Beranda Berita Warga Ketol Masih Melewati Jembatan Sling

Warga Ketol Masih Melewati Jembatan Sling

0
25

Kondisi Warga di Kecamatan Ketol yang Masih Menghadapi Tantangan

Penderitaan warga di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, belum benar-benar usai. Meski bencana banjir bandang dan tanah longsor telah berlangsung selama sebulan, jembatan yang rusak masih menjadi satu-satunya akses penghubung antar kampung. Akibatnya, ribuan warga dari tiga kampung di kecamatan tersebut masih bertaruh nyawa untuk menyeberangi sungai menggunakan sisa-sisa kabel listrik dan beberapa batang bambu sebagai penyangga.

Jembatan Darurat yang Membahayakan

Hingga Minggu (28/12/2025), seribuan warga dari Kampung Bergang, Karang Ampar, dan Kampung Pantan Reuduek atau Peuteng masih harus melintasi “jembatan gantung” sepanjang lebih dari 50 meter dengan ketinggian sekitar 10 meter. Jalur ini menjadi pilihan terakhir bagi warga untuk bisa menyeberang.

Warga bertaruh nyawa demi memenuhi kebutuhan pokok atau mengangkut hasil pertanian menjadi pemandangan memilukan setiap hari. Pantauan TribunGayo.com menunjukkan bahwa ibu-ibu hingga para remaja dengan barang di punggung, perlahan berjalan di atas kabel dan bambu sebagai penyangga.

Meskipun dihantui rasa takut, masyarakat tetap nekat melintasi jembatan ini dengan penuh harapan agar bisa bertahan hidup. Warga sangat berharap pemerintah dapat segera membangun akses jembatan layak agar aktivitas ekonomi berjalan tanpa harus mempertaruhkan nyawa.

Harapan Warga untuk Jembatan yang Layak

Latifah Nyakcut, seorang ibu paruh baya, mengatakan bahwa meskipun sangat takut, ia terpaksa menyeberang menggunakan kabel listrik demi memenuhi kebutuhan pokok. Ia juga menyebut bahwa bantuan dari pemerintah sudah ada, tapi jumlahnya jauh dari cukup. “Mau gimana, demi memenuhi kebutuhan, bantuan ada, tapi gak cukup, terpaksa kami menyeberang ke Reronga (Bener Meriah) untuk berbelanja,” ujarnya.

Tak banyak harapan yang dititipkan untuk pemerintah, sambil berlinang air mata, Latifah hanya berharap jembatan layak agar segera dibangun. Supaya masyarakat lebih mudah berbelanja dan dapat mengangkut hasil pertanian tanpa harus bertaruh nyawa.

“Satu aja harapan kami, jembatan yang layak secepatnya dibangun, banyak hasil kebun didalam tak bisa diangkut, kalau ada jembatan dan ada hasil kebun, kami cukup memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari,” paparnya.

Dampak pada Ekonomi Warga

Selain jembatan darurat dari kabel listrik dan bambu, ada juga beberapa gantungan kabel atau sling yang juga bisa diseberangi warga. Lokasinya di wilayah Kampung Simpang Rahmat, Kecamatan Gajah Putih, Bener Meriah. Jalur ini merupakan jalur antar kampung di Bener Meriah dan Aceh Tengah.

Rusaknya akses jembatan akibat diterjang banjir bandang dan tanah longsor tidak hanya menyulitkan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tapi juga terkendala dalam memasarkan hasil pertanian dan perkebunan. Seperti yang dirasakan warga Kampung Bergang, Karang Ampar, dan Kampung Pantan Reuduek, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah.

Karena kesulitan mendistribusikan, harga buah durian dari kampung tersebut yang biasanya dijual Rp 20.000-Rp 40.000 per buah, kini hanya dihargai Rp 8.000-Rp 10.000/buah. “Gak sesuai lagi harganya. Sekarang harus ada ongkos tambahan untuk menyeberangkan. Dari sebelah sungai dibayar ongkos lagi menuju Ronga-Ronga, maka di tingkat petani harganya anjlok sekali. Tak karuan lagi harga durian kami sekarang,” keluh M Yasin, seorang petani.

Dia dan warga lain berharap adanya bantuan dari pemerintah daerah, terutama dalam hal perbaikan akses jalan agar hasil bumi mereka bisa segera dipasarkan ke luar daerah sebelum musim panen berakhir.

“Terpenting sekali kami butuh jalan segera diperbaiki, agar hasil keringat kami tidak terbuang sia-sia. Banyak masih lagi hasil kebun kami di seberang sungai belum terambil. Kalau jalan sudah bisa dilalui, perkara kebutuhan pokok dapat kami upayakan sendiri,” pungkasnya.


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini