Beranda Berita MDKA Luncurkan Proyek Tambang Tembaga Tujuh Bukit

MDKA Luncurkan Proyek Tambang Tembaga Tujuh Bukit

0
567



PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) saat ini sedang mempercepat pengembangan proyek Tambang Tembaga Tujuh Bukit di Banyuwangi, Jawa Timur. Proyek ini dikelola melalui anak perusahaan MDKA, yaitu PT Bumi Suksesindo (BSI). Kehadiran proyek tambang bawah tanah ini diharapkan mampu memperkuat posisi MDKA sebagai salah satu pemain utama dalam industri pertambangan tembaga nasional.

General Manager Communications Merdeka Copper Gold, Tom Malik, menjelaskan bahwa proyek Tambang Tembaga Tujuh Bukit terletak tepat di bawah Tambang Emas Tujuh Bukit yang saat ini sedang beroperasi. Proses eksplorasi untuk proyek ini telah dimulai sejak 2018 dan hingga kini telah menyerap dana investasi sekitar US$ 250 juta.

Saat ini, proyek Tambang Tembaga Tujuh Bukit sedang menjalani studi kelayakan atau feasibility study (FS), yang ditargetkan selesai pada 2025. Karena lokasinya yang berada di bawah tanah dan dekat dengan pesisir laut, proses pengembangan proyek ini dinilai lebih kompleks dibandingkan proyek tambang bawah tanah lainnya seperti PT Freeport Indonesia.

“Untuk melakukan eksplorasi, kami membangun terowongan sepanjang 2 kilometer dan titik paling bawah sekitar 80 meter di bawah permukaan laut,” ujar Tom saat sesi Workshop bersama awak media, Jumat (7/11/2025).

Proyek Tambang Tembaga Tujuh Bukit akan menghasilkan komoditas tembaga dan emas. Potensi kedua komoditas ini sangat besar di dalam proyek tersebut. Berdasarkan Mineral Estimate (MRE) terbaru, terjadi peningkatan jumlah sumber daya mineral terindikasi pada proyek ini. Total sumber daya mineral terindikasi naik dari 442 juta ton menjadi 755 juta ton. Kandungan tembaga meningkat dari 8,1 juta ton menjadi 8,2 juta ton, sedangkan kandungan emas meningkat dari 27,4 juta ons troi menjadi 27,9 juta ons troi.

Tom menambahkan bahwa proyek Tambang Tembaga Tujuh Bukit diperkirakan dapat memproduksi sekitar 115.000–120.000 ton tembaga per tahun. Jika proyeksi ini terealisasi, maka Tambang Tembaga Tujuh Bukit akan menjadi tambang tembaga terbesar ketiga di Indonesia, setelah Tambang Grasberg Freeport Indonesia dengan produksi tahunan sekitar 800.000 ton dan Tambang Batu Hijau Amman Mineral Nusa Tenggara sekitar 300.000 ton.

“Tambang ini bisa menambah kapasitas produksi tembaga di Indonesia sekitar 10%–15%,” kata dia.

Tom tidak menyebut secara gamblang target produksi untuk proyek Tambang Tembaga Tujuh Bukit. Namun, ia berharap proyek ini akan beroperasi sebelum umur Tambang Emas Tujuh Bukit yang berada di area open pit habis sekitar 2029 atau 2030. Maka dari itu, studi kelayakan yang dilakukan MDKA ditujukan agar transisi dari tambang terbuka ke tambang bawah tanah Tujuh Bukit bisa berjalan lancar.

“Setelah FS selesai nanti ada evaluasi, baru sesudahnya masuk ke tahap konstruksi dan setelah itu produksi. Kami harapkan ada transisi langsung dengan tambang terbuka tanpa perlu jeda operasional,” jelas dia.

Sebagai catatan, MDKA masih mengoperasikan Tambang Emas Tujuh Bukit dengan metode open pit di area seluas 992 hektare (Ha). Tambang ini menghasilkan komoditas emas dan perak, di mana emas yang telah diproduksi sudah mencapai lebih dari 1 juta ons troi.

Sedangkan untuk 2025, tambang ini ditargetkan dapat memproduksi sekitar 100.000–110.000 ons troi emas dengan cash cost sekitar US$ 1.000–US$ 1.100 per ons troi.

Sebelum berekspansi melalui proyek Tambang Tembaga Tujuh Bukit, MDKA juga telah mengoperasikan Tambang Tembaga Wetar di Maluku Barat Daya yang menghasilkan komoditas mineral tembaga, emas, dan pirit. Pada 2025, tambang ini diharapkan dapat menghasilkan sekitar 9.500–11.500 ton tembaga dengan cash cost sekitar US$ 1,60–US$ 2,20 per pound.

MDKA Chart

by TradingView

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini