Jejak Hacker Bjorka, Bobol 4,9 Juta Data Nasabah, Ini Cara Menghindari Pelacakan

0
162

Rekam Jejak Hacker Bjorka yang Ditangkap oleh Polda Metro Jaya

WTF, seorang hacker yang dikenal dengan nama Bjorka, akhirnya ditangkap oleh penyidik Polda Metro Jaya. Penangkapan ini dilakukan ketika ia berada di kawasan Kabupaten Minahasa pada hari Selasa (23/9/2025). Meski usianya tergolong muda, jejak kejahatan siber yang dilakukannya cukup mengkhawatirkan.

Berdasarkan pengakuan pelaku, ia belajar menjadi hacker secara otodidak melalui media sosial. Selama ini, ia sering menghabiskan waktu di depan komputer untuk mempelajari teknik-teknik hacking. Dengan kemampuannya tersebut, WTF berhasil membobol data nasabah hingga mencapai angka 4,9 juta akun.

Selain itu, pelaku juga dikenal sebagai sosok yang sangat lincah dalam menjalankan aktivitasnya di dunia gelap atau dark web. Ia telah beroperasi sejak tahun 2020 dan sering berganti-ganti nama untuk menyamarkan identitasnya. Beberapa nama yang pernah digunakan antara lain adalah darkforum.st, SkyWave, Shint Hunter, Oposite6890, dan lainnya.

Untuk memperkuat alibi dan kesulitan dalam dilacak, WFT rutin mengganti email, nomor telepon, hingga akun kripto. Hal ini membuat proses penelusuran lebih sulit bagi aparat penegak hukum. Di dunia siber, banyak akun anonim menjual berbagai jenis data, termasuk data pribadi hasil peretasan dan serangan ransomware.

Pihak kepolisian internasional seperti Interpol, FBI, serta kepolisian Prancis dan Amerika Serikat telah menutup platform-platform yang digunakan oleh WFT. Namun, meskipun begitu, pelaku tetap bisa beralih ke platform lain. Perangkat bukti digital yang ditemukan masih tersimpan dalam bentuk jejak digital di perangkat-perangkat tersebut.

Sosok di Balik Nama WFT

Menurut Wakil Direktur Reserse Siber Polda Metro Jaya, AKBP Fian Yunus, WFT bukanlah seorang ahli IT. Ia hanya lulusan SMK yang tidak lulus ujian. Namun, secara otodidak, ia terus mempelajari ilmu-ilmu terkait teknologi informasi melalui media sosial dan komunitas-komunitas online.

Sementara itu, Kasubdit IV Direktorat Reserse Siber Polda Metro Jaya, AKBP Herman Edco Wijaya Simbolon, memastikan bahwa WFT bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain. Ia tidak memiliki pekerjaan tetap dan setiap hari hanya menghabiskan waktunya di depan komputer. Sejak 2020, ia mulai mengenal dan mempelajari komunitas dark web.

Hasil dari aktivitasnya di dunia siber, yaitu penjualan data, memberikan pendapatan yang cukup besar. Nilainya bisa mencapai puluhan juta rupiah, tergantung kesepakatan antara pelaku dan pembeli. Uang tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Fian menjelaskan bahwa WFT merupakan anak yatim piatu yang harus menghidupi seluruh keluarga. Ia adalah anak tunggal yang berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Meski demikian, Fian belum bisa memastikan apakah WFT benar-benar Bjorka yang sempat menghebohkan Indonesia.

Keterkaitan dengan Bjorka

Dalam dunia siber, istilah “everybody can be anybody” sering digunakan. Oleh karena itu, polisi masih melakukan pendalaman lebih lanjut terkait keterkaitan antara WFT dengan Bjorka. Meski ada kemungkinan bahwa WFT adalah Bjorka, namun sampai saat ini belum ada konfirmasi pasti.

Penyidik masih mengumpulkan bukti-bukti digital dan data-data yang ditemukan. Proses ini akan terus dilakukan agar dapat memastikan hubungan antara WFT dengan Bjorka. Sampai saat ini, Fian hanya bisa menjawab dengan “mungkin” terkait pertanyaan tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini