Pasar aset kripto kembali menunjukkan geliatnya. Bitcoin (BTC) mencatatkan lonjakan mingguan sekitar 20% pada Jumat (21/8/2026), didorong oleh serangkaian sentimen positif yang memberikan angin segar bagi mata uang kripto terbesar di dunia tersebut. Data perdagangan menunjukkan harga Bitcoin menguat ke level US$ 75.343,01, sebuah lompatan signifikan dari posisi awal pekan di angka US$ 62.836,88.
Kenaikan impresif ini turut berimbas pada saham-saham yang terafiliasi dengan kripto. Saham Coinbase dan Circle masing-masing ditutup menguat 7,5% dan 6,45% pada perdagangan Kamis (20/8/2026), sementara MicroStrategy melesat 7,8%. Reksa dana ProShares Bitcoin Strategy ETF juga mencatat kenaikan 5,5% dalam perdagangan pra-pasar.
Intervensi Obligasi dan Short Squeeze Picu Reli
Gairah di pasar kripto mulai terdeteksi sejak Rabu (19/8/2026), seiring dengan penurunan tajam imbal hasil (yield) Obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS). Penurunan ini terjadi setelah adanya intervensi tak terduga dari Kementerian Keuangan AS di pasar obligasi, yang berhasil meredakan tekanan pada aset-aset berisiko.
Kondisi tersebut memicu gelombang aksi beli yang meluas di pasar kripto. Pergerakan harga semakin tak terbendung oleh fenomena short squeeze besar-besaran. Data dari CoinGlass mencatat sekitar US$ 2,7 miliar posisi short (taruhan atas penurunan harga) di pasar kripto terpaksa dilikuidasi.
Max Stuedlein, Head of Partnerships Sygnum APAC, menilai lonjakan harga Bitcoin kali ini merupakan perpaduan antara faktor makroekonomi dan katalis kebijakan. “Keputusan Kementerian Keuangan AS untuk melipatgandakan pembelian kembali (buyback) utang pemerintah jangka panjang bertujuan mengatasi kekhawatiran terkait yield jangka panjang. Selama ini, biaya pinjaman terus membengkak akibat kecemasan terhadap lonjakan utang AS serta efek desakan (crowding out) dari penerbitan utang perusahaan-perusahaan teknologi (hyperscalers),” jelas Stuedlein.
RUU Clarity Act Bawa Sentimen Positif
Sentimen investor semakin menguat pada Kamis, terutama dipicu oleh upaya menit-menit terakhir dari Gedung Putih dan para pemimpin industri kripto untuk meloloskan RUU Clarity Act dalam beberapa pekan ke depan. RUU ini dipandang sebagai pendorong utama yang mampu membawa pasar keluar dari fase crypto winter yang telah berlangsung sejak musim gugur tahun lalu. Meskipun demikian, beberapa pengamat menilai peluang pengesahan RUU tersebut masih tergolong tipis.
Meskipun mencatatkan reli yang cukup tajam pekan ini, harga Bitcoin saat ini masih berada di bawah rekor tertinggi 2026 yang sempat menyentuh US$ 94.820 pada pertengahan Januari. Angka ini juga masih di bawah rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) sebesar US$ 126.198 yang diraih pada 6 Oktober 2026.
Aset kripto telah mengalami dinamika harga yang sangat fluktuatif sepanjang setahun terakhir. Setelah berhasil menembus rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) di level US$ 126.198 pada 6 Oktober 2025, pasar kripto secara perlahan memasuki fase penurunan atau crypto winter akibat ketidakpastian ekonomi global dan pergeseran kebijakan moneter.
Awal 2026 sempat memberikan harapan baru ketika Bitcoin merangkak naik hingga menyentuh angka US$ 94.820 pada pertengahan Januari 2026. Namun, ketegangan regulasi serta tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS kembali menekan pasar hingga harga Bitcoin merosot ke kisaran US$ 62.000 di awal pekan ini.
Lonjakan harga pekan ini menjadi sinyal penting apakah pasar kripto benar-benar siap bangkit secara berkelanjutan atau sekadar mengalami pemulihan sementara.
