BI Waspadai El Nino Oktober 2026, Fokus Jaga Pasokan Pangan dan Inflasi

0
12
BI Waspadai El Nino Oktober 2026, Fokus Jaga Pasokan Pangan dan Inflasi
Anak petani memperlihatkan tanaman padi yang mati akibat kekeringan di area persawahan, Aceh Besar, Aceh, Rabu (5/8/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/nym)

Fenomena El Nino yang menyebabkan kenaikan suhu muka laut di Samudra Pasifik diprediksi menguat pada Oktober 2026. Bank Indonesia (BI) menyoroti potensi dampaknya terhadap pasokan pangan nasional dan inflasi.

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juli 2026 tercatat 2,88% secara year on year (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai 3,34% (yoy). Penjagaan ini didukung oleh inflasi inti yang stabil di angka 2,76% (yoy) berkat konsistensi kebijakan BI. Sementara itu, inflasi kelompok administered prices (AP) mencapai 3,58% (yoy) akibat penyesuaian harga BBM nonsubsidi Pertamax. Kelompok volatile food (VF) mengalami perlambatan inflasi menjadi 2,52% (yoy), dipengaruhi oleh panen komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang merah.

Ke depan, BI berkomitmen memperkuat bauran kebijakan moneter untuk menjaga inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027. Bank sentral juga akan menstabilkan nilai tukar rupiah untuk memitigasi dampak imported inflation dari global. Sinergi dengan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/TPID) akan terus diperkuat melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) untuk mengendalikan inflasi pangan, termasuk antisipasi risiko gangguan cuaca akibat El Nino.

“Kita harus waspada di ke depan, ini terutama perlu mewaspadai risiko dari El Nino, ini El Nino diperkirakan akan lebih kuat hingga bulan Oktober 2026 di kawasan Indonesia Timur, serta tekanan biaya produksi,” ujar Deputi Gubernur BI Ricky Perdana Gozali dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan Agustus 2026 secara virtual, Rabu (19/8/2026).

Ricky menjelaskan, pengendalian inflasi di daerah akan dilakukan secara terukur dan berorientasi ke depan, dengan perhatian khusus pada rantai pasok komoditas yang rentan terhadap El Nino. “Khusus untuk El Nino ini, kita akan fokus pada komoditas beras, cabai, dan bawang merah,” tuturnya.

BI memperkuat koordinasi antara TPIP dan TPID untuk meredam dampak El Nino. Upaya pengendalian inflasi berfokus pada menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi bahan pangan. “Strategi pengendalian inflasi akan tetap fokus pada ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi. Kami akan melakukan digital farming, terus pertanian yang presisi, penguatan pasca panen dan hilirisasi pangan,” terang Ricky.

Lebih lanjut, BI akan memperkuat kerja sama antar daerah (KAD) melalui skema business-to-business (B2B), subsidi ongkos angkut, hingga gerakan pasar murah. Langkah-langkah ini diterapkan dengan prinsip tepat komoditas, tepat lokasi, dan tepat waktu.

Tekanan Inflasi Akibat El Nino

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, mengungkapkan bahwa fenomena El Nino dan musim kemarau diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus dan September 2026, sesuai laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kondisi ini berpotensi menimbulkan tekanan inflasi sepanjang periode tersebut, terutama akibat pengurangan pasokan hasil hortikultura di daerah produsen karena musim kemarau yang meluas, serta tekanan harga beras yang berkelanjutan. “Walaupun inflasi cenderung turun di Juli 2026, tekanan inflasi dapat meningkat di beberapa bulan mendatang seiring dengan makin intensifnya dampak fenomena El Nino,” ungkapnya, Selasa (18/8/2026).

Sebelumnya, Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, menekankan pentingnya mitigasi dampak El Nino terhadap kinerja sektor pangan nasional pada paruh kedua 2026. Hal ini menyusul prakiraan BMKG mengenai potensi kuat fenomena El Nino pada Agustus hingga Oktober.

“Ada potensi terjadi penurunan produksi di beberapa komoditas (pangan),” kata Andreas dalam diskusi daring Center of Reform on Economics (Core) Indonesia di Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Meskipun Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada delapan komoditas pangan dalam setahun terakhir, Andreas menyoroti komoditas beras dan jagung sebagai yang perlu diwaspadai dampaknya oleh El Nino. “Kita berhadapan dengan situasi yang kurang menguntungkan, yaitu fenomena El Nino, sedangkan tahun 2025, kita memang diberkahi fenomena iklim yang menguntungkan untuk pertanian yang kita sebut sebagai La Nina, sehingga kita bisa menanam sepanjang tahun,” jelasnya.

Andreas memprediksi penurunan produksi padi dan jagung akibat cuaca panas ekstrem. “Menurut saya terjadi penurunan produksi kira-kira sekitar 3-5% untuk padi. Selain itu, jagung kemungkinan akan menurun, karena jagung juga perlu air,” katanya.

Ia menambahkan, petani biasanya menanam jagung pada musim kedua setelah padi. Namun, jika pasokan air tidak mencukupi, petani mungkin akan beralih ke tanaman lain yang berumur lebih pendek dan tidak membutuhkan banyak air.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini