Beranda News Ahli Strategi Digital Beri Peringatan, Gerakan Media Sosial Bisa Jadi ‘Kuda Troya’

Ahli Strategi Digital Beri Peringatan, Gerakan Media Sosial Bisa Jadi ‘Kuda Troya’

0
157

Peran Media Sosial dalam Gerakan Kritis Masyarakat

Di era digital saat ini, masyarakat memiliki berbagai cara untuk menyampaikan aspirasi dan kritik terhadap pemerintah. Salah satu bentuk yang sering muncul adalah gerakan di media sosial. Mulai dari Peringatan Darurat, Indonesia Gelap, hingga 17+8, setiap gerakan ini lahir dari kekecewaan publik terhadap kinerja pemerintah. Meski tujuannya mulia, tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa gerakan ini juga memiliki potensi disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Menurut Haryo Moerdaning Putro, seorang pakar strategi kampanye digital, media sosial telah menjadi alat demokratisasi narasi yang memperluas partisipasi publik. “Media sosial menciptakan ruang baru bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam diskusi politik dan sosial,” ujarnya. Ia menekankan bahwa platform ini membuka peluang besar bagi munculnya gerakan massa di dunia digital, dengan dampak positif yang sangat signifikan.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa di balik semua aktivitas tersebut, ada ancaman nyata. “Dari hasil analisis kami, terdapat potensi ancaman dari pihak-pihak radikal yang justru memanfaatkan gerakan rakyat sebagai alat untuk menciptakan ketidakstabilan sosial,” tambahnya. Menurut Haryo, hal ini terjadi karena adanya campur tangan dari berbagai pihak, baik itu kreator konten, pengaruh, maupun kelompok-kelompok tertentu yang memiliki agenda tersendiri.

Keberadaan Algoritma dan Pihak-Pihak Terlibat

Di balik unggahan dan interaksi di media sosial, terdapat kekuatan besar yang berasal dari algoritma pemilik platform. Selain itu, ada tangan-tangan kreatif yang menciptakan konten, termasuk para pengguna skala besar, mikro, kliper, homeless media, buzzer, pendengung, hingga cyber army. “Baik yang organik maupun yang dijalankan secara otomatis, semuanya memiliki agenda masing-masing,” ujar Haryo.

Ia menjelaskan bahwa jika semua elemen ini digabungkan dengan tepat, maka bisa digunakan untuk mengendalikan tren di dunia digital, persepsi netizen, dan akhirnya mempengaruhi diskursus masyarakat secara keseluruhan. “Bila berada di tangan yang tepat, hal ini akan berjalan baik. Namun, jika diambil alih oleh orang yang salah, maka sangat berbahaya,” pesannya.

Pentingnya Edukasi dan Kolaborasi

Haryo menekankan bahwa masyarakat dan netizen harus lebih waspada dalam melihat situasi saat ini. “Gerakan kritis terhadap pemerintah tidak boleh dibelokkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” katanya. Ia juga menyarankan agar pemerintah dan aparat penegak hukum meningkatkan kapasitas mereka dalam memilah informasi yang muncul di media sosial.

Meskipun tidak semua gerakan kritis di media sosial ditunggangi, tetapi tidak semua juga murni. Oleh karena itu, Haryo menyarankan adanya edukasi kepada masyarakat melalui kolaborasi antara pemerintah, aparat hukum, dan pihak terkait lainnya. Termasuk juga para pemilik platform dan perwakilan netizen.

Selain itu, ia menekankan pentingnya meningkatkan kualitas dan jangkauan komunikasi publik. “Komunikasi yang buruk hanya akan memperbesar ruang bagi pihak tidak bertanggung jawab untuk melakukan fabrikasi informasi,” ujarnya. Upaya ini juga harus melibatkan perwakilan platform global yang ada di Indonesia, agar konten radikalisme dapat ditindak tegas tanpa mengabaikan kebebasan berekspresi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini