Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan melanjutkan tren penguatannya pada perdagangan Jumat, 21 Agustus 2026. Meskipun bursa Wall Street ditutup melemah, kenaikan harga komoditas dan aksi beli investor asing berpeluang memberikan sentimen positif bagi pergerakan IHSG.
Menurut analisis CGS International Sekuritas Indonesia, IHSG diperkirakan akan bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat. Kisaran level support berada di 6.440-6.380, sementara level resist diprediksi berada di 6.560-6.625.
Perdagangan kemarin di bursa Wall Street ditutup melemah. Hal ini dipicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat seiring rencana Kementerian Keuangan AS untuk menggandakan jumlah pembelian kembali (buyback) obligasi. Kenaikan harga minyak mentah juga turut berkontribusi pada sentimen negatif tersebut, yang dipicu oleh memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS dengan tenor 10 tahun terpantau naik 5 basis poin menjadi 4,704%. Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor 30 tahun juga naik 5 basis poin ke level 5,248%. Kenaikan ini terjadi sebelum Kementerian Keuangan AS mengumumkan rencana pembelian kembali obligasi.
Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Donald Trump dan Bessent mengumumkan rencana pemberian sanksi ekonomi yang lebih berat terhadap Iran. Ancaman ini berdampak pada harga minyak mentah, di mana jenis WTI melonjak 3% menjadi US$ 86,83 per barel, dan Brent naik lebih dari 2% ke level US$ 93,78 per barel.
Untuk perdagangan Jumat (21/8/2026), CGS International Sekuritas Indonesia merekomendasikan enam saham untuk diperdagangkan, yaitu UNVR, INCO, KLBF, TAPG, SIMP, dan HRUM. Saham-saham ini dinilai berpotensi memberikan keuntungan bagi investor.
