Insiden Keracunan Massal di Garut Mengguncang Masyarakat
Sejumlah siswa dan seorang guru dilaporkan menjadi korban dugaan keracunan setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut. Kejadian ini terjadi pada Selasa (30/9/2025), yang kemudian memicu kekhawatiran dari pihak berwenang dan menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).
Menurut informasi yang diperoleh, jumlah korban terus meningkat sejak siang hingga sore hari. Kepala Puskesmas Kadungora, Noni Cahyana, menyebutkan bahwa data yang masuk ke UGD mencapai 19 orang yang dirawat. Dalam waktu singkat, angka tersebut bertambah sekitar sembilan atau sepuluh orang. Korban terbanyak berasal dari jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), dengan beberapa sekolah teridentifikasi seperti SMP Negeri Wanaraja, SMP PGRI, dan SMP Negeri Kadungora. Sementara itu, hanya dua siswa dari jenjang Sekolah Dasar (SD) yang dilaporkan ikut dirawat.
Salah satu hal yang menarik perhatian adalah fakta bahwa guru yang menjadi korban disebut sebagai orang pertama yang mencicipi makanan sebelum disajikan. “Guru itu adalah tester makanan pertama,” ujar Noni, yang mengindikasikan bahwa gejala keracunan muncul tak lama setelah konsumsi. Hal ini memperkuat dugaan bahwa sumber keracunan berasal dari makanan yang dikonsumsi di sekolah.
Respons Pemerintah Kabupaten Garut
Menanggapi lonjakan kasus, Pemerintah Kabupaten Garut menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk dugaan keracunan massal tersebut. Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menyatakan bahwa penetapan ini didasarkan pada kebutuhan penanganan khusus mengingat jumlah korban yang cukup banyak. “Kita nyatakan sebagai KLB,” ujarnya usai meninjau kondisi para pasien.
Dalam keputusan tersebut, biaya penanganan korban akan ditanggung melalui pos Biaya Tak Terduga (BTT) 2025. Bupati juga menginstruksikan jajaran desa, kecamatan, serta TNI/Polri agar segera menelusuri dan merespons warga yang menunjukkan gejala keracunan setelah mengonsumsi MBG. Selain itu, dapur penyaji MBG di wilayah tersebut pun ditutup sementara sebagai langkah pencegahan.
Laporan Tentang Korban dan Gejala yang Dialami
Laporan sementara menyebut bahwa hingga malam harinya, sebanyak 131 orang telah mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Kadungora dan Puskesmas Leles. Berdasarkan laporan dari berbagai media, siswa mulai berdatangan ke Puskesmas sejak siang hari.
Seorang siswa mengaku tiba-tiba merasakan pusing dan kehilangan kesadaran setelah menyantap makanan. Seorang staf sekolah yang mencicipi bahan makanan, yang kemudian menjadi korban, menceritakan gejala seperti lemas dan mual setelah menyantap edamame dan menu lain. Selain itu, seorang siswa juga mencatat bahwa setelah mengonsumsi susu bantal bersama makanan, kondisi kesehatannya memburuk.
Upaya Penanganan dan Pencegahan
Pihak berwenang terus berupaya menangani situasi ini secara cepat dan efektif. Penutupan sementara dapur penyaji MBG dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran lebih lanjut. Selain itu, pihak dinas kesehatan juga aktif melakukan surveilans terhadap korban dan memberikan layanan kesehatan yang optimal.
Kemungkinan besar, investigasi akan dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti dari kejadian ini. Hal ini penting untuk memastikan tidak terulangnya insiden serupa di masa depan. Dengan adanya respons yang cepat dan komprehensif, diharapkan masyarakat dapat kembali merasa aman dan percaya terhadap program MBG yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah.



