JAKARTA – Nama pengusaha Samsudin Andi Arsyad, atau yang akrab disapa Haji Isam, kembali menjadi sorotan pelaku pasar. Spekulasi mengenai rencana pengusaha asal Kalimantan Selatan ini untuk mengakuisisi 62% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) senilai US$5,5 miliar beredar luas.
Rumor akuisisi ini sontak mendongkrak kinerja saham emiten yang terafiliasi dengan Haji Isam, termasuk PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), dan PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK).
Saham BYAN pun tak ketinggalan, performanya melonjak tajam seiring spekulasi tersebut. Meskipun manajemen BYAN dan PGUN secara kompak membantah rumor akuisisi, kenaikan saham-saham yang terkait dengan Haji Isam dan emiten batu bara Low Tuck Kwong tetap sulit terbendung.
Hingga penutupan perdagangan Kamis (20/8/2026), saham PGUN tercatat melesat 15,29% ke level Rp9.800. Saham JARR mengakhiri perdagangan di zona hijau dengan kenaikan 24,79% ke posisi Rp2.970. Sementara itu, saham FAST menguat 8,85% ke level Rp492, dan PACK naik 10% dari Rp320 menjadi Rp352.
Di tengah gemerlap kenaikan saham-saham Grup Haji Isam, PACK justru dinilai sebagai portofolio yang berpotensi menawarkan potensi kenaikan nilai (upside) lebih besar dibandingkan PGUN, JARR, dan FAST. Ketiga emiten terakhir bahkan sudah berhasil mencetak laba pada kuartal I-2026 setelah sebelumnya mengalami kerugian.
Meskipun kepemilikan Haji Isam di PACK hanya minoritas sebesar 21,11% per akhir Juli 2026, ia diuntungkan oleh eksposur PACK sebagai proksi dari raksasa mineral asal China, CNGR Advanced Material Co. Ltd. CNGR sendiri mayoritas sahamnya dikuasai Deng Weiming sebesar 56% melalui Hunan Zhongwei Holding Group.
CNGR, yang fokus pada pengolahan mineral hulu, merupakan pengendali PACK melalui PT Eco Energi Perkasa (EEP) dengan kepemilikan mayoritas 40,56% per Juli 2026. Sisa saham PACK dipegang oleh Magdaelana Veronika sebesar 0,14% dan pemegang saham kurang dari 5% non-warkat sebesar 38,19%.
CNGR memiliki proyek berskala besar di Indonesia bernama Konasara Green Technology Industrial Zone di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Proyek ini memproduksi prekursor baterai dengan nilai investasi US$10 miliar dan telah ditetapkan sebagai proyek strategis nasional (PSN).
Kinerja Finansial Positif CNGR dan Dampaknya pada PACK
Pada kuartal I-2026, CNGR mencatatkan kapitalisasi pasar sebesar US$5,9 miliar atau setara CN¥39,5 miliar. Pendapatannya melonjak 46% secara tahunan menjadi ¥15,8 miliar, dengan laba bersih melonjak 80,5% menjadi ¥555 juta. Laba di luar pos non-berulang pun melambung 96,9% menjadi ¥518 juta.
Menyusul kinerja positif CNGR, Algo Research memasukkan PACK ke dalam Algo Research Alpha Index, menggantikan saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) milik konglomerat Prajogo Pangestu. Indeks ini dilaporkan telah menghasilkan return sebesar 13,3% sejak diluncurkan pada Juni 2026.
Performa PACK juga tak kalah menggembirakan. Hingga semester I-2026, penjualan bersih emiten berkode saham PACK ini melonjak 973% dari Rp20,54 miliar menjadi Rp213 miliar. Hasilnya, PACK meraih laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp190,73 miliar, berbanding terbalik dengan rugi bersih pada periode sebelumnya.
Total aset PACK juga mengalami peningkatan signifikan sebesar 76%, setara Rp2,26 triliun, menjadi Rp5,26 triliun dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp2,99 triliun. Manajemen PACK menyatakan kenaikan ini didorong oleh uang muka investasi pada entitas asosiasi dan kas di bank.
Sementara itu, liabilitas PACK menurun drastis 97%, atau setara Rp2,82 triliun, menjadi Rp73,91 miliar per 30 Juni 2026. Penurunan ini disebabkan oleh pembayaran utang dan realisasi investasi perseroan.
