Penanganan Kasus Keracunan Massal di Jawa Barat
Pihak kepolisian Daerah Jawa Barat telah mengambil langkah tegas untuk menangani kasus keracunan massal yang terjadi di beberapa wilayah. Insiden ini terjadi setelah siswa-siswa mengonsumsi menu makan bergizi gratis (MBG) yang disediakan oleh pemerintah daerah. Sejumlah besar korban mengalami gejala seperti mual, pusing, dan muntah-muntah.
Di Kabupaten Bandung Barat, jumlah siswa yang terkena dampak keracunan mencapai 1.308 orang dari berbagai jenjang pendidikan. Wilayah Kecamatan Cipongkor dan Cihampelas menjadi lokasi dengan jumlah korban terbanyak. Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, bahkan menetapkan situasi ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jawa Barat, Komisaris Besar Hendra Rochmawan, menyatakan bahwa pihak kepolisian sedang melakukan evaluasi terkait peristiwa tersebut. “Kami masih dalam tahap evaluasi,” ujar Hendra dalam keterangan tertulisnya pada Senin, 29 September 2025. Ia menambahkan bahwa penyelidikan sedang dilakukan untuk mengetahui sumber makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan.
Penyelidikan juga dilakukan terhadap insiden keracunan di SMPN 4 Pamarican, Kabupaten Ciamis. Dalam kejadian ini, sebanyak 47 siswa melaporkan gejala mual, sakit perut, dan pusing setelah mengonsumsi MBG. Kapolres Ciamis, Ajun Komisaris Besar Hidayatullah, menjelaskan bahwa penyelidikan secara masif sedang dilakukan. “Kami akan melihat apakah ada unsur kelalaian atau kesengajaan,” kata Hidayatullah dalam pernyataannya, Selasa, 30 Oktober 2025.
Tim dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri dan Bareskrim Polri turut serta dalam proses penyelidikan. “Penyelidikan ini membutuhkan waktu. Saat ini sudah ada delapan orang yang dimintai keterangan,” tambah perwira menengah kepolisian tersebut.
Direktur LBH Bandung, Heri Pramono, menilai insiden keracunan massal di Jawa Barat sebagai bentuk kegagalan negara. “Jika pemerintah tidak segera mengambil langkah tegas, maka jelas ini merupakan bentuk pelanggaran hak asasi manusia,” ujar Heri dalam keterangan tertulisnya, dikutip pada Sabtu, 27 September 2025. Ia juga mendorong lembaga negara independen untuk ikut serta dalam penyelidikan.
Heri menekankan bahwa situasi ini mendesak adanya tindakan yang lebih serius dari pemerintah. “Negara tidak bisa lagi menganggap enteng,” katanya.
Beberapa pihak menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam penanganan kasus ini. Dengan jumlah korban yang cukup besar, diperlukan investigasi yang mendalam dan objektif agar dapat dihindari terulangnya kejadian serupa di masa depan.
Selain itu, partisipasi dari lembaga-lembaga independen dan masyarakat sipil sangat penting dalam memastikan bahwa hak-hak korban dilindungi dan keadilan ditegakkan. Langkah-langkah preventif juga harus diambil untuk memastikan kualitas dan keamanan makanan yang disajikan kepada siswa.



