BANJARNEGARA, Reformasi.co.id
Proses pencarian korban longsor yang terjadi di Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, telah memasuki hari keenam. Pencarian ini dilakukan hingga hari Jumat (21/11/2025), dengan masih ada 18 orang yang hilang akibat peristiwa tersebut.
Menurut laporan dari sumber lokal, personel SAR gabungan terus berupaya mencari belasan korban yang diduga tertimbun tanah longsor. Upaya pencarian dipercepat dengan mengerahkan alat berat dan anjing pelacak atau K9.
Kepala Basarnas Marsda Mohammad Syafii menjelaskan bahwa proses pencarian dibagi menjadi tiga sektor utama, yaitu sektor A, B, dan C. Dalam konferensi pers, ia menyampaikan bahwa setiap sektor akan dibagi lagi menjadi beberapa worksite sesuai dengan jumlah peralatan yang digunakan.
Ia juga menekankan bahwa operasi SAR di Banjarnegara mengedepankan kehati-hatian, karena masih ada retakan tanah yang berpotensi menyebabkan longsoran susulan. “Retakan-retakan tersebut bisa memicu longsoran tambahan jika kembali terkena hujan,” ujarnya.
Sebelumnya, longsor di Desa Pandanarum terjadi pada Sabtu (15/11) sore, sekitar pukul 16.00 WIB. Peristiwa ini terjadi usai hujan lebat mengguyur Kawasan Desa Situkung, Pandanarum. Lokasi longsor tepatnya berada di Dusun Situkung, yang mengakibatkan korban meninggal dunia dan korban hilang.
Berdasarkan informasi dari Kepala Basarnas, sejak peristiwa terjadi hingga hari kelima pencarian, sebanyak 10 orang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Angka ini bertambah setelah tim SAR gabungan berhasil menemukan tujuh korban meninggal dunia pada Kamis kemarin. Dari tujuh korban tersebut, dua di antaranya hanya berupa bagian tubuh atau potongan tubuh.
“Hingga hari ini sudah ketemu 10 korban (meninggal), di dalamnya ada body part,” kata Kepala Basarnas.
Pencarian korban yang hilang masih terus dilakukan, dengan harapan dapat menemukan semua korban yang belum ditemukan. Proses ini tetap memperhatikan keselamatan petugas dan lingkungan sekitar, mengingat potensi risiko longsoran susulan masih ada.
Beberapa upaya penanganan darurat juga dilakukan, termasuk pembersihan area longsor dan penyediaan bantuan logistik bagi warga yang terdampak. Masyarakat di sekitar lokasi longsor diminta untuk tetap waspada dan mengikuti instruksi dari pihak berwenang.
Selain itu, pemerintah daerah dan organisasi bantuan sosial juga turut berpartisipasi dalam membantu korban dan keluarga mereka. Diharapkan dengan kolaborasi yang baik, proses pencarian dan penanganan bencana dapat berjalan lebih efektif dan cepat.
