Defisit Transaksi Berjalan Melebar, Rupiah Hadapi Risiko Twin Deficits

0
7
Defisit Transaksi Berjalan Melebar, Rupiah Hadapi Risiko Twin Deficits
Warga menunjukan uang di kawasan Jagakarsa, Jakarta, belum lama ini. (ANTARA FOTO/Rakha Raditya Yahya)

JAKARTA – Pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia pada triwulan II-2026 meningkatkan risiko tekanan terhadap neraca pembayaran. Para ekonom juga mewaspadai potensi ‘twin deficits’ apabila defisit transaksi berjalan dan fiskal melebar secara bersamaan.

Head of Macroeconomic & Financial Market Research PermataBank, Faisal Rachman, menjelaskan bahwa defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) berpotensi semakin melebar pada 2026. Hal ini seiring peningkatan impor di tengah agenda pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan. Sementara itu, kinerja ekspor menghadapi tekanan akibat melemahnya permintaan global.

“Defisit transaksi berjalan berpotensi menekan neraca pembayaran, terutama jika arus transaksi finansial tetap berada di bawah tekanan akibat ketidakpastian global yang tinggi dan memicu sentimen risk-off,” kata Faisal dalam catatannya, Jumat (21/8/2026).

Faisal menilai kekhawatiran terhadap ‘twin deficits’ Indonesia juga meningkat. Kondisi tersebut mencerminkan risiko pelebaran CAD dan defisit fiskal yang lebih besar seiring kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan. Di saat bersamaan, pemerintah mengandalkan kebijakan fiskal sebagai mesin pertumbuhan serta peredam guncangan ekonomi.

Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi berjalan Indonesia pada triwulan II-2026 melebar signifikan menjadi US$ 12,5 miliar atau 3,3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka ini naik dari US$ 3,6 miliar atau 1% PDB pada triwulan sebelumnya.

Pelebaran defisit tersebut terutama dipengaruhi memburuknya neraca barang. Surplus barang turun tajam dari US$ 8,21 miliar pada triwulan I menjadi hanya US$ 1,32 miliar pada triwulan II-2026.

Komponen lain yang perlu diperhatikan adalah defisit perdagangan migas yang terkerek signifikan dari US$ 5,09 miliar menjadi US$ 10,18 miliar. Kondisi tersebut didorong kenaikan harga minyak global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk gangguan di sekitar Selat Hormuz.

Di sisi lain, surplus perdagangan nonmigas menurun seiring peningkatan impor nonmigas untuk memenuhi kebutuhan kegiatan ekonomi domestik. Defisit jasa juga melebar, sementara defisit pendapatan primer meningkat sejalan dengan kenaikan pembayaran imbal hasil atas aset domestik kepada nonresiden.

Menurut Faisal, tekanan pada transaksi berjalan berpotensi berlanjut. Kebijakan yang mendorong permintaan domestik diperkirakan akan meningkatkan pertumbuhan impor. Di sisi lain, permintaan global yang lebih lemah, terutama dari China, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan perang dagang global berpotensi menekan ekspor Indonesia.

Dengan kondisi tersebut, Faisal memperkirakan CAD Indonesia akan melebar menjadi 2,5%-3% terhadap PDB pada 2026, dari 0,11% terhadap PDB pada 2025.

Proyeksi Neraca Pembayaran dan Rupiah

Meski transaksi berjalan mengalami tekanan, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) membaik pada triwulan II-2026. NPI mencatat defisit US$ 880 juta, jauh lebih rendah dibandingkan defisit US$ 9,15 miliar pada triwulan sebelumnya.

Perbaikan tersebut ditopang transaksi finansial yang berbalik mencatat surplus US$ 11,95 miliar, dari defisit US$ 4,77 miliar pada triwulan I-2026.

Faisal mengatakan, pemulihan transaksi finansial terutama didorong oleh lonjakan arus masuk investasi portofolio. Arus asing ke Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menguat, sementara aliran masuk bersih ke Surat Berharga Negara (SBN) kembali terjadi setelah mencatat arus keluar bersih pada kuartal sebelumnya. Penerbitan obligasi global juga turut mendukung transaksi portofolio.

Namun, Faisal menilai arus portofolio masih rentan terhadap ketidakpastian global dan domestik. Jika sentimen ‘risk-off’ kembali menguat, arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, berpotensi terbatas.

Kondisi tersebut dapat membuat nilai tukar rupiah tetap volatil dan mendorong Bank Indonesia menggunakan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas nilai tukar dalam jangka pendek hingga menengah.

Secara keseluruhan, Faisal memperkirakan cadangan devisa Indonesia turun menjadi US$ 143 miliar-US$ 147 miliar pada akhir 2026, dari US$ 156,47 miliar pada akhir 2025. Sementara itu, ia mempertahankan proyeksi rupiah berada di kisaran Rp 17.800-Rp 18.000 per dolar AS pada akhir 2026.

Dalam jangka menengah hingga panjang, Faisal mengatakan keberlanjutan arus modal akan bergantung pada efektivitas pelaksanaan reformasi struktural untuk memperkuat fundamental makroekonomi, meningkatkan kepercayaan investor, dan memperbaiki iklim investasi.

“Faktor eksternal, termasuk perkembangan ketegangan perdagangan global dan risiko geopolitik, juga akan tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi dinamika arus modal,” tutupnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini