Kembali Terjadi, Kasus Keracunan Makanan di Sekolah Ciamis
Kasus keracunan makanan kembali terjadi di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Kali ini menimpa sejumlah siswa di Kecamatan Kawali. Kejadian ini mengkhawatirkan karena diduga berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diberikan oleh pemerintah.
Hingga Jumat (3/10/2025) malam pukul 19.00 WIB, jumlah korban yang mendapat penanganan di Puskesmas Kawali mencapai 21 orang. Kepala Puskesmas Kawali, dr. Aang Kurniawan, menjelaskan bahwa awalnya hanya ada 10 siswa yang dirawat. Namun jumlah tersebut terus bertambah seiring dengan kedatangan siswa-siswa lainnya.
“Awalnya datang 8 siswa, lalu dua orang lagi, jadi ada 10 siswa dari SDN 1 Sindangsari. Kemudian bertambah dua orang, disusul seorang siswa dari SDN 5 Karangpawitan dan seorang siswa MI Pogorsari. Total sore tadi 14 orang, dan malam harinya menjadi 21 orang,” ujar dr. Aang Kurniawan, Sabtu (4/10/2025).
Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, menyampaikan keprihatinannya atas kejadian ini. Ia menilai kasus keracunan makanan di sekolah sudah terjadi dua kali dalam seminggu. “Sangat prihatin ya, ini di Ciamis sudah dua kali. Tiga hari lalu di SMPN 4 Pamarican, sekarang di Kawali,” kata Bupati.
Herdiat juga menyoroti kelalaian dalam pengelolaan dapur penyedia MBG. Menurutnya, pengelolaan dapur dinilai ceroboh dan kurang memperhatikan aspek higienitas. “Informasi dari anak-anak, makanan yang diberikan tidak seperti biasa. Ada bubur kacang yang berbau dan berlendir. Saya sudah menerima laporan, dapur SPPG di Kawali ditutup sementara sampai batas waktu yang belum ditentukan,” tegas Bupati.
Ia meminta agar seluruh pengelola dapur MBG di Ciamis dan daerah lain meningkatkan standar kebersihan. “Ini program pemerintah pusat, program Presiden, jadi harus ditangani serius. Jangan sampai hanya mengejar keuntungan sementara kesehatan anak-anak diabaikan,” tambahnya.
Saat ini, sebagian korban sudah diperbolehkan pulang, sementara beberapa siswa masih dirawat di Puskesmas Kawali. Pemerintah daerah bersama dinas terkait akan terus memantau kondisi korban sekaligus mengevaluasi dapur penyedia MBG.
Penyebab dan Dampak Keracunan
Dari informasi yang diperoleh, makanan yang diberikan kepada siswa diduga tidak layak dikonsumsi. Beberapa siswa melaporkan adanya rasa atau aroma yang tidak biasa pada makanan tersebut. Hal ini memicu gejala keracunan seperti mual, muntah, dan sakit perut.
Kejadian ini menunjukkan pentingnya pengawasan terhadap proses penyajian makanan di sekolah. Program MBG yang seharusnya memberikan manfaat bagi kesehatan anak-anak justru berpotensi membahayakan jika tidak dikelola dengan baik.
Langkah yang Diambil
Bupati Ciamis telah memerintahkan penutupan sementara dapur SPPG di Kawali. Selain itu, pihaknya juga akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan dapur penyedia MBG di seluruh wilayah kabupaten. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa semua prosedur higienis dan keamanan makanan dipatuhi secara ketat.
Pemerintah daerah juga berkomitmen untuk bekerja sama dengan dinas kesehatan dan instansi terkait lainnya. Diharapkan langkah-langkah ini dapat mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.
Kesimpulan
Kasus keracunan makanan di Kecamatan Kawali menunjukkan bahwa pengelolaan program MBG memerlukan perhatian lebih. Dengan adanya kejadian ini, penting bagi pihak-pihak terkait untuk terus meningkatkan pengawasan dan standar kebersihan dalam penyajian makanan. Kesehatan dan keselamatan siswa harus menjadi prioritas utama dalam setiap program yang diberikan oleh pemerintah.
