KGPH Dipokusumo, Penerima Gelar dari Malaysia di PB XIV Purboyo

0
131

Profil KGPH Dipokusumo, Tokoh Penting di Lingkungan Keraton Surakarta

KGPH Dipokusumo adalah sosok penting dalam lingkungan Keraton Surakarta. Ia dikenal sebagai tokoh yang memiliki peran strategis dalam berbagai aspek kehidupan keraton dan masyarakat. Selain itu, ia juga aktif dalam bidang intelektual dan kebudayaan, sehingga menjadi contoh bagi banyak orang.

Latar Belakang dan Posisi dalam Keraton

KGPH Dipokusumo lahir dari pernikahan Pakubuwono XII dengan istri kedua, KRAy Retnodiningrum. Ia merupakan saudara kandung Maha Menteri Keraton Solo, KGPA Tedjowulan. Sejak kecil, ia dikenal dengan nama GRM Surya Suparta sebelum akhirnya menyandang gelar yang digunakannya saat ini.

Dalam struktur Keraton Surakarta, KGPH Dipokusumo menjabat sebagai Pengageng Parentah, posisi yang berkaitan dengan tata kelola keraton. Selain menjalankan tugas-tugas adat, ia juga aktif dalam berbagai kegiatan intelektual dan kebudayaan.

Kontribusi dalam Dunia Akademik dan Budaya

KGPH Dipokusumo tidak hanya berperan sebagai bangsawan keraton, tetapi juga sebagai dosen, pembicara publik, serta aktivis budaya. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Hubungan Internasional (HI) Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo. Selain itu, ia juga menjadi anggota Dewan Penasihat Nusantara Institute, lembaga yang bergerak di bidang riset ilmiah, publikasi, studi akademik, dan pengembangan scholarship tentang ke-Nusantaraan.

Selain itu, KGPH Dipokusumo juga aktif dalam berbagai lembaga kebudayaan dan pelestarian warisan sejarah. Ia menjadi anggota tim ahli Cagar Budaya Surakarta, Dewan Kurator Museum Keris Surakarta, serta bagian dari tim ahli Jaringan Kota Pusaka. Di samping itu, ia juga terlibat dalam berbagai organisasi masyarakat, baik sebagai pengurus maupun penasihat, seperti Forum Lintas Lembaga Adat dan Tradisi Budaya Indonesia, Forum Lintas Agama dan Golongan, Perhimpunan Pedalangan Indonesia, hingga Komite Bahasa Jawa.

Penghargaan dan Keberhasilan

KGPH Dipokusumo pernah menerima gelar kehormatan dari Kerajaan Negeri Sembilan, Malaysia, yang menandai pengakuan atas kontribusinya dalam pelestarian budaya dan hubungan antarnegara. Selain itu, ia juga menerima kekancingan atau surat penetapan resmi yang dikeluarkan Keraton Solo setelah prosesi jumenengan selesai.

Jumenengan adalah upacara adat Jawa yang menandai kenaikan takhta seorang raja atau penguasa kerajaan. Dalam acara tersebut, Pakubuwono XIV Hamangkunegoro memberikan kekancingan kepada lima kerabat, termasuk KGPH Dipokusumo. Acara ini dilaksanakan pada Sabtu (15/11/2025), setelah prosesi jumenengan selesai.

Pemimpin Baru Keraton Solo

Pakubuwono XIV Hamangkunegoro, yang kini menjadi raja baru Keraton Solo, mengumumkan bahwa Keraton akan menggunakan bebadan atau kepengurusan sendiri. Hal ini disampaikan oleh GKR Timoer, yang menjelaskan bahwa setiap kepemimpinan baru akan melantik bebadan baru sesuai keputusan atau pandangan raja.

Meskipun demikian, GKR Timoer belum dapat memastikan kapan bebadan baru akan diumumkan. Proses ini menunjukkan bahwa Keraton Solo terus beradaptasi dengan dinamika kehidupan modern, sambil tetap menjaga nilai-nilai tradisional dan adat istiadat.

Pidato Raja Baru

Dalam pidatonya sebagai Raja Baru Keraton Solo, Gusti Purbaya menyampaikan janji-janji untuk menjalankan kepemimpinan secara adil, menjaga kelestarian budaya, dan mendukung Republik Indonesia. Ia juga berjanji akan melestarikan adat dan tradisi Keraton Solo, serta menjaga tata cara upacara dan warisan luhur para raja Mataram.

Pidato ini menunjukkan komitmen Gusti Purbaya untuk menjaga keutuhan dan kebesaran Keraton Surakarta Hadiningrat, sekaligus menjalin hubungan yang harmonis dengan negara dan masyarakat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini