Beranda Berita Menlu Abbas Umumkan Selat Hormuz Dibuka, Iran: Terbatas dan Berbayar

Menlu Abbas Umumkan Selat Hormuz Dibuka, Iran: Terbatas dan Berbayar

0
2

Pengumuman Pembukaan Selat Hormuz Menimbulkan Polemik

Pengumuman dari pihak Iran yang menyatakan bahwa Selat Hormuz telah sepenuhnya terbuka kini menimbulkan berbagai perdebatan dan ketidakpastian. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan hal ini melalui media sosial X, menjelaskan bahwa mulai Jumat (17/4/2026), jalur pelayaran tersebut akan terbuka bagi semua kapal komersial selama masa gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.

Menurut pernyataan Araghchi, semua kapal komersial dapat melewati Selat Hormuz dengan rute yang terkoordinasi, sebagaimana diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran. Pernyataan ini dikeluarkan setelah adanya kesepakatan damai antara dua negara tersebut.

Namun, tidak lama setelah pengumuman tersebut, pemerintah Iran dilaporkan memberikan penjelasan tambahan kepada para mediator bahwa pembukaan jalur laut tersebut masih bersifat terbatas. Teheran tetap akan membatasi jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz serta menerapkan tarif tol, seperti yang dilaporkan oleh Wall Street Journal pada hari yang sama.

Pembatasan yang Masih Berlaku

Berdasarkan informasi dari beberapa pejabat yang memahami situasi tersebut, setiap kapal yang melintasi jalur pelayaran vital ini harus berkoordinasi dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). IRGC juga akan tetap memiliki kendali untuk memblokir kapal-kapal yang berasal dari negara-negara yang dianggap musuh oleh Iran.

Detail tentang pembatasan ini muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran mengunggah pernyataannya di media sosial X. Namun, pernyataan tersebut segera diperjelas oleh anggota tim perunding Iran. Mahmoud Nabavian, seorang anggota parlemen konservatif sekaligus anggota tim perunding dengan AS, menyampaikan bahwa hanya beberapa kapal komersial yang akan diizinkan melewati Selat Hormuz dengan syarat membayar tol.

Ali Khezrian, anggota Komisi Keamanan Nasional di Parlemen Iran, juga mengonfirmasi bahwa penarikan biaya atau tarif tersebut akan terus diberlakukan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada pengumuman pembukaan, Iran tetap ingin mempertahankan kontrol atas jalur laut strategis ini.

Dampak bagi Negara-Negara Produsen Energi

Rencana Iran untuk memegang peran permanen dalam administrasi jalur air tersebut memicu alarm bagi negara-negara produsen energi di kawasan Teluk. Pasalnya, negara-negara tersebut sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk sebagian besar ekspor mereka. Tidak hanya di kawasan Teluk, kekhawatiran juga meluas hingga ke konsumen energi di Eropa dan Asia.

Ketidakpastian akses di salah satu jalur perdagangan minyak terpenting dunia ini dinilai dapat mengganggu stabilitas pasokan energi global. Sejumlah analis khawatir bahwa pembatasan yang diberlakukan oleh Iran bisa berdampak pada harga minyak dan stabilitas pasar global.

AS Tetap Melanjutkan Blokade

Sementara itu, Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa blokade angkatan lautnya di Selat Hormuz akan tetap berlaku sampai kesepakatan damai ditandatangani. Donald Trump, mantan Presiden AS, menyampaikan pernyataan di Truth Social bahwa blokade akan tetap berlaku sepenuhnya, hanya untuk Iran, sampai transaksi dengan Iran selesai 100 persen.

“Selat Hormuz telah sepenuhnya terbuka dan siap untuk kegiatan bisnis dan pelayaran penuh, tetapi blokade angkatan laut akan tetap berlaku sepenuhnya, hanya untuk Iran, sampai transaksi kita dengan Iran selesai 100 persen,” ujar Trump.

Menurut laporan Al Jazeera, peluang AS mencabut blokade di Selat Hormuz laut memang tidak pernah tinggi karena Trump melihat itu sebagai cara untuk memberikan tekanan lebih besar pada Iran. Ia merasa masih ada beberapa isu yang belum terselesaikan, termasuk memastikan bahwa Teheran tidak memiliki senjata nuklir.


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini