
WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sebelumnya dikenal dengan pernyataannya “Saya adalah orang emas”, kini menunjukkan minat pada aset digital. Pada Maret 2026, Trump mengukuhkan orientasi finansialnya pada emas melalui penerbitan koin emas bergambar wajahnya. Namun, lima bulan kemudian, ia menggelar pertemuan di Gedung Putih dengan para pemimpin industri kripto, termasuk perwakilan dari Coinbase, Payward, dan Blockchain.com.
Langkah ini menempatkan Trump sebagai figur sentral yang berpotensi memengaruhi pergerakan harga Bitcoin pada tahun 2026. Bagi para pengamat, tidak ada kontradiksi antara dukungannya terhadap emas dan Bitcoin. Emas telah lama menjadi benteng kekayaan selama lebih dari 5.000 tahun karena kelangkaannya, daya tahan, dan independensinya dari kebijakan moneter pemerintah. Bitcoin memiliki karakteristik serupa: langka, efisien dalam transaksi, dan memiliki batas pasokan absolut yang tidak dapat ditandingi oleh sumber daya alam mana pun.
Visi kebijakan Trump dinilai konsisten dalam mendukung aset yang tidak mudah terdevaluasi oleh kebijakan moneter. Jika Amerika Serikat mengombinasikan cadangan emas resminya yang mencapai 8.133 ton dengan program akumulasi Bitcoin strategis, negara tersebut akan menjadi pemegang cadangan dua aset langka terbesar di dunia. Strategi ini memposisikan AS di persimpangan antara sistem keuangan tradisional atau old money dan sistem keuangan digital atau new money.
Pernyataan Trump di Gedung Putih
Dalam pertemuan dengan para pemimpin industri kripto pada 19 Agustus 2026, Trump mendesak Kongres AS untuk segera mengesahkan versi final dari Rancangan Undang-Undang CLARITY (CLARITY Act) sebelum batas waktu 15 September. Ketika ditanya mengenai rencana pembelian Bitcoin tambahan untuk cadangan strategis negara, Trump mengonfirmasi bahwa gagasan tersebut sedang dalam pembahasan internal.
Ia juga mengungkapkan bahwa Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi AS (CFTC) tengah menyiapkan kerangka regulasi bagi bursa derivatif terdesentralisasi seperti Hyperliquid agar dapat beroperasi secara resmi di Amerika Serikat. Saat ini, Pemerintah AS telah menguasai sekitar 328.000 BTC yang diperoleh dari hasil penyitaan penegakan hukum, termasuk kasus Silk Road dan peretasan Bitfinex. Menyusul perintah eksekutif pada Maret 2025 yang membentuk Cadangan Strategis Bitcoin (Strategic Bitcoin Reserve) dan menghentikan lelang Bitcoin milik negara, opsi penambahan cadangan kini terbuka melalui pembelian aktif, bukan hanya penyitaan.
Respon Pasar Emas dan Bitcoin
Pengumuman dan sinyal kebijakan dari Gedung Putih memberikan stimulus signifikan pada lonjakan harga kedua instrumen investasi tersebut. Emas diperdagangkan di kisaran US$ 4.489 per ons, melonjak 66% dibandingkan posisi US$ 2.697 pada hari pelantikan Presiden Trump di Januari 2025. Sebelumnya, emas sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 5.589 per ons pada 28 Januari 2026, dipicu oleh ketegangan geopolitik dan pelemahan dolar AS.
Sementara itu, Bitcoin melonjak ke level US$ 71.500, naik tajam dari posisi di bawah US$65.000 hanya dalam kurun waktu empat hari. Kenaikan ini didorong oleh aksi short squeeze terbesar sejak Oktober 2025 yang melikuidasi posisi bearish senilai US$ 1,74 miliar dalam 24 jam, menurut data CoinGlass. Meskipun demikian, harga Bitcoin masih berada 43% di bawah rekor tertingginya di level US$ 126.000 yang dicapai pada Oktober 2025.
Kedua aset ini merespons dorongan fundamental yang sama: kepemimpinan politik yang berfokus pada hard assets, langkah Kementerian Keuangan AS yang menekan imbal hasil obligasi, serta kepastian regulasi aset digital yang kini menjadi prioritas nasional. Sejak berakhirnya sistem Bretton Woods pada 1971, mata uang dolar AS tidak lagi dijamin secara langsung oleh emas fisik. Namun, AS tetap mempertahankan cadangan emas terbesar di dunia sebagai instrumen kepercayaan dan stabilitas moneter jangka panjang.
Seiring pesatnya perkembangan teknologi finansial dan adopsi aset digital global, muncul urgensi baru bagi negara-negara maju untuk mengamankan infrastruktur keuangan masa depan. Gagasan mengenai Cadangan Strategis Bitcoin (Strategic Bitcoin Reserve) menandai pergeseran paradigma dalam pengelolaan kas negara. Bitcoin, yang sering dijuluki sebagai emas digital, menawarkan sifat kelangkaan matematis (hard cap 21 juta koin) yang menjadikannya aset lindung nilai terhadap inflasi moneter. Integrasi aset kripto ke dalam neraca keuangan negara, bersanding dengan cadangan emas konvensional, menjadi strategi ganda AS untuk mempertahankan dominasi finansial global di tengah era digitalisasi aset.