Beranda Berita Bukan Tsunami Trofi, Manchester United Hadapi Tsunami Utang Rp25,8 Triliun

Bukan Tsunami Trofi, Manchester United Hadapi Tsunami Utang Rp25,8 Triliun

0
91

Beban Utang Manchester United Mencapai Rekor Tertinggi

Manchester United kembali menjadi sorotan setelah laporan keuangan terbaru mengungkapkan bahwa beban utang klub telah mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah. Total kewajiban klub kini mencapai £1,29 miliar atau setara dengan Rp25,8 triliun. Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dari tahun-tahun sebelumnya, meskipun manajemen klub masih mempertahankan klaim bahwa kinerja keuangan mereka tetap solid.

Direktur Utama Manchester United, Omar Berrada, menjelaskan bahwa klub berhasil mencatatkan laba operasional sebesar £13,3 juta atau sekitar Rp266 miliar pada kuartal pertama musim ini. Laba ini dihasilkan dari kebijakan efisiensi biaya yang diterapkan oleh pemilik minoritas klub, Sir Jim Ratcliffe. Namun, peningkatan utang dan biaya pembiayaannya tetap menjadi isu utama yang harus segera diselesaikan.

Pembiayaan dan Penarikan Kredit

Berdasarkan laporan keuangan, total utang Manchester United terbagi menjadi dua komponen utama: utang finansial dan utang perdagangan. Utang finansial, yang sebagian besar berasal dari pengambilalihan klub oleh keluarga Glazer pada 2005, naik ke rekor baru sebesar £749,2 juta atau sekitar Rp15 triliun. Ini merupakan kenaikan dari £714 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan utang finansial dipicu oleh penarikan tambahan sebesar £105 juta (sekitar Rp2,1 triliun) dari fasilitas kredit bergulir untuk membiayai perekrutan sejumlah pemain pada bursa transfer musim panas lalu. Hingga saat ini, klub telah menggunakan £268 juta dari total plafon kredit £350 juta.

Di sisi lain, posisi kas dan setara kas klub justru menurun tajam dari £149,6 juta menjadi £80,5 juta atau turun dari sekitar Rp3 triliun menjadi Rp1,6 triliun dalam 12 bulan terakhir. Sementara itu, utang bersih akibat akuisisi Glazer tetap berada di angka £481 juta atau sekitar Rp9,6 triliun, dengan biaya keuangan yang harus dibayar mencapai £22,6 juta atau Rp452 miliar.

Kenaikan Utang Perdagangan

Utang perdagangan juga mengalami peningkatan. Kewajiban jangka pendek meningkat dari £309,5 juta menjadi £323,4 juta (sekitar Rp6,5 triliun), sementara kewajiban jangka panjang bertambah dari £210,6 juta menjadi £216,3 juta atau sekitar Rp4,3 triliun. Secara keseluruhan, total utang klub naik £54,8 juta hingga menembus £1,29 miliar.

Sir Jim Ratcliffe, pemilik minoritas klub, sebelumnya mengakui bahwa Manchester United masih menanggung beban transfer pemain warisan manajemen lama. Ia menyebut bahwa klub masih membayar pemain yang tidak mereka beli, dan itu adalah bagian dari masa lalu yang harus segera diselesaikan.

Penghematan Biaya dan Pemutusan Hubungan Kerja

Untuk menekan pengeluaran, manajemen melakukan dua gelombang pemutusan hubungan kerja yang memangkas jumlah karyawan dari 1.150 menjadi 700 orang. Sejumlah fasilitas staf, termasuk makan siang gratis, juga dihapus. Kebijakan ini berhasil menurunkan beban gaji sebesar £6,6 juta menjadi £73,6 juta atau sekitar Rp1,47 triliun, setara 52,5 persen dari total pendapatan klub.

Meski laba operasional meningkat dibandingkan kerugian £6,9 juta tahun lalu, kondisi keuangan United belum sepenuhnya membaik. Setelah memperhitungkan biaya keuangan £22,6 juta, laba tersebut justru berubah menjadi rugi bersih sekitar £8,4 juta atau Rp168 miliar.

Dampak Kegagalan Lolos Kompetisi Eropa

Situasi semakin memburuk karena kegagalan United lolos ke kompetisi Eropa musim ini. Pendapatan klub turun dari £143,1 juta menjadi £140,3 juta atau sekitar Rp2,8 triliun, seiring menurunnya pemasukan komersial, hari pertandingan, dan siaran.

Pendapatan sponsor juga terpangkas £4,8 juta menyusul berakhirnya kerja sama apparel latihan, meski klub mengklaim masih menjalin pembicaraan positif dengan mitra baru.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini