Adaptasi Bisnis Jadi Kunci Bertahan di Tengah Dinamika Ekonomi Global

0
4
Adaptasi Bisnis Jadi Kunci Bertahan di Tengah Dinamika Ekonomi Global
Pedagang merapikan minyak goreng yang dijual di Pasar Kosambi, Bandung, Jawa Barat, Senin (3/8/2025). (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Perubahan ekonomi global yang semakin dinamis menghadirkan tantangan kompleks bagi dunia usaha di Indonesia. Para pelaku bisnis tidak dapat lagi mengandalkan strategi lama untuk bertahan, melainkan harus mampu beradaptasi, membaca perubahan pasar, dan menemukan sumber pertumbuhan baru.

Chief Economist Indonesian Business Council (IBC), Denni Purbasari, menekankan pentingnya perusahaan untuk membaca lingkungan bisnis dan mengidentifikasi sumber pertumbuhan baru agar tetap eksis dan berkembang. Tantangan ekonomi saat ini menuntut perusahaan memiliki kemampuan adaptasi yang lebih kuat.

Menurut Denni, dunia usaha tidak bisa hanya menunggu kondisi ekonomi kembali normal, karena perubahan lingkungan bisnis akan terus berlangsung. “Ekonomi sedang lambat. Tetapi bisnis jangan mati,” ujarnya dalam acara Onward by Kantar di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Tantangan utama perusahaan saat ini bukan hanya menghadapi tekanan ekonomi, tetapi juga bagaimana menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi secara cepat. Perusahaan yang mampu membaca perubahan dan mengambil keputusan strategis akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dibandingkan yang hanya mempertahankan pola bisnis lama.

Denni menambahkan, perusahaan perlu menjawab sejumlah pertanyaan strategis. Salah satunya adalah bagaimana merespons perubahan peran pemerintah yang semakin aktif dalam perekonomian. Selain itu, perusahaan juga perlu memastikan model bisnis tetap tangguh ketika volatilitas ekonomi dan berbagai gangguan (shocks) semakin sering terjadi.

Tantangan lainnya adalah bagaimana perusahaan tetap dapat tumbuh dan melakukan ekspansi di tengah kenaikan biaya modal. “Bagaimana kita bisa tumbuh dan ekspansi dalam dunia yang capital-nya semakin mahal?” kata Denni.

Perusahaan juga perlu memperhatikan risiko akibat ketergantungan terhadap pasar maupun rantai pasok tertentu. Perubahan geopolitik menuntut perusahaan memiliki strategi yang lebih fleksibel agar tidak terlalu bergantung pada satu wilayah atau negara.

Faktor Penentu Keberhasilan Bisnis

Denni menilai ukuran perusahaan tidak lagi menjadi jaminan utama untuk memenangkan persaingan. Dalam kondisi bisnis yang berubah cepat, perusahaan dengan kemampuan adaptasi tinggi justru berpeluang lebih besar menjadi pemenang. “Winning companies are not necessarily the largest ones,” paparnya.

Ia menerangkan, meskipun perusahaan besar memiliki sumber daya yang lebih kuat, perusahaan yang lebih lincah dalam mengambil keputusan dapat lebih cepat menangkap peluang baru.

Perlambatan ekonomi tidak berarti seluruh sektor akan mengalami tekanan yang sama. Masih terdapat sektor-sektor yang memiliki permintaan domestik kuat, sementara sektor lainnya harus menghadapi tekanan lebih besar akibat pelemahan eksternal.

Bahkan, dalam sektor yang sama pun akan muncul perbedaan kinerja antarperusahaan. Sebagian perusahaan mampu tumbuh karena berhasil menyesuaikan strategi, sementara sebagian lainnya tertinggal karena tidak mampu merespons perubahan. “Pertumbuhan masih ada. Tantangannya adalah bagaimana perusahaan menemukan pertumbuhan itu dan menempatkan posisi bisnisnya secara tepat,” ujar Denni.

Dalam kondisi penuh ketidakpastian, perusahaan harus lebih aktif mencari peluang, bukan hanya fokus mengurangi risiko. “Temukan pertumbuhan itu, dan kemudian position your companies secara tepat di dalam pertumbuhan tersebut,” ujar Denni.

Perubahan Perilaku Konsumen

Selain tekanan ekonomi makro, dunia usaha juga menghadapi perubahan perilaku konsumen yang semakin cepat. Perubahan ini menuntut perusahaan memiliki strategi yang lebih fleksibel dalam memahami kebutuhan pasar.

Managing Director Kantar Indonesia dan Thailand, Nadya Adrianti, mengatakan perkembangan zaman telah mengubah pola konsumsi masyarakat secara signifikan. Tren dapat muncul dan berubah dalam waktu yang semakin singkat. “Dunia berubah begitu cepat, konsumen, ekspektasi juga berubah begitu cepat. Satu tren berubah dengan cepat,” ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi perusahaan dalam menangkap peluang pasar. Ketika perusahaan mulai menyusun strategi untuk memanfaatkan sebuah tren, tren tersebut dapat berubah dan digantikan oleh kebutuhan baru. “Begitu cepat bahwa yang untuk mengkapitalisasi tren itu, tren sudah berubah,” kata dia.

Oleh karena itu, perusahaan tidak lagi cukup hanya mengandalkan pendekatan bisnis konvensional. Pelaku usaha perlu membangun kemampuan membaca perilaku konsumen secara berkelanjutan serta melakukan inovasi secara konsisten.

Nadya menambahkan, konsumen saat ini tidak hanya mempertimbangkan kualitas produk, tetapi juga melihat nilai yang ditawarkan oleh sebuah merek. Merek yang mampu memahami kebutuhan konsumen akan memiliki peluang lebih besar untuk membangun hubungan jangka panjang.

Ia menilai penguatan merek lokal juga memiliki dampak yang lebih luas terhadap perekonomian. Merek yang kuat dapat mendorong inovasi, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan daya saing produk Indonesia. “Membangun merek lokal, itu artinya kita membangun bangsa,” ujar Nadya.

Strategi Pertumbuhan di Tengah Penyesuaian Pengeluaran

Perubahan ekonomi juga berdampak terhadap pola belanja masyarakat. Tekanan terhadap daya beli membuat sebagian konsumen semakin selektif dalam menentukan pengeluaran.

Regional Strategic Insights Director APAC Worldpanel by Numerator, Helmy Herman Talib, mengatakan perubahan perilaku tersebut terlihat dari perbedaan pola konsumsi antarsegmen masyarakat.

Kelompok kelas atas masih memiliki kemampuan mempertahankan konsumsi bahkan melakukan pembelian produk premium. Sementara kelompok masyarakat bawah lebih fokus pada kebutuhan utama. Adapun kelompok kelas menengah mulai melakukan penyesuaian pengeluaran atau cost adjustment. “Kalau kita lihat orang middle class, perilakunya agak mirip dengan lower class sekarang. Jadi mereka mulai melakukan cost adjustment,” ujar Helmy.

Salah satu perubahan yang terlihat adalah kecenderungan konsumen memilih produk dengan ukuran lebih kecil karena memberikan fleksibilitas dalam mengatur pengeluaran. Namun, Helmy menilai perusahaan tidak dapat hanya mengandalkan strategi harga murah. Perusahaan harus mampu menawarkan nilai yang lebih relevan bagi konsumen.

Terdapat empat strategi yang dapat digunakan perusahaan untuk menjaga pertumbuhan. Pertama, memperluas jangkauan pasar atau expanding market footprint dengan memastikan produk hadir di lokasi dan saluran pembelian yang sesuai dengan konsumen. Kedua, memenangkan keputusan pembelian atau winning at the point of purchase. Ketiga, memperluas kesempatan penggunaan produk agar konsumen memiliki lebih banyak alasan untuk membeli. Keempat, membangun pilihan merek atau building brand choice.

Value tidak hanya berarti lebih murah, tapi apakah ada benefit lain yang bisa kita berikan kepada konsumen?” ujar Helmy.

Menurutnya, definisi nilai bagi konsumen kini semakin luas. Konsumen tidak hanya mencari harga terjangkau, tetapi juga manfaat yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting bagi dunia usaha. Perusahaan yang mampu memahami perubahan, melakukan inovasi, dan menemukan sumber pertumbuhan baru dinilai akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini