Menlu Iran: Ancaman Ekonomi Trump Justru Merugikan AS

0
6
Menlu Iran: Ancaman Ekonomi Trump Justru Merugikan AS
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. (Foto: AP/ Dmitri Lovetsky)

JAKARTA – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan ekonomi Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang disebut sebagai operasi “Hari-H Ekonomi” (Economic D-Day). Araghchi berpendapat bahwa strategi gertakan tersebut tidak akan efektif dan justru akan memperpanjang kekalahan AS serta meningkatkan kebencian rakyat Iran terhadap negara tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi melalui akun media sosial X miliknya. Ia menilai bahwa sanksi dan isolasi skala besar yang diusung Washington hanyalah taktik pengalihan isu dari krisis internal Amerika Serikat, termasuk pembengkakan utang dan lonjakan biaya bunga.

“Strategi yang dinamai ‘Hari-H Ekonomi’ ini sebetulnya cuma pengalihan perhatian dari krisis internal Amerika Serikat sendiri, yakni pembengkakan utang yang rekor serta lonjakan biaya bunga yang kian tak terkendali,” tegas Araghchi.

Araghchi memperingatkan bahwa pemaksaan kebijakan sanksi yang berulang kali gagal hanya akan memicu perlawanan yang lebih kuat. Ia juga mengecam taktik yang disebutnya sebagai “terorisme ekonomi” AS karena dianggap mengancam stabilitas perekonomian global dan merusak kedaulatan negara lain.

Reaksi keras Iran ini dipicu oleh pengumuman Donald Trump pada Rabu (19/8/2026). Trump mengumumkan peluncuran operasi ekonomi yang diklaim paling menghancurkan dalam sejarah untuk memutus total akses keuangan dan jaringan perdagangan internasional Iran. Trump bahkan mengancam negara-negara yang memberikan bantuan ekonomi kepada Iran akan menghadapi sanksi ekonomi berat.

Ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat seiring penerapan strategi tekanan maksimum (maximum pressure) jilid baru oleh pemerintah AS. Hubungan kedua negara membeku sejak AS menarik diri dari kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2018 dan kembali menjatuhkan sanksi ekonomi berlapis.

Meskipun sanksi tersebut dirancang untuk memutus pendapatan minyak dan mengisolasi Iran dari sistem perbankan global (SWIFT), Teheran terbukti mampu bertahan melalui kemitraan perdagangan alternatif dengan negara-negara sekutu di Asia dan Timur Tengah.

Pengumuman kampanye “Hari-H Ekonomi” oleh Trump menandai babak baru eskalasi sanksi yang kini menargetkan mekanisme secondary sanctions (sanksi sekunder). Langkah agresif ini berisiko memperuncing ketegangan geopolitik global, mengingat ancaman AS juga menyasar negara-negara ketiga yang masih menjalin hubungan dagang dengan Iran.

Sebaliknya, Iran menegaskan pihaknya akan terus merespons setiap tekanan ekonomi dengan meningkatkan ketahanan domestik serta memperkuat kerja sama dengan negara-negara non-Barat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini