
JAKARTA – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi kesiapannya untuk mengerahkan jajaran persenjataan presisi tinggi yang jauh lebih destruktif apabila konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah kembali meletus. Peringatan tegas ini disampaikan oleh Juru Bicara IRGC, Hossein Mohebi, pada Kamis (20/8/2026).
“Jika perang kembali pecah, senjata yang akan kami gunakan tentu sangat berbeda. Hal ini mencakup generasi hulu ledak yang lebih baru, tingkat presisi yang lebih tinggi, daya jangkau rudal yang lebih jauh, serta berbagai parameter tempur canggih lainnya,” ujar Mohebi, mengutip media resmi Iran Defa Press.
Pejabat senior militer Iran tersebut menambahkan bahwa militer Iran terus melakukan pembaruan alutsista secara berkala. Fokus pengembangan senjata terpusat pada akurasi tinggi, daya rusak kuat, serta dukungan teknologi canggih. Pernyataan ini muncul di tengah perubahan taktik militer Amerika Serikat yang cenderung beralih ke strategi “pencekikan” ekonomi bertahap daripada agresi militer langsung terhadap Teheran, sebagaimana dilaporkan CNN mengutip pejabat senior AS.
Langkah AS diperkuat dengan pengumuman Presiden Donald Trump yang meluncurkan operasi isolasi ekonomi berskala besar terhadap Iran, seraya menyerukan sekutu untuk memutus jalur perdagangan dan keuangan Teheran. Pernyataan keras dari IRGC mencerminkan doktrin penangkalan Iran di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Meski AS dan sekutunya mengalihkan fokus ke perang sanksi dan isolasi ekonomi, Iran terus memperlihatkan kesiapan militernya. Hal ini menjadi pesan bahwa tekanan luar tidak akan menghentikan pengembangan teknologi pertahanan nasional. Pengembangan teknologi rudal presisi dan drone tempur generasi baru oleh IRGC menjadi salah satu kartu truf Iran dalam menjaga posisi tawar geopolitiknya di tengah ancaman sanksi ekonomi dan ketidakpastian keamanan regional.