
WASHINGTON – Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent optimistis defisit anggaran pemerintah AS di bawah kepemimpinan Presiden AS Donald Trump kemungkinan besar telah mencapai puncaknya. Pernyataan ini disampaikan setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan langkah pembelian kembali utang.
“Kami akan sangat fokus pada hal ini,” ujar Bessent pada Jumat (21/8/2026), sebagaimana dikutip CNBC Internasional. Langkah ini diambil setelah Departemen Keuangan merilis data defisit anggaran bulanan AS yang melesat hingga US$ 432 miliar (sekitar Rp 7.665,3 triliun) pada Juli 2026, angka tertinggi dalam lebih dari setengah dekade terakhir.
Secara kumulatif, total defisit untuk tahun fiskal berjalan telah membengkak mendekati US$ 1,8 triliun, melebihi posisi pada periode yang sama tahun sebelumnya. Total utang pemerintah AS untuk membiayai defisit tersebut juga mencatat rekor baru di atas US$ 40 triliun. Angka ini melonjak lebih dari dua kali lipat dalam satu dekade terakhir, memicu kekhawatiran mendalam terkait kesehatan finansial negara berdaya saing ekonomi terbesar di dunia itu.
Bessent mengungkapkan dirinya bersama Presiden Trump dan Direktur Kantor Manajemen dan Anggaran (OMB) Russell Vought tengah merancang langkah-langkah konsolidasi fiskal. Ia mengklaim strategi penghematan ini berpotensi menyelamatkan anggaran negara hingga ratusan miliar dolar AS.
Sebelumnya, Gedung Putih mengandalkan kebijakan tarif impor yang luas dan tinggi terhadap negara mitra dagang sebagai pendorong pendapatan untuk menekan utang nasional. Namun, kebijakan penarikan tarif tersebut kerap menemui hambatan hukum, termasuk keputusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan sebagian besar di antaranya.
Meskipun demikian, Bessent optimistis penerimaan negara dari tarif impor tahun ini tetap dapat mencapai tingkat yang setara dengan 2025, menyulut kembali penerapan tarif setelah mengatasi berbagai kendala legal. Ia meyakini pendapatan tersebut tidak perlu dikembalikan kepada perusahaan-perusahaan terimbas.
“Tidak ada hal gaib dari angka US$ 40 triliun tersebut. Kita bisa keluar dari masalah utang ini melalui pertumbuhan ekonomi,” pungkas Bessent. Pembengkakan utang dan defisit anggaran AS telah menjadi isu krusial dalam lanskap politik serta ekonomi global selama beberapa tahun terakhir. Kombinasi antara pemotongan pajak skala besar, lonjakan belanja negara pascapandemi, serta naiknya suku bunga acuan membuat biaya pembayaran bunga utang pemerintah AS melonjak tajam.
Upaya pemerintahan Donald Trump untuk menutupi defisit lewat pengetatan tarif impor terus menuai penolakan dari pelaku usaha dan pengujian di meja hijau. Kondisi ini menuntut penyesuaian strategi fiskal yang lebih terukur, mengingat lonjakan utang di atas US$ 40 triliun tidak hanya mengancam stabilitas nilai tukar dolar, tetapi juga membahayakan peringkat kredit negara di mata lembaga pemeringkat internasional.