Pada sesi I perdagangan Jumat (21/8/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan signifikan sebesar 33,9 poin atau 0,52%, mencapai level 6.535.
Analis dari Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan bahwa penguatan IHSG ini didorong oleh pergerakan positif bursa regional Asia. Pelaku pasar merespons positif rilis data ekonomi Jepang dan juga menantikan hasil pertemuan komite China.
Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur S&P Global Jepang tercatat meningkat menjadi 55,1 pada Agustus 2026, naik dari 54,5 pada bulan sebelumnya. Angka ini menandai ekspansi aktivitas pabrik selama delapan bulan berturut-turut, dengan pertumbuhan terkuat di sektor manufaktur sejak April. Perusahaan melaporkan peningkatan tercepat dalam pesanan baru sejak Januari 2018, sementara penjualan luar negeri juga tumbuh dengan laju tercepat sejak awal 2018.
Perhatian pasar juga tertuju pada kekuatan ekonomi China. Pelaku pasar menantikan pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional China di Beijing yang dijadwalkan pada 25-28 Agustus. Ada harapan bahwa pertemuan ini akan memberikan panduan kebijakan tambahan, terutama setelah serangkaian data ekonomi China untuk bulan Juli yang dilaporkan cenderung lemah.
Di sisi lain, volatilitas di Wall Street turut dicermati. Serangkaian keputusan dari Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) menggarisbawahi kekhawatiran yang meningkat terkait imbal hasil jangka panjang yang tinggi. Biaya pembiayaan pemerintah yang tinggi berpotensi berdampak luas pada perekonomian dan membebani pasar saham, menyusul tren inflasi dan pengeluaran pemerintah yang tinggi selama bertahun-tahun.
Harga minyak juga terpantau memperpanjang kenaikannya. Hal ini terjadi seiring AS bersiap memberlakukan sanksi ekonomi baru yang luas terhadap Iran. Kenaikan harga minyak terjadi di tengah konflik AS-Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, terutama terkait perselisihan atas Selat Hormuz.
AS berupaya mengisolasi ekonomi Iran melalui langkah-langkah yang dirancang untuk memutus Teheran dari saluran keuangan dan komersial internasional, termasuk sektor perbankan, bisnis, pendaftaran kapal, transfer uang tunai, dan jaringan penyelundupan. Washington bertujuan meningkatkan tekanan ekonomi untuk mendorong Teheran ke meja negosiasi terkait program nuklir dan kontrol atas Selat Hormuz.
Dari dalam negeri, Pilarmas menjelaskan bahwa Bank Indonesia (BI) melaporkan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II 2026 tetap terjaga. NPI pada periode tersebut mencatat defisit sebesar 0,9 miliar dolar AS, jauh lebih kecil dibandingkan defisit 9,1 miliar dolar AS pada triwulan I 2026, di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menghapus harga minimum Rp 50. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan likuiditas dan efisiensi pasar, serta menghilangkan hambatan yang dianggap mendistorsi perdagangan saham berharga rendah. Aturan yang diberlakukan lebih dari satu dekade lalu ini dikeluhkan investor karena dinilai mendistorsi pasar saham bernilai rendah. Penghapusan harga minimum diharapkan dapat membuat harga lebih mencerminkan penawaran dan permintaan, sejalan dengan upaya regulasi untuk memperkuat likuiditas pasar ekuitas. Namun, kebijakan ini berpotensi meningkatkan risiko spekulasi pada saham-saham berharga rendah.
Pada sesi pertama hari ini, saham-saham yang mengalami kenaikan terbesar antara lain CSMI, ALKA, PIPA, ELIT, dan STRK. Sementara itu, saham-saham yang mengalami penurunan terbesar adalah SONA, BAJA, WMPP, TCPI, dan HATM.
Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan beli untuk saham CUAN dengan level support 770 dan resistance 920.
