Thursday, April 18, 2024
WisataMengenal Blengep Cotot, Makanan Khas Indramayu yang Disukai Bupati Nina

Mengenal Blengep Cotot, Makanan Khas Indramayu yang Disukai Bupati Nina

Reformasi.co.id – Pada Pembukaan Turnamen Futsal Bupati Cup 2023, Bupati Nina Agustina dihadiahi blengep. Tidak tanggung-tanggung orang nomor satu di Indramayu ini diberi satu besek besar blengep cotot.

“Wah terima kasih untuk blengepnya. Ini enak banget dan ini makanan kesukaan saya,” ungkap Bupati Nina, pada Selasa (24/1).

Bupati bersama unsur Forkopimda yang hadir pada kegiatan tersebut diberi blengep oleh Masniah (69). Wanita asal Desa Lohbener, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu, ini memang dikenal sebagai pembuat blengep yang legendaris.

Apa itu Blengep Cotot?

Secara etimologi, konon menurut penuturan orang sejak zaman dahulu, blengep berasal dari dua ujaran, yakni “bleng” dan “lep”.

“Bleng” memiliki arti yang nyaris sama dengan menguntal. Sementara “lep” merupakan ujaran Bahasa Indramayu yang mirip dengan “hap” atau “nyam-nyam” yang menjadi pertanda sebuah makanan masuk ke mulut.

Tapi apakah etimologi itu benar adanya? Tidak ada yang tahu persis. Hanya saja, banyak orang yang sepakat dengan Bupati Nina bahwa blengep memang enak.

Blengep merupakan makanan yang terbuat dari singkong yang direbus kemudian ditumbuk halus. Percaya atau tidak, penumbukan ini tidak boleh dengan mesin. Karena teksturnya terlalu halus dan membuat blengep jadi tidak enak.

Penumbukan tersebut harus dilakukan secara manual di lumpang dengan memakai alu. Prosesnya memang memakan waktu, tapi disitulah, kata banyak orang, yang membuat blengep menjadi enak.

Blengep yang setengah matang lalu dibulat-bulat. Bulatan ini kemudian diisi dengan gula merah. Jika proses ini sudah selesai, blengep yang belum matang tadi dikukus.

Kalau proses pengukusan sudah selesai, Anda bakal mendapati blengep yang sudah jadi. Tandanya jika digigit, maka gula merah didalamnya sudah mencair.

Gula merah yang mencair ini menjadi etimologi lagi dari nama tambahan blengep yakni “blengep cotot”. Cotot merupakan bahasa Indramayu yang berarti proses keluarnya cairan dari dalam.

Sentra pembuatan blengep di Kabupaten Indramayu memang tidak terpusat di satu daerah. Namun Desa Lohbener atau Celeng, dimana Masniah berasal, memang dikenal sebagai daerah penghasil blengep.

Untuk mendapatkan blengep juga tidak mudah. Anda harus bangun pagi-pagi dan berangkat ke pasar. Karena kalau kesiangan sedikit saja, Anda bakal kehabisan blengep.

Ini memang keunikan blengep. Ia semacam makanan “endemik” yang hanya bisa dinikmati di tempat pembuatannya. Sebab makanan ini tidak awet, sehingga tidak bisa menjadi oleh-oleh.

Blengep hanya bertahan paling lama 4-5 jam. Setelah itu singkongnya asam dan mulai basi.

Penasaran dengan blengep? Yuk, ke pasar tradisional di Indramayu setelah subuh. Anda bakal mendapati penjualnya, lengkap dengan setumpuk blengep yang menggoda selera.

Ikuti berita dan informasi terbaru Reformasi.co.id di Google News.

PenulisFaridah

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terkini