Indonesia Kurang Kebijakan Publik Berkualitas, Tanda Krisis Empati di Kalangan Politisi

0
165

Krisis Empati dalam Kepemimpinan Politik dan Aparat

Gelombang demonstrasi pada Agustus lalu menunjukkan betapa lemahnya respons dari elite politik dan aparat terhadap suara rakyat. Hal ini menjadi bukti bahwa empati, yang seharusnya menjadi kompetensi inti dalam kepemimpinan, tidak lagi diwujudkan secara maksimal. Empati tidak hanya sekadar perasaan, tetapi juga kemampuan untuk memahami penderitaan orang lain, sehingga mampu menghasilkan kebijakan yang adil dan berkelanjutan.

Dalam dunia politik, empati memiliki peran penting. Tanpa empati, para pemimpin sulit merumuskan kebijakan yang benar-benar menjawab kebutuhan rakyat. Dengan memahami perasaan dan kondisi masyarakat, mereka bisa mencegah konflik sosial dan membangun legitimasi moral. Kebijakan yang dirancang tanpa empati cenderung tidak efektif dan tidak mendapat dukungan luas dari masyarakat.

Memahami Konsep Empati

Empati bukanlah istilah baru. Istilah ini berasal dari bahasa Jerman einfühlung, yang artinya “merasakan ke dalam”. Awalnya, istilah ini digunakan dalam estetika seni abad ke-19, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1909. Meskipun sering disalahpahami sebagai sekadar perasaan, empati memiliki makna yang lebih kompleks dan mendalam.

Menurut Martin L. Hoffman, seorang psikolog perkembangan dari New York University, empati adalah potensi alami yang dimiliki manusia sejak lahir. Kemampuan ini berkembang melalui pengalaman dan latihan sepanjang hidup. Tahapan perkembangan empati mencakup:

  • Empati afektif (global empathy): Muncul pada usia pertama, ketika bayi menangis saat mendengar bayi lain menangis.
  • Empati kognitif: Mulai berkembang pada masa prasekolah, ketika anak mulai memahami bahwa orang lain bisa memiliki perasaan berbeda.
  • Empati terhadap pengalaman orang lain di luar situasi: Terjadi pada usia 11–12 tahun, ketika anak mulai memahami bahwa perasaan orang lain dipengaruhi oleh kondisi hidup yang lebih mendalam, seperti kemiskinan atau penindasan.

Tahapan ini menjadi dasar bagi seseorang untuk menjadi warga negara yang peduli terhadap isu sosial dan siap bertanggung jawab terhadap masalah-masalah yang dihadapi masyarakat.

Empati dalam Kepemimpinan Politik

Banyak kasus represif terhadap mahasiswa, aktivis, buruh, hingga guru menunjukkan bahwa banyak pengambil keputusan gagal menerapkan empati kognitif. Ini terjadi karena kurangnya empati afektif antara penguasa dan rakyat. Akibatnya, suara rakyat dianggap ancaman, kritik dianggap gangguan, dan demonstrasi dilawan dengan tindakan represif.

Krisis empati ini memicu berbagai fenomena kekerasan dan ketidakadilan. Untuk mengatasinya, diperlukan upaya untuk menyeimbangkan empati afektif dan kognitif. Contohnya, Hugo Chávez, presiden Venezuela, memiliki empati afektif yang kuat tetapi kurangnya empati kognitif membuat kebijakannya cenderung emosional. Sementara itu, Joseph Stalin memiliki empati kognitif tinggi tetapi rendah empati afektif, yang membuatnya dingin dan manipulatif.

Latihan Empati untuk Politisi

Politisi Indonesia perlu melakukan latihan empati agar mampu merumuskan kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:

  • Mewujudkan kebijakan partisipatif dengan melibatkan warga dalam proses perumusan kebijakan.
  • Membuka ruang konsultasi publik yang riil, bukan hanya formalitas.
  • Memberikan pelatihan empati bagi aparat agar mereka tidak hanya mengandalkan prosedur keamanan.
  • Melakukan impact assessment berbasis manusia dengan mengevaluasi dampak kebijakan terhadap kelompok rentan.

Dengan mengintegrasikan empati afektif dan kognitif, kebijakan yang dihasilkan akan lebih mudah diterima oleh masyarakat dan mampu membangun kepercayaan antara pengambil kebijakan dan rakyat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini