Dualisme PPP, Politikus Senior: Tak Ada yang Menarik Hati Rakyat

0
140

Konflik Dualisme Kepemimpinan dalam Muktamar X PPP

Muktamar X Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang digelar di kawasan Ancol, Jakarta, pada 27-28 September 2025, menjadi sorotan utama akibat adanya konflik dualisme kepemimpinan. Politikus senior PPP, Syaifullah Tamliha, menyampaikan kekecewaannya terhadap situasi yang terjadi, menilai bahwa konflik ini tidak hanya merusak citra partai tetapi juga berpotensi memengaruhi elektabilitas PPP di Pemilu 2029.

Tamliha mengungkapkan bahwa baik kubu yang memenangkan Muktamar maupun yang kalah, tidak akan mendapatkan simpati dari rakyat, terutama generasi milenial dan Gen Z. Ia menekankan bahwa ketidakstabilan internal partai dapat membuat masyarakat semakin menjauh dari PPP.

Dua kubu utama dalam PPP, yaitu kubu Muhamad Mardiono dan Agus Suparmanto, saling bersaing untuk merebut posisi ketua umum. Mardiono, yang saat itu menjabat sebagai ketua umum petahana, dinyatakan menang oleh Amir Uskara selaku pimpinan sidang. Sementara itu, kubu Agus Suparmanto, mantan Menteri Perdagangan era Presiden Joko Widodo, juga mengklaim kemenangan mereka.

Konflik yang terjadi selama Muktamar X tidak hanya berupa perdebatan, tetapi juga aksi fisik seperti perkelahian dan pelemparan kursi. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran bahwa isu-isu serupa bisa kembali muncul di Pemilu 2029. Tamliha khawatir, hal ini bisa dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk menciptakan narasi negatif tentang PPP, sehingga pemilih semakin menjauh dari partai tersebut.

Menurut Tamliha, konflik yang terjadi dalam Muktamar X tidak seharusnya terjadi, mengingat PPP adalah partai yang berasaskan Islam. Ia menilai sikap Amir Uskara, yang memenangkan Mardiono sebagai ketua umum baru, dinilai agresif dan tidak sesuai dengan nilai-nilai partai. Sementara itu, kubu Romahurmuziy yang mendukung Agus Suparmanto disebut membuat suasana kacau dengan berteriak dan melakukan aksi pelemparan kursi di forum Sidang Paripurna I.

Tamliha menyoroti bahwa jadwal dan tata tertib seharusnya tidak dipertentangkan. Menurutnya, arena debat seharusnya terjadi saat pembahasan AD/ART, yang pada saat itu mengekang Agus Suparmanto sebagai calon ketua umum versi kubu Rommy.

Untuk mengatasi konflik yang terjadi, Tamliha menyatakan bahwa para politisi senior PPP akan membentuk Tim Penyelamat PPP. Tim ini diharapkan dapat memberikan angin segar bagi partai ke depannya. Tamliha menegaskan bahwa tim ini akan terdiri dari para senior PPP yang tidak terlibat langsung dalam konflik dua kubu tersebut.

Tim Penyelamat PPP ini diharapkan mampu menyelesaikan masalah internal partai, memperbaiki citra, serta memastikan bahwa PPP tetap relevan di tengah dinamika politik yang semakin kompleks. Dengan langkah ini, diharapkan PPP dapat kembali fokus pada tujuan utamanya, yaitu membangun bangsa dan memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam konteks politik nasional.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini