JAKARTA – Kinerja PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), emiten Grup Salim, diprediksi terus menguat. Pendapatan perusahaan pada semester I-2026 tercatat tumbuh 11,3% secara tahunan (year-on-year/yoy). Proyeksi positif ini mendorong munculnya target harga baru saham ICBP dengan potensi kenaikan hingga 40%.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Christy Halim dan Sabela Nur Amalina, menyatakan bahwa pertumbuhan pendapatan Indofood CBP pada semester I-2026 didukung oleh seluruh segmen usaha. Bisnis mi instan di pasar internasional dan produk olahan susu menjadi dua pendorong utama pertumbuhan tersebut.
“Kami menaikkan estimasi laba Indofood CBP pada 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 6,2%,” tulis Christy dan Sabela dalam riset mereka, Jumat (21/8/2026).
Kinerja positif ini juga membuka peluang bagi manajemen ICBP untuk menaikkan target pertumbuhan pendapatan tahun ini. Saat ini, manajemen masih mempertahankan proyeksi konservatif pertumbuhan pendapatan 2026F sebesar 5%-7%. Christy menilai peluang kenaikan target tersebut tetap terbuka pada kuartal mendatang, didasari ekspektasi berlanjutnya momentum penjualan pada semester II-2026 dan pertumbuhan dua digit di pasar luar negeri.
Penjualan mi instan ICBP di pasar internasional melonjak 20,7% yoy sepanjang semester I-2026, jauh melampaui penjualan domestik yang meningkat 7%. Kontribusi penjualan mi instan dari pasar luar negeri mencapai 28% terhadap total penjualan. BRI Danareksa Sekuritas melihat pasar internasional akan terus menjadi penopang utama pertumbuhan perusahaan.
Prospek penjualan juga ditunjang oleh tambahan kapasitas produksi 1,5 miliar bungkus dari pabrik terbaru ICBP di Bogor. Fasilitas yang mulai beroperasi pada akhir tahun lalu ini dirancang untuk memenuhi peningkatan permintaan di pasar domestik maupun internasional.
BRI Danareksa Sekuritas juga memasukkan asumsi pertumbuhan volume yang lebih tinggi dalam revisi proyeksinya untuk berbagai segmen. Namun, ruang kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) diperkirakan tetap terbatas hingga akhir tahun.
Di tengah prospek penjualan yang menguat, risiko cuaca akibat El Nino tetap menjadi perhatian. Fenomena ini diperkirakan mencapai puncaknya pada Oktober-Desember 2026, berpotensi mengganggu pasokan komoditas menjelang akhir semester II-2026. Kendati demikian, dampaknya diperkirakan lebih terkendali karena El Nino tahun ini diproyeksikan bertepatan dengan musim hujan di Indonesia, yang dapat mengurangi tingkat tekanan.
ICBP masih memiliki fleksibilitas untuk meneruskan sebagian kenaikan biaya bahan baku ke harga jual apabila gangguan akibat El Nino berlangsung lebih lama atau lebih berat dari perkiraan. Selain asumsi pertumbuhan volume yang lebih tinggi, revisi estimasi laba Indofood CBP juga mempertimbangkan berkurangnya tekanan dari selisih kurs.
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan kerugian nilai tukar ICBP pada 2026 turun menjadi Rp 2,2 triliun, berdasarkan asumsi nilai tukar rata-rata sepanjang 2026 sebesar Rp 17.500 per dolar AS. Meredanya tekanan kurs ini dinilai dapat memberikan dukungan tambahan terhadap laba perusahaan.
Dalam jangka pendek, ICBP masih menghadapi tekanan margin akibat tingginya biaya bahan baku dan logistik. Namun, sebagian besar tekanan tersebut dinilai sudah tercermin pada harga saham ICBP.
Dengan prospek laba yang lebih kuat dan momentum pertumbuhan pendapatan yang solid, BRI Danareksa Sekuritas menaikkan target valuasi price to earnings ratio (PE) ICBP 2026 menjadi 11,6 kali dari sebelumnya 11,2 kali. Berdasarkan asumsi valuasi tersebut, target harga saham ICBP dinaikkan menjadi Rp 10.600 dari sebelumnya Rp 10.500. Ini mengindikasikan potensi kenaikan harga saham hampir 40%, tepatnya 39% jika mengacu pada harga terakhir. Rekomendasi yang diberikan tetap beli.
Meski demikian, sejumlah risiko tetap perlu dicermati. BRI Danareksa Sekuritas menyebut pelemahan permintaan domestik dan luar negeri, kenaikan harga bahan baku, serta volatilitas nilai tukar sebagai risiko utama terhadap proyeksi Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP).
