Beranda News Kapolda Jatim Jawab Tuntas Soal Penyebab Robohnya Ponpes Al Khoziny Sidoarjo

Kapolda Jatim Jawab Tuntas Soal Penyebab Robohnya Ponpes Al Khoziny Sidoarjo

0
127

Penyelidikan Kecelakaan Mushala di Ponpes Al Khoziny Masih Berlangsung

Penyelidikan terkait kejadian runtuhnya mushala di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo, masih berlangsung. Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur, Inspektur Jenderal Polisi Nanang Avianto, menegaskan bahwa penyelidikan ini sedang dilakukan secara menyeluruh. Kejadian tersebut terjadi pada Senin 29 September 2025, dan hingga saat ini pihak kepolisian masih mencari tahu penyebab pasti dari peristiwa tersebut.

Nanang menjelaskan bahwa proses penyelidikan tidak bisa dilakukan hanya dengan pendekatan biasa. “Ini harus dilihat dari awal semuanya. Dari proses saat runtuhnya ini sudah kita dokumentasikan, kita ambil dokumentasinya. Dan ini harus sampai menyeluruh penyelidikannya dan kita juga harus ada panduan dari tim ahli konstruksi,” ujarnya kepada wartawan setelah meninjau lokasi bangunan runtuh di Ponpes Al Khoziny, Jumat 3 Oktober 2025.

Menurut Kapolda, jika tidak melihat proses pembangunan dari bawah hingga atas, maka hasil penyelidikan tidak akan maksimal. Ia juga menekankan bahwa penyelidikan ini tidak bisa dilakukan sendiri oleh kepolisian. Oleh sebab itu, dibutuhkan bantuan tim ahli, terutama yang memahami konstruksi pembangunan. “Nah inilah yang harus kami lihat nanti, tapi yang jelas utamanya saat ini adalah masalah kemanusiaan,” tambah Nanang.

Fokus pada Kemanusiaan

Kapolda Jatim menyampaikan bahwa saat ini pihaknya fokus melakukan pendataan korban ambruknya mushala Ponpes Al Khoziny. Pendataan dibagi menjadi tiga klaster, yaitu santri, pengurus pesantren, dan pekerja pembangunan. “Sementara pendataan dulu dan kita juga sudah pendataan, fokus pada kemanusiaan,” ujarnya.

Dari data yang dikumpulkan, tercatat sebanyak 53 orang korban masih belum ditemukan. Proses pencarian terus dilakukan dengan penuh kehati-hatian, terutama dalam penggunaan alat berat untuk mengangkat material bangunan. “Tentunya tidak sembarangan (dalam mencari) sehingga kami libatkan tenaga ahli mengenai konstruksi dan bangunan, dari ITS, PUPR, sehingga pada saat melakukan pemindahan ini, kami harus hati-hati juga karena di situ masih ada beberapa jenazah,” jelas Nanang.

Doa dan Harapan Keluarga Korban

Di tengah proses evakuasi, keluarga korban terus menanti kabar. Seorang kakek bernama Saidi, warga Sukodono, berharap cucunya yang menjadi korban runtuhnya mushala Ponpes Al Khoziny segera ditemukan. Cucu Saidi bernama Muhammad Adam Virdiansyah, berusia 13 tahun, tercatat sebagai salah satu santri yang berada di lokasi saat bangunan runtuh.

“Saya tidak minta apa-apa, hanya ingin bisa bertemu cucu saya, apapun kondisinya,” ucap Saidi saat ditemui wartawan di Posko SAR gabungan, Jumat 3 Oktober 2025. Saidi menceritakan bahwa cucunya dikenal sebagai anak pendiam dan sejak kecil sudah berkeinginan mondok di pesantren. “Dia sendiri yang minta mondok, sejak lulus SD sudah bilang ingin masuk pesantren,” tambahnya.

Ia menambahkan, setiap pagi dirinya datang ke lokasi evakuasi untuk menunggu kabar terbaru dari tim SAR. “Setiap hari saya hanya berdoa agar cepat ketemu,” tutur Saidi.

Hingga Jumat petang, data dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mencatat sebanyak 116 orang berhasil dievakuasi dari reruntuhan musala Ponpes Al Khoziny. Proses pencarian dan evakuasi terus berlangsung dengan penuh kesabaran dan kerja sama antara berbagai pihak, termasuk para ahli konstruksi dan tim SAR.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini