JAKARTA, Reformasi.co.id
Di bawah terik matahari yang menyengat, Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Ranggon di Jakarta Timur tampak ramai dengan aktivitas rutin perawatan makam. Banyak orang sibuk merapikan barisan makam, memotong rumput, menyapu daun kering, hingga menata batu nisan agar tetap rapi dan nyaman dikunjungi.
Salah satu dari mereka adalah Asep (45), seorang perawat makam yang telah bekerja di TPU Pondok Ranggon selama lebih dari dua dekade. Saat ditemui, Asep baru saja menyelesaikan tugasnya memotong rumput di salah satu makam yang biasa ia rawat.
Asep tidak termasuk dalam kategori Pekerja Harian Lepas (PHL) yang dipekerjakan dan digaji oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Karena itu, ia bekerja tanpa seragam dan mengatur sendiri jadwal serta ritme pekerjaannya.
“Karena saya bukan PHL, jadi bebas tidak pakai seragam hijau-hijau. Perbedaan kita dengan PHL adalah dalam pekerjaan. PHL biasanya membersihkan atau mengatasi rumput lebat di sekitar makam, sedangkan kita fokus pada perawatan makam itu sendiri,” jelas Asep saat ditemui, Selasa (26/11/2025).
Soal penghasilan, Asep menjelaskan bahwa sistem pendapatannya berbeda dengan para PHL.
“PHL mendapatkan gaji bulanan dari pemerintah, sedangkan kami menerima upah dari pemilik atau ahli waris makam. Biasanya minimal Rp 50.000 per bulan,” ujarnya.
Asep merawat sekitar 30 makam, mulai dari menyapu, memotong rumput, hingga menyiram rumput agar tidak mengering.
“Meski begitu, saya tidak terlalu menargetkan jasa saya. Kadang ada yang membayar Rp 30.000 per bulan, tapi beda dengan yang membayar Rp 50.000, karena yang Rp 50.000 itu rumputnya dipupuk,” tambahnya.
Meskipun tidak memiliki gaji tetap seperti PHL, Asep menyebut pendapatannya tidak terlalu jauh berbeda.
“Ini kan kalau makam sekitar Rp 600.000 setahun dari satu makam. Ada yang bayar tahunan, ada yang bulanan, bahkan ada yang per enam bulan. Pendapatan lain juga datang dari orang-orang yang tiba-tiba meminta membersihkan makam,” jelasnya.
Selain tugas harian merawat makam, Asep juga sering membantu PHL dalam menggali liang lahat.
“Kalau menggali pernah juga, sering lah. Tapi biasanya PHL mengajak kita untuk bantuan. Itu ya tidak ada tarif, hanya ikhlas. Tapi kadang ada yang mau memberi uang untuk makan, kadang juga tidak,” ungkapnya.
Profesi yang Tak Terlihat, Tapi Penting
Perawat makam seperti Asep memiliki peran penting dalam menjaga kebersihan dan keindahan TPU. Meskipun tidak terlihat secara langsung, mereka menjadi tulang punggung dalam memastikan tempat pemakaman tetap layak dikunjungi.
- Mereka bertanggung jawab atas perawatan fisik makam, seperti menyapu, memotong rumput, dan menata batu nisan.
- Beberapa dari mereka bekerja mandiri, tanpa kontrak resmi dari pemerintah.
- Pendapatan mereka bervariasi, tergantung dari pemilik atau ahli waris makam.
Tanggung Jawab dan Kesadaran Masyarakat
Asep menyadari bahwa profesi ini tidak selalu dihargai sebagaimana mestinya. Namun, ia tetap menjalankannya dengan kesadaran dan tanggung jawab.
“Kami bekerja untuk kebutuhan masyarakat, tapi kadang mereka tidak tahu bahwa ada orang yang merawat makam mereka,” ujarnya.
Dengan dedikasi dan ketekunan, Asep serta rekan-rekannya di TPU Pondok Ranggon terus menjaga kebersihan dan keindahan tempat pemakaman, meskipun tidak selalu dikenal oleh publik.



