hilir, Kwarda Riau, mengungkapkan antusiasmenya mengikuti Sosialisasi Energi Terbarukan dan Sawit oleh Aprobi. Ia mengaku sudah mengenal manfaat komoditas sawit bagi kesejahteraan masyarakat di daerahnya. Melalui kegiatan ini, ia semakin memahami pemanfaatan sawit untuk produk makanan dan energi yang merupakan bagian dari aktivitas sehari-hari. “Jadi, penggunaan sawit tidak hanya untuk minyak goreng, melainkan sangat dibutuhkan bagi kebutuhan bahan bakar kendaraan masyarakat melalui biodiesel sawit,” ujarnya.
Senada dengan itu, Artan Afrizal Zahran, Pramuka dari Kwarcab Nganjuk, Kwarda Jawa Timur, mengakui peran luar biasa sawit dalam menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Ia berpendapat bahwa informasi ini sangat penting untuk disampaikan kepada generasi muda agar dapat mengimbangi narasi negatif yang kerap menyudutkan sawit. Kegiatan Jamnas XII 2026 sendiri secara resmi dibuka pada 14 Agustus 2026 oleh Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Budi Waseso, bersama Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir. Ajang lima tahunan ini diikuti oleh 25.000 peserta Pramuka Penggalang berusia 11-15 tahun dari seluruh Indonesia, termasuk Pramuka berkebutuhan khusus dan kontingen dari luar negeri. Selama lima hari pelaksanaan, sekitar 5.000 peserta secara bergantian mengikuti sesi edukasi interaktif di booth Aprobi.
Dalam setiap sesi edukasi berdurasi 90 menit yang diikuti oleh 250 peserta, Aprobi memberikan pemahaman komprehensif mengenai bahan bakar nabati dan capaian Indonesia dalam menerapkan program mandatory biodiesel hingga B50. Peserta kampanye pentingnya energi terbarukan dan sawit ini diberikan penjelasan mendalam bahwa minyak sawit merupakan bahan baku utama dalam pembuatan biodiesel nasional.