Pengumuman Menteri Pertahanan RI Mengenai Pembelian Jet Tempur J-10
Menteri Pertahanan Republik Indonesia (RI) Sjafrie Sjamsoeddin memberikan sinyal bahwa jet tempur J-10 buatan Tiongkok segera akan diterbangkan di Jakarta. Pernyataan ini disampaikan oleh Sjafrie saat berada di kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta, pada Rabu (15/10/2025). Meski demikian, ia tidak memberikan detail mengenai jumlah pesawat, mekanisme pembayaran, atau anggaran yang akan digunakan untuk akuisisi jet tersebut.
Sebelumnya, pada bulan Mei 2025, Sjafrie juga menyampaikan bahwa pilot TNI AU akan dikirim ke Tiongkok untuk pelatihan pengoperasian pesawat J-10. Ia menjelaskan bahwa hal ini dilakukan sebagai bagian dari evaluasi fasilitas produksi alutsista dan kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok dalam bidang kesehatan.
Negara-Negara yang Mengoperasikan J-10
J-10 adalah jet tempur generasi keempat yang dikembangkan oleh Chengdu Aircraft Corporation (1996–2024) dan Guizhou Aircraft Corporation (sejak 2024). Saat ini, hanya dua negara yang mengoperasikan J-10, yaitu Tiongkok dan Pakistan. Dalam konflik antara Pakistan dan India beberapa bulan lalu, J-10 mencuri perhatian dunia karena berhasil menembak jatuh sejumlah pesawat India.
Pada akhir tahun 2021, Pakistan mengumumkan pembelian 25 unit J-10 C. Setahun kemudian, enam unit telah tiba. Selain itu, Mesir dilaporkan tertarik membeli J-10, meskipun belum ada konfirmasi resmi. Bangladesh juga dikabarkan memiliki minat terhadap pesawat tersebut. Diperkirakan sudah ada sekitar 600 unit J-10 yang diproduksi oleh Tiongkok.
Andreas Rupprecht, seorang pakar militer dan pengkaji pesawat Tiongkok, mengklaim bahwa kinerja J-10 dalam konflik Pakistan-India telah mengagetkan Barat. Menurutnya, ini menjadi indikasi pertama bahwa sistem buatan Tiongkok benar-benar modern, dan mungkin membuat banyak orang di Barat serta India terkejut karena pesawat ini bukanlah rongsokan atau tiruan yang buruk.
Spesifikasi Teknis J-10
Program pengembangan J-10 dimulai pada tahun 1980-an sebagai upaya Tiongkok menggantikan armada J-7 dan Q-5 yang usang dengan pesawat multiperan modern. J-10 pertama kali terbang pada tahun 1998 dan resmi masuk layanan Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLAAF) pada tahun 2004.
Varian terbaru, J-10C, yang diperkenalkan antara tahun 2015 hingga 2018, termasuk dalam jet tempur generasi 4,5. Pesawat ini dilengkapi dengan sistem avionik dan persenjataan yang sebanding dengan desain Barat dan Rusia. Awalnya, J-10C menggunakan mesin turbofan AL-31FN buatan Rusia, tetapi sejak 2019, pesawat ini telah dilengkapi dengan mesin WS-10B buatan dalam negeri oleh Shenyang. Ini menandai pencapaian penting dalam kemandirian teknologi dirgantara Tiongkok.
J-10C memiliki mesin tunggal yang dioptimalkan untuk misi superioritas udara, serangan presisi, dan pengintaian. Pesawat ini dilengkapi dengan sayap delta dan canard, serta sistem kendali fly-by-wire dan saluran udara supersonik tanpa diverter. J-10 dikenal sangat lincah dalam pertempuran jarak dekat.
Dengan kecepatan maksimum Mach 1,8, radius tempur hingga 1.850 km, dan ketinggian operasional 18.000 meter, J-10C mampu melakukan berbagai tugas strategis. Pesawat ini dilengkapi radar AESA modern dengan jangkauan deteksi lebih dari 200 km, sehingga kompatibel dengan rudal udara-ke-udara jarak jauh PL-15. Rudal lain yang digunakan adalah PL-8, PL-10, dan PL-12.
Kokpit J-10C dilengkapi Head-Up Display (HUD) sudut lebar, Helmet-Mounted Display (HMD), dan layar multifungsi (MFD) yang menyajikan gambaran operasional berbasis jaringan dan sensor terintegrasi. Pesawat ini juga memiliki 11 titik gantung dan kapasitas muatan hingga 7.000 kg, sehingga mampu membawa berbagai jenis persenjataan presisi, rudal anti-kapal, dan perangkat peperangan elektronik.



